Wanita Bekerja: Pengertian, Manfaat, Hukum Dalam Islam

1638
hukum-wanita-bekerja-dalam-islam

Wanita Bekerja Dalam Islam, Maka Penghasilannya Bukan Hak Suami.

Syariat Islam sangat adil, meletakkan sesuatu sesuai dengan kapasitas dan kedudukannya.

Seorang laki-laki yang dikaruniai fisik yang kuat maka dibebankan atasnya tanggung jawab menafkahi keluarga, dia dijadikan sebagai kepala keluarga yang bertugas mengurus segala urusan di luar rumah.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

hadits-tentang-hak-dan-kewajiban-wanita

Adapun seorang wanita, Allah Subhanahu Wa Ta’ala karuniakan kepadanya kasih sayang dan kelemah-lembutan.

Sehingga sangat cocok untuk mengurus rumah tangga, mendidik anak, fokus mengurusi segala urusan di dalam rumah.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

kewajiban-perempuan-menurut-islam

Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini ia berkata,

Hendaklah kalian (para istri) menetap di dalam rumah kalian, dan janganlah keluar kecuali ada kebutuhan. Dan diantara kebutuhan yang syar’i adalah keluar rumah untuk shalat di masjid dengan memenuhi syaratsyaratnya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/363).

Namun kehidupan berumah tangga terkadang tidak sesuai dengan harapan, tidak selalu ideal.

Sering dijumpai seorang istri harus ikut bekerja membantu suaminya demi mencukupi ekonomi keluarga.

Pengertian Bekerja Dalam Islam

Bekerja didalam Islam merupakan sebuah usaha yang dilakukan dengan serius dengan cara mengerahkan semua pikiran, aset dan juga dzikir.

Untuk memperlihatkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menaklukkan dunia dan memposisikan dirinya menjadi bagian masyarakat paling baik (Khairu Ummah).

Bekerja menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis serta sosial.

Dengan jalan bekerja, maka manusia bisa mendapatkan banyak kepuasan yang meliputi kebutuhan fisik, rasa tenang dan aman, kebutuhan sosial dan kebutuhan ego masing-masing.

Sedangkan kepuasan didalam bekerja juga bisa dinikmati saat selesai bekerja seperti liburan, menghidupi diri sendiri dan juga keluarga.

Sebagai bukti pengabdian serta rasa syukur dalam memenuhi panggilan Illahi Jika dilihat secara hakiki, maka hukum bekerja didalam Islam adalah wajib dan ibadah.

Baca Juga:  Masa Iddah: Pengertian, Macam, Tujuan Dan Hikmah

Supaya bisa menjadi yang terbaik sebab bumi sendiri diciptakan sebagai ujian untuk mereka yang memiliki etos paling baik.

hak-dan-kewajiban-wanita-dalam-islam

Manfaat Bekerja Bagi Wanita

Bagaimana pun juga, kerja mempunyai manfaat positif baik bagi sang ibu maupun bagi keluarga.

Beberapa segi positif wanita bekerja adalah :

  1. Mendukung Ekonomi Rumah Tangga

    Dengan bekerja nya sang ibu, berarti sumber pemasukan keluarga tidak hanya satu, melainkan dua.

    Dengan demikian, pasangan tersebut dapat mengupayakan kualitas hidup yang lebih baik untuk keluarga, seperti dalam hal: gizi, pendidikan, tempat tinggal, sandang, liburan dan hiburan, serta fasilitas kesehatan

  2. Meningkatnya Harga Diri Dan Pemantapan Identitas

    Bekerja, memungkinkan seorang wanita mengekspresikan dirinya sendiri, dengan cara yang kreatif dan produktif.

    Untuk menghasilkan sesuatu yang mendatangkan kebanggaan terhadap diri sendiri, terutama jika prestasinya tersebut mendapatkan penghargaan dan umpan balik yang positif.

    Melalui bekerja, wanita berusaha menemukan arti dan identitas dirinya; dan pencapaian tersebut mendatangkan rasa percaya diri dan kebahagiaan.

  1. Relasi Yang Sehat Dan Positif Dengan Keluarga

    Wanita yang bekerja, cenderung mempunyai ruang lingkup yang lebih luas dan bervariasi, sehingga cenderung mempunyai pola pikir yang lebih terbuka, lebih energik, mempunyai wawasan yang luas dan lebih dinamis.

    Dengan demikian, keberadaan istri bisa menjadi partner bagi suami, untuk menjadi teman bertukar pikiran, serta saling membagi harapan, pandangan dan tanggung jawab.

  1. Pemenuhan Kebutuhan Sosial

    Setiap manusia, termasuk para ibu, mempunyai kebutuhan untuk menjalin relasi sosial dengan orang lain.

    Dengan bekerja, seorang wanita juga dapat memenuhi kebutuhan akan “kebersamaan” dan untuk menjadi bagian dari suatu komunitas.

    Bagaimana pun juga, sosialisasi penting bagi setiap orang untuk mempunyai wawasan dan cara berpikir yang luas, untuk meningkatkan kemampuan empati dan kepekaan sosial.

    Dan yang terpenting, untuk dapat menjadi tempat pengalihan energi secara positif, dari berbagai masalah yang menimbulkan tekanan atau stress.

    Entah masalah yang sedang dialami dengan suami, anak-anak maupun dalam pekerjaan.

    Dengan sejenak bertemu dengan rekan-rekan, mereka dapat saling sharing, berbagi perasaan, pandangan dan solusi.

  1. Peningkatan Skill Dan Kompetensi

    Dengan bekerja, maka seorang wanita harus bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan, baik tuntutan tanggung jawab maupun tuntutan skill dan kompetensi.

    Untuk itu, seorang wanita dituntut untuk secara kreatif menemukan segi-segi yang bisa dikembangkan demi kemajuan dirinya.

    Peningkatan skill dan kompetensi yang terus menerus akan mendatangkan “nilai lebih” pada dirinya sebagai seorang karyawan, selain rasa percaya diri yang mantap.

Hukum Wanita Bekerja Dalam Islam

Dalam Islam memang kewajiban untuk mencari nafkah (bekerja) adalah tanggung jawab suami namun juga tidak ada larangan istri untuk bekerja.

Tapi saat wanita akan bekerja ada syarat syarat yang harus dipenuhi untuk menjaga kehormatan diri dan keluarganya.

Syaikh Abdul Aziz Bin Baz mengatakan: “Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bisnis, karena Alloh jalla wa’ala mensyariatkan dan memerintahkan hambanya untuk bekerja”.

Sesuai dengan Firman Allah SWT

kedudukan-wanita-dalam-islam

Perintah ini mencakup pria dan wanita.

Tak hanya untuk bekerja Allah juga mensyariatkan pada semua hambanya untuk berbisnis.

Karena setiap manusia baik pria atau wanita diperintahkan untuk berikhtiar dan bekerja.

Sesuai dengan firman Allah:

hakikat-perempuan-dalam-islam

Perintah ini berlaku umum, baik pria maupun wanita.

Namun usaha baik lewat bekerja atau berbisnis harus sesuai kaidah dan memperhatikan pelaksanaannya agar bebas dari hal hal yang menyebabkan masalah kemungkaran.

Jika wanita bekerja hendaknya tidak melakukan ikhtilat (campur) dengan pria agar tidak menimbulkan fitnah.

Begitu pula dalam bisnisnya hendaknya wanita mampu menjaga diri, selalu berusaha memakai hijab syar’i, tertutup, dan menjauh dari sumber-sumber fitnah.

Bagaimana Aturan Islam Bila Wanita Bekerja Diluar Rumah?

Jika wanita mesti keluar rumah untuk bekerja, maka hal-hal berikut ini mesti diperhatikan:

Mendapatkan Izin Dari Walinya

Wali adalah kerabat seorang wanita yang mencakup sisi nasabiyah (garis keturunan, seperti dalam surat An Nuur ayat 31.

Sisi sababiyah (tali pernikahan, yaitu suami), sisi ulul arham (kerabat jauh, yaitu saudara laki-laki seibu dan paman kandung dari pihak ibu serta keturunan laki-laki dari keduanya).

Dan sisi pemimpin (yaitu hakim dalam pernikahan atau yang mempunyai wewenang seperti hakim).

Jika wanita tersebut sudah menikah, maka harus mendapat izin dari suaminya.

Wanita Bekerja Wajib Berpakaian Secara Syar’i

Syarat pakaian syar’i yaitu menutup seluruh tubuh selain bagian yang dikecualikan (wajah dan telapak tangan).

Tebal dan tidak transparan, longgar dan tidak ketat, tidak berwarna mencolok (yang menggoda), dan tidak memakai wewangian.

Aman Dari Fitnah

Yang dimaksud aman dari fitnah adalah wanita tersebut terjaga agamanya, kehormatannya, serta kesucian dirinya sejak menginjakkan kaki keluar rumah sampai kembali lagi ke rumah,.

Untuk menjaga hal-hal tersebut, Islam memerintahkan wanita yang keluar rumah untuk menghindari khalwat (berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram, tanpa ditemani mahramnya).

Menghindari ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan wanita tanpa dipisahkan oleh tabir), menjaga sikap dan tutur kata (tidak melembutkan suara, menundukkan pandangan, serta berjalan dengan sewajarnya, tidak berlenggak-lenggok).

Adanya mahram ketika melakukan safar

Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama mahramnya.

Penghasilan Istri Bukan Hak Suami

Penghasilan yang dimiliki istri dari usahanya sendiri, sejatinya itu adalah hak istri. Maka suami tidak memiliki hak sedikitpun kecuali atas kerelaan istri.

Meski wanita berstatus sebagai istri dan cenderung lemah, tidak berarti sang suami bisa seenaknya sendiri menikmati penghasilan istri begitu saja.

Syekh Abdullah Bin Abdur Rahman Al Jibrin pernah ditanya tentang hukum suami yang mengambil uang (harta) milik istrinya, untuk digabungkan dengan uangnya (suami).

Menjawab pertanyaan seperti ini, Syekh al Jibrin mengatakan, tidak disangsikan lagi, isteri lebih berhak dengan mahar dan harta yang ia miliki.

Baik melalui usaha yang ia lakukan, hibah, warisan, dan lain sebagainya. Itu merupakan hartanya, dan menjadi miliknya.

Istri berhak atas harta yang dimiliki dan melakukan apa saja atas hartanya, tanpa ada campur tangan pihak lainnya.

Sehinga jika suami mengambil hak harta istri maka hukumnya sama saja dengan mengambil hak harta kepunyaan orang lain.

Tidak boleh dimanfaatkan kecuali dengan keridaan dan kerelaannya. Jika ada kesepakatan dan kerelaan dari istri maka memakai hartanya diperbolehkan.

Sebagaimana firman Allah:

kajian-islam-tentang-wanita-muslimah

Ayat di atas, ditujukan kepada para suami, bukan kepada para wali wanita. Inilah pendapat yang shahih.

Idealnya, harus ada empati timbal-balik dan terjalin kasih sayang antara suami dan istri. Hubungan mesra mereka, sepantasnya tidak tergantung pada uang.

Karena, harga keutuhan rumah tangga tidak bisa diukur dengan uang. Agar rumah tangga tetap terjaga harus ada kerja sama dan saling mendukung antara suami istri.

Baca Juga:  Konsep Pacaran Islami Sebelum Menikah Dan Disekolah