Biografi Tokoh-Tokoh Pendiri NU, Lengkap dengan Kontribusinya

9099
Tokoh-Pendiri-NU-Nahdlatul-Ulama

Salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia adalah Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi yang dipimpin langsung oleh K.H Hasyim Asy’ari tersebut, didirikan pada masa penjajahan Belanda. Yakni, pada tanggal 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Selain Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari yang menjadi penggagas berdirinya organisasi tersebut, ada pula beberapa tokoh pendiri NU lainnya yang juga sama dari kalangan para Ulama.

Faktor-Faktor yang Melatarbelakangi Berdirinya NU

1. Kegelisahan Para Kyai Karena Pemahaman Agama Masyarakat masih kurang

Embrio lahirnya Nahdlatul Ulama berasal dari organisasi kecil yang bernama Taswirul Afkar, atau disebut dengan Nahdlatul Fikri.

Organisasi ini didirikan pada tahun 1918 oleh para kyai-kyai pesantren termasuk KH Wahab Hasbullah.

Lahirnya Taswirul Afkar didasari kegelisahan para kyai karena masyarakat pada saat itu pemahaman tentang islam masih terbelakang, pemikirannya masih tradisional.

Selain itu juga gencarnya para penjajah meyebarkan agama kristen-katolik di berbagai daerah, hingga mereka mengirimkan banyak misionaris juga menjadi alasan berdirinya organisasi ini

‘Kebangkitan Pemikiran’ arti dari Taswirul Afkar menjadi sebuah tempat para santri dan masyarakat untuk mengenyam pendidikan sosial, agama dan juga politik.

Taswirul Afkar berkembang dengan sangat pesat hingga banyak terdapat banyak cabang di berbagai daerah.

2. Semangat Cinta Tanah Air (Nasionalisme)

Nahdlatul Ulama lahir sebab niatan kokoh buat menyatukan para ulama serta tokoh- tokoh agama dalam melawan penjajahan.

Semangat nasionalisme itu juga nampak pula dari nama Nahdlatul Ulama itu sendiri ialah Kebangkitan Para Ulama.

NU yang dipimpin oleh Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asyari sangat nasionalis. Saat sebelum RI merdeka, para pemuda di bermacam wilayah mendirikan organisasi bertabiat kedaerahan, semacam Jong Cilebes, Pemuda Betawi, Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatera, serta sebagainya.

Tetapi, kiai- kiai NU malah mendirikan organisasi pemuda yang sifatnya nasionalis.

Tahun 1924, para pemuda pesantren mendirikan organisasi Syubbanul Wathon (Pemuda Tanah Air). Organisasi pemuda itu setelah itu jadi Ansor Nahdlatoel Oelama (ANO) yang salah satu tokohnya merupakan pemuda gagah, Muhammad Yusuf (KH. Meter. Yusuf Hasyim- Pak Ud).

Tidak cuma itu dari rahim Nahdlatul Ulama terlahir lasykar- lasykar perjuangan, di golongan pemudab lahir lasykar- lasykar Hizbullah (Tentara Allah) dengan panglimanya KH. Zainul Arifin seseorang pemuda kelahiran Barus Sumatra Utara 1909, serta di golongan orang tua Sabilillah ( Jalan menuju  Allah) yang di komandani oleh KH. Masykur.

Sejarah mencatat, walaupun bangsa Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945,  53 hari setelah itu NICA (Netherlands Indies Civil Administration) hampir mencaplok kedaulatan RI. Pada 25 Oktober 1945,   sekitar Enam ribu tentara Inggris datang di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Pasukan itu dipandu Brigadir Jenderal Mallaby, Panglima Brigade ke- 49 (India). Penjajah Belanda yang telah hengkang juga membonceng tentara sekutu itu.

Instan, Surabaya genting. Untung, saat sebelum NICA tiba, Soekarno pernah mengirim utusan menghadap Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ ari di Pesantren Tebuireng, Jombang.

Lewat utusannya, Soekarno bertanya kepada Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ ari:“ Apakah hukumnya membela tanah air? Bukan membela Allah, membela Islam, ataupun membela al- Quran. Sekali lagi, membela tanah air?”

Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ ari yang tadinya telah memiliki fatwa jihad kemerdekaan berperan kilat. Ia memerintahkan KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, serta para Kiyai lain buat mengumpulkan para Kiyai se- Jawa serta Madura.

Para Kiyai dari Jawa serta Madura itu lalu rapat di Kantor PB Ansor Nahdlatoel Oelama( ANO), Jalur Bubutan VI/ 2, Surabaya, dipandu Kiai Wahab Hasbullah pada 22 Oktober 1945.

Pada 23 Oktober 1945, Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ ari atas nama Pengurus Besar NU mendeklarasikan seruan jihad fi sabilillah, yang setelah itu diketahui dengan Resolusi Jihad.

Terdapat 3 poin berarti dalam Resolusi Jihad itu:

  1. Tiap muslim– tua, muda, serta miskin sekalipun- harus memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia.
  2. Pejuang yang mati dalam perang kemerdekaan layak diucap syuhada.
  3. Masyarakat Indonesia yang memihak penjajah dikira bagaikan pemecah belah persatuan nasional, hingga wajib dihukum mati.

Jadi, umat Islam harus hukumnya membela tanah air. Apalagi, haram hukumnya mundur kala kita berhadapan dengan penjajah dalam radius 94 kilometer (jarak ini disesuaikan dengan dibolehkannya Qashar Shalat). Di luar radius itu dikira fardhu kifayah (kewajiban kolektif, bukan fardhu‘ ain, kewajiban perorangan).

Fatwa jihad yang ditulis dengan huruf pegon itu setelah itu digelorakan Bung Tomo melalui radio. Keruan saja, masyarakat Surabaya serta warga Jawa Timur yang keberagamaannya kokoh serta kebanyakan NU merasa dibakar semangatnya. Ribuan Kiyai serta santri dari bermacam wilayah- seperti ditulis Meter. C. Ricklefs( 1991), mengalir ke Surabaya.

Meletuslah kejadian 10 November 1945 yang dikenang bagaikan hari pahlawan. Para Kiyai serta pendekar tua membentuk barisan pasukan non regular Sabilillah yang dikomandani oleh KH. Maskur.

Para santri serta pemuda berjuang dalam barisan pasukan Hizbullah yang dipandu oleh H. Zainul Arifin. Sedangkan para Kiyai sepuh terletak di barisan Mujahidin yang dipandu oleh KH. Wahab Hasbullah. Perang tidak terelakkan hingga kesimpulannya Brigadir Jenderal Mallaby tewas.

3. Semangat ingin membangkitkan ekonomi Ummat Islam

Dakwah kurang sempurna  tanpa di topang oleh perekonomian yang kuat. Ini menjadi alasan para kyai-kayai terdahulu mendirikan sebuah organisasi yang bernama Nahdlatut Tujjar, kebangkitan para pedagang.

4. Menjaga Ahlus Sunnah Waljamaah

Komite Hijaz merupakan kepanitian kecil yang di pimpin oleh mbah Wahab. Tugasnya adalah menyampaikan beberapa permohonan kepada raja Saud.

Semenjak Ibnu Saud, Raja Najed yang beraliran Wahabi, menaklukkan Hijaz( Mekkah serta Madinah) tahun 1924- 1925, aliran Wahabi sangat dominan di tanah Haram. Kelompok Islam lain dilarang mengarahkan mazhabnya, apalagi tidak sedikit para ulama yang dibunuh.

Baca Juga:  K.H Hasyim Asy'ari: Sekilas Biografi, Perjuangan, Fatwa, Kitab

Dikala itu terjalin eksodus besar- besaran para ulama dari segala dunia yang berkumpul di Haramain, mereka pindaha ataupun kembali ke negeri tiap- tiap, tercantum para santri asal Indonesia.

Dengan alibi buat melindungi kemurnian agama dari musyrik serta bid’ ah, bermacam tempat memiliki, baik rumah Nabi Muhammad serta teman tercantum makam Nabi hendak dibongkar.

Dalam keadaan semacam itu umat Islam Indonesia yang berhaluan Ahlussunnah wal Jamaah merasa sangat perihatin setelah itu mengirimkan utusan menemui Raja Ibnu Saud. Utusan inilah yang setelah itu diucap dengan Komite Hijaz.

 

Biografi Singkat Para Tokoh Pendiri NU

Kita yang mengaku sebagai warga NU, sudah seharusnya mengetahui siapa saja tokoh pendiri NU pada masa penjajahan jaman dulu.

Berikut di bawah ini, kami jelaskan biografi tokoh-tokoh pendiri NU, lengkap dengan kontribusinya:

Biografi K.H Hasyim Asy’ari (Rais Akbar NU di tahun 1926-1947)

K.H Hasyim Asy’ari adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang ditetapkan langsung oleh Bung Karno pada tahun 1964. Beliau merupakan anak ke-3 dari 11 bersaudara, yani dari keturunan Kyai Asy’ari dan Ibu Halimah.

Kakek dari salah satu presiden Indonesia ini, yaitu K.H Abdurrahman Wahid atau dikenal dengan sebutan Gusdur, memiliki empat orang istri dari keturunan para Ulama Indonesia. Yakni bernama, Khadijah, Nafiqah, Nafisah, dan Masrurah.

Dari hasil pernikahannya tersebut, beliau dikaruniai 15 anak, yakni Wahid Hasyim, Muhammad Ya’kub, Mashrurah, Abdul Hakim, Azzah, Ubaidillah, Khoiriyyah, Abdul Karim, Fatimah, Khadijah, Aisyah, Hannan, Abdullah, Muhammad Yusuf, dan Abdul Qodir.

Beliau lahir pada tanggal 14 Februari 1871. Tepatnya di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur. Tepatnya tanggal 21 juli 1947, beliau wafat dan dikebumikan di Tebuireng, Jombang.

Di masa hidupnya Hasyim Asy’ari kecil dikenal sebagai orang yang cerdas, sehingga di usianya yang ke 13 tahun, beliau sudah bisa memahami kitab-kitab klasik yang diajarkan oleh ayahnya (Kyai Asy’ari). Di usianya tersebut, beliau juga sudah mulai mengajar santri-santri ayahnya di Pondok Pesantren Jombang.

Selang beberapa tahun ke depan, Hasyim Asy’ari muda mulai mengembara untuk mencari ilmu di beberapa Pondok Pesantren di Indonesia. Salah satu guru besar beliau adalah Kyai Kholil Bangkalan, Madura.

Selain mondok di Pesantren-pesantren yang ada di Indonesia, beliau juga pernah menyelesaikan pendidikannya di kota Makkah, Arab Saudi. Di sana, beliau di bimbing langsung oleh Tuan Guru Besar Kyai Mahfudh At-tirmisi yang sekaligus memberikan talqin tarekat Qadiriah Wa Naqsabandiah.

Kontribusi K.H Hasyim Asy’ari terhadap NU

Perjuangan mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama dan Nusantara, memerlukan waktu dan perjalanan yang cukup panjang. Berbagai selisih faham, pertimbangan-pertimbangan, dan menunggu izin dari guru besarnya yang ada di Bangkalan, Madura (Kyai Kholil Bangkalan), merupakan salah satu faktor yang menjadi tertundanya pendirian Jam’iyyah Nahdlatul Ulama.

Setelah beliau menerima isyarat dari santri yang diutus oleh Kyai Kholil Bangkalan yang juga merupakan salah satu jawaban dari istikharahnya beliau, akhirnya pada tanggal 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H) Jam’iyyah Nahdlatul Ulama resmi didirikan.

K.H Asyim Asy’ari sebagai tokoh pendiri NU dan juga merupakan Rais Akbar NU di tahun 1926 sampai 1947, kontribusinya sangat dirasakan oleh seluruh Nahdhliyyin.

Tepatnya, pada muktamar NU 1930, kobstribusi beliau terhadap NU dibuktikan dengan menulis Anggaran Dasar NU yang dikenal dengan Qannun al-Asaasii Jami’iyat Nahdlatul Ulama. Di dalamnya menjelaskan beberapa hal terkait undang-undang dasar organisasi NU dalam hal mempersatukan umat islam di Indonesia.

Ringkasan dari Anggaran Dasar NU tersebut, ada tiga hal yang menjadi catatan penting. Diantaranya adalah:

  • Saling mengenal satu sama lain
  • Adanya kemauan ingin bersatu
  • Memiliki sifat saling tenggang rasa, bersimpati, dan toleransi

Pemikiran beliau tersebut yang dituangkan dalam wadah organisasi NU, bertujuan untuk memperkuat Ukhuwah Islamiyah antar organisasi, mengedepankan toleransi, menghilangkan sifat fanatisme, dan menolak paham radikal yang berniat memecah belah bangsa, agama, dan negara.

Kontribusi beliau terhadap NU, tidak lain hanya untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia dengan tidak menghilangkan prinsip dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pribadinya sebagai patriotisme dan nasionalisme religius, melalui wadah organisasi NU, K.H Hasyim Asy’ari mengeluarkan sebuah fatwa perjuangan demi mempertahankan kemerdekaan NKRI. Fatwa tersebut adalah Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada tanggal 22 oktober 1945 di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Di dalam fatwa Resolusi Jihad tersebut, sekurang-kurangnya ada tiga poin penting:

  • Hukum melawan penjajah demi membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menjadi salah satu kewajiban (Fardlu’ain) bagi seluruh umat Islam baik laki-laki maupun perempuan dalam radius 90 km.
  • Tingkatan derajat jihad melawan penjajah merupakan jihad fisabilillah. Adapun para pejuang yang gugur melawan penjajah termasuk mati syahid.
  • Jika bangsa sendiri yang mengkhianati dan ikut memecah belah, maka ia menjadi kaki tangan penjajah (mata-mata dan penghianat). Hal yang demikian itu, wajib hukumnya untuk dibunuh.

Biografi K.H Abdul Wahab Hasbullah (Katib NU di tahun 1926 dan Rais Aam NU di tahun 1947-1971)

K.H Abdul Wahab Hasbullah adalah salah satu dari sekian banyak Ulama yang hadir pada saat peresmian organisasi Nahdlatul Ulama di Surabaya (31 Januari 1926).

Beliau adalah putra dari seorang ulama besar pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, yakni K.H Hasbullah Said. Ibunya bernama Nyai Latifah dan cicitnya bernama Rizky Fadlullah.

Beliau memiliki adik perempuan yang bernama Nur Khadijah. Ia adalah istri dari kerabat dekatnya, yakni K.H Bisri Syansuri. Keduanya dipertemukan melalui alur perjodohan dan dinikahkan di kota Makkah, Arab Saudi.

Abd. Wahab Hasbullah muda mulai berkelana untuk mendalami ilmu agama Islam di beberapa Pondok Pesantren terkemuka di Indonesia, di antaranya adalah Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Tawangsari Sepanjang, Pesantren asuhan K.H Kholil Bangkalan Madura, dan Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan K.H Hasyim Asy’ari.

Kontribusi K.H Abdul Wahab Hasbullah terhadap NU

Kyai Abd. Wahab Hasbullah berperan penting saat organisasi NU mulai diresmikan. Selain Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari, beliau juga dikenal sebagai tokoh pendiri NU.

Dengan pemikirannya yang modern dan religius, seringkali dalam setiap organisasi, beliau pun selalu ikut berkontribusi untuk mengembangkannya.

Saat oganisasi Nahdlatul Ulama didirikan, K.H Abd. Wahab Hasbullah bersama tokoh lainnya berusaha untuk menghimpun Ulama-ulama pesantren di Nusantara agar dapat menghadiri peresmian NU skala Nasional.

Kontribusi beliau terhadap NU sangat begitu besar, sehingga beliau dijuluki sebagai “bapak pendiri NU”. Bahkan, saat perjuangan warga NU melawan penjajah jepang, ternyata Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah) kala itu dipimpin langsung oleh K.H Abdul Wahab Hasbullah.

Bersama adik iparnya (K.H Bisri Syansuri) di tahun 1926, beliau merumuskan gagasannya dengan membentuk Tim Komite Hijaz. Perkumpulan ini sifatnya sementara, tidak lain hanya untuk memperjuangkan kebebasan beribadah di Tanah Suci Makkah tanpa ada larangan bermadzhab.

Selain itu, beliau juga berperan sebagai pencetus dasar-dasar kepemimpinan organisasi NU menjadi dua badan. Yakni, Syuriah dan Tanfidziah sebagai salah satu cara untuk mempersatukan kalangan Tua dan Muda.

Baca Juga:  Helmy M Noor: Gus Ali Contoh Kyai yang Hijrah

K.H Abdul Wahab Hasbullah wafat pada tanggal 29 desember 1971 di Jombang, Jawa Timur. Untuk menghirmati perjuangan beliau dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), akhirnya Presiden Joko Widodo memberikan gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 7 november 2014.

Biografi K.H Bisri Syansuri (A’wan NU di tahun 1926 dan Rais Aam NU di tahun 1971-1980)

Bisri Syansuri terlahir dari keluarga penganut tradisi keagamaan yang sangat kuat. Beliau dilahirkan di desa Tayu, Kabupaten Pati, provinsi Jawa Tengah, tepatnya tanggal 28 Dzulhijjah 1304 H (18 September 1886). Ayah Beliau bernama Syansuri putra Abd. Shamad dan ibunya bernama Mariah. Beliau juga adalah anak ketiga dari lima bersaudara.

Saat usianya masih kecil (berumur 7 tahun), selama kurang lebih tiga tahun, beliau mulai belajar membaca Al-quran dan ilmu Tajwid kepada K.H Sholeh di Tayu. Kemudian, beliau melanjutkan pendalaman ilmu agama di beberapa pesantren lokal. Salah satu guru pertama beliau di Pondok, yaitu K.H Abdul Salam di Kajen, Jawa Tengah.

Memasuki usia remaja, beliau juga berguru kepada beberapa ulama besar di Indonesia, di antaranya adalah K.H Kholil Harun Kasiangan, Rembang dan K.H Syua’ib Sarang, Lasem.

Selanjutnya, beliau mendalami ilmu fiqih kepada K.H Kholil Bangkalan, Madura. Di sinilah beliau bertemu dengan K.H Abdul Wahab Hasbullah dan membawanya untuk nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang yang dipimpin oleh Hadhratusyaikh K.H Hasyim Asy’ari.

Tidak sampai di situ, beliau pun meneruskan pendidikannya di kota Makkah, Arab Saudi dan berguru kepada sejumlah ulama terkemuka di sana. Di antaranya adalah Syekh Muhammad Sa’id Al-Yamani, Syekh Muhammad Baqir, Syekh Muhammad Sholeh Bafadlol, Syekh Umar Bajened, Syekh Abdullah, Syekh Jamal Maliki, dan Syekh Mahfudz Termas.

Saat K.H Bisri Syansuri tinggal di Makkah, beliau dinikahkan dengan adik perempuannya K.H Abdul Wahab Hasbullah yang bernama Nur Khodijah.

Dari pernikahannya tersebut, beliau dikaruniai sembilan orang anak. Yang mana, anak pertamanya telah meninggal dunia ketika usianya masih kecil. Anak kedua, bernama Ahmad Athoillah (K.H Ahmad Bisri), anak ketiga, bernama Muassomah. Berikutnya, Muslihatun, Sholihah, Musyarofah, Sholihun, Ali Abdul Aziz, dan Shohib.

Kontribusi K.H Bisri Syansuri terhadap NU

Beliau juga merupakan salah satu tokoh pendiri NU yang ikut menghadiri pertemuan di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926. Dalam pertemuan tersebut, semua ulama yang hadir menyepakati berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Saat itu pula, K.H Bisri Syansuri ditetapkan sebagai A’wan pertama dalam organisasi tersebut.

Kemudian, pada tahun 1947, K.H Bisri Syansuri ditetapkan sebagai wakil Rais ‘Aam NU yang kebetulan dijabat oleh kaka iparnya sendiri, yaitu K.H Abdul Wahab Hasbullah yang menggantikan posisi K.H Hasim Asy’ari yang telah wafat. Tepatnya  di tahun 1971, beliau pun menggantikan posisi K.H Abdul Wahab Hasbulloh sebagai Rais ‘Aam NU hingga akhir hayatnya (1980).

Salah satu kontribusi beliau terhadap NU, yaitu menjadi motor perjuangan untuk mengembangkan organisasi Nahdlatul Ulama di daerah kediamannya, Jombang. Selain daripada itu, K.H Bisri Syansuri dipercaya sebagai penghubung antara pelaksanaan kegiatan sehari-hari kepengurusan NU pusat di Surabaya dan penghubung antara Kyai Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar dengan Kyai Abdul Wahab Hasbullah.

Beliau juga termasuk satu-satunya dari kalangan Ulama yang dipercaya Kyai Abdul Wahab Hasbullah untuk menjemput Hadhratusyaikh Hasyim Asy’ari dari Tebuireng untuk dibawa ke Surabaya dalam rangka peresmian organisasi Nahdlatul Ulama. Yang mana pada kala itu, Kyai Hasim tidak kunjung datang juga, sedangkan para Ulama se-Nusantara yang di undang telah tampak hadir. Hingga akhirnya, beliau (Kyai Bisri Syansuri) pun berhasil membujuk Guru Besarnya tersebut untuk bisa hadir.

Bahkan, berbagai hal yang berkaitan dengan kepentingan Nahdlatul Ulama di luar daerah Jombang pun masih tetap ia lakukan. Salah satunya, adalah sebagai penghubung antara pengurus besar dan para tokoh organisasi lainnya yang ada di daerah pantai utara Jawa Tengah, yang juga sebagai daerah kelahirannya.

K.H Ahmad Dahlan Ahyad ibnu Muhammad Ahyad (Wakil Rais NU pertama di tahun 1926)

Kyai Dahlan adalah salah seorang putra Pengasuh Pondok Pesantren Kebondalam, Surabaya, yaitu K.H Muhammad Ahyad. Beliau merupakan anak keempat dari enam bersaudara yang lahir pada tanggal 30 Oktober 1885 (13 Muharram 1303 H) di Kecamatan Simokerto. Wafat pada tanggal 20 November 1962, yakni pada usia 77 tahun.

Guru pertama beliau adalah ayahnya sendiri. Kemudian, Kyai Dahlan melanjutkan pendidikannya dengan berguru kepada Syaikhuna Kholil Bangkalan, Madura. Selang beberapa tahun kemudian, beliau berguru kepada K.H Mas Bahar ibnu Noer Hasan, Pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Dari silsilah keilmuannya, beliau pun diundang untuk menghadiri acara peresmian Jam’iyyah Nahdlotul Ulama di Surabaya.

Sebagai salah satu tokoh pendiri NU, Kyai Dahlan diberikan kepercayaan penuh untuk menjadi Wakil Rais NU pertama (1926), satu tingkat dibawah Rais Akbar (Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari).

Kontribusi K.H Ahmad Dahlan ibnu Muhammad Ahyad

Sebagai salah satu pengurus organisasi Nahdlatul Ulama, beliau berperan sebagai tokoh yang mengharuskan hubungan antar pesantren di Nusantara agar tetap bersatu di bawah komando Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari. Salah satu pesan beliau, yaitu segala bentuk pergerakan dan perjuangan melawan penjajah, para santri dan kyai harus tetap dalam satu komando dan tidak boleh terpecah belah. Pesan beliau lainnya, yaitu semua santri dan kyai pesantren tidak boleh keluar dari Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Dengan menghimpun hubungan antar pesantren inilah, Kyai Dahlan dapat memahami berbagai masalah dan isu-isu tentang keagamaan yang muncul pada saat itu. Bersama Kyai Abdul Wahab Hasbullah dan Kyai Mangun, beliau pun ikut berperan dalam mendirikan Taswirul Afkar (kontekstualisolasi pemikiran). Untuk membiayai perkumpulan tersebut, Kyai Dahlan mendirikan Syirkatul Amaliyyah (Koperasi jual beli saham kepada anggota Taswirul Afkar).

Sebagai Wakil Raois Aam NU, Kyai Dahlan dan para kiai lainnya, berhasil mendirikan Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI) pada tanggal 12-15 Rajab 1356 H (18-21 September 1937). Berdirinya organisasi tersebut, bertujuan untuk mempersatukan semangat kebangsaan antar organisasi Islam dalam melakukan perlawanan terhadap penjajahan belanda serta mentolerir segala bentuk perbedaan di dalamnya.

Dari kontribusi beliau terhadap NU, mengajarkan kepada kita untuk tetap mempertahankan Aqidah Ahlussannah Wal Jama’ah dan menjaga semangat kebangsaan demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain itu, kita pun harus tetap menjaga toleransi, meskipun berbeda pandangan dalam bermazhab.

K.H R Asnawi (Mustasyar NU pertama di tahun 1926)

Kyai Asnawi, atau dikenal dengan nama aslinya Raden Syamsi, lahir pada tahun 1281 H/1861 M. Putra dari H. Abdullah Husnin dan R Sarbinah ini, merupakan keturunan ke-14 Sunan Kudus (Syaikh Ja’far Shodiq). Beliau wafat pada usia 90 tahun, tepatnya tanggal 25 Jumadil Akhir 1378 H (26 Desember 1959 M).

Kecintaannya beliau terhadap ilmu agama Islam sudah terlihat sejak kecil. Meskipun usianya masih belia, Asnawi kecil sangat gemar melakukan rihlah ilmiah (perjalanan keilmuan). Ayah beliau sekaligus guru pertamanya yang mengajarkan ilmu tajwid dan penguasaan bacaan Al-quran.

Baca Juga:  Sejarah Makna Lambang NU, Serta Logo NU Terbaru

Perjalanannya mencari ilmu agama di Pondok Pesantren,  mulai dilakukannya sejak ia pindah ke Jepara. Beliau kemudian berguru kepada K.H Irsyad Naib, di daerah Mayong. Selanjutnya, Kyai Asnawi berguru ke ulama-ulama Nusantara lainya, mulai dari Kyai Saleh Darat Semarang, Kyai Mahfudz at-Termasi Pacitan, Kyai Nawawi al-Bantani Makkah, dan Kyai Sayyid Umar Shata Makkah.

Ketika belajar ilmu keagamaan di Mekkah, Kyai Asnawi menikahi janda Syaikh Nawawi al-Bantani yang bernama Nyai Hj. Hamdanah. Dari pernikahannya tersebut, beliau dikaruniai 9 keturunan. Dua di antaranya adalah Hj. Azizah (istri K.H Saleh, Tayu) dan Alamiyah (istri R. Maskub, Kudus).

Kontribusi K.H R Asnawi terhadap NU

Pada acara peresmian Jam’iyyah Nahdhlatul Ulama di Surabaya tanggal 31 januari 1926, Kyai Asnawi ditetapkan sebagai Mustasyar NU pertama dalam susunan organisasi NU yang dipimpin oleh Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari.

Sosoknya dikenal sebagai pejuang yang selalu semangat dalam melakukan perlawanan mengusir penjajah. Sebagai seorang ulama besar, beliau tidak hanya berdakwah dan mengajar santri saja, melainkan ikut menjadi penggerak dilapangan dengan tekad demi mempertahankan keutuhan Negeri tercinta.

Atas semangat perjuangan beliau, kalangan santri dan rakyat pun terinspirasi untuk mengikuti jejak langkahnya. Bahkan pada masa revolusi kemerdekaan, Kyai Asnawi menjadi salah satu tokoh NU yang menggerakkan kaum Santri untuk menjaga benteng spiritual para pejuang. Kala itu, Kyai Asnawi dan segenap santri serta seluruh rakyat ikut berkumpul untuk membaca Shalawat Nariyah dan doa surat Al-Fiil.

Kewibawaan beliau sebagai ulama terkemuka, menjadikan para pemuda-pemuda yang tergabung dalam laskar pejuang, selalu meminta doa terlebih dahulu kepada Kyai Asnawi sebelum bertempur melawan penjajah.

Kontribusi beliau pun terhadap NU semakin terlihat jelas, yaitu dengan memperjuangkan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah agar tetap berdiri kuat di negeri tercinta ini. Pada masa tersebut, di jazirah Arab Saudi mulai menggeliat ajaran Salafi Wahabi dan dampaknya begitu terasa di sebagian wilayah Nusantara.

Menanggapi kejadian tersebut, forum komunikasi kyai yang dipimpin oleh Kyai Abdul Wahab Hasbullah, mengutus Kyai Asnawi untuk mengupayakan strategi diplomasik, tujuannya yaitu untuk menggagalkan rencana pembongkaran makam Nabi Muhammad SAW.

Dengan dikirimnya dilegasi (Kyai Asnawi) pada saat itu, yang mengatasnamakan utusan dari organisasi Islam terbesar di Indonesia (Nahdlotul Ulama). Hasil akhirnya menunjukan kabar yang sangat menggembirakan untuk segenap umat Islam Indonesia bahkan dunia sekalipun, yakni makam Nabi Muhammad SAW. tidak jadi dibongkar ataupun dipindahkan.

K.H Ridwan Abdullah (Pencipta Lambang NU)

K.H Ridwan Abdullah atau lebih dikenal dengan sebutan Kyai Abdullah, adalah salah satu tokoh pendiri NU di tahun 1926. Beliau pula yang menciptakan lambang Nahdlatul Ulama atas perintah K.H Abdul Wahab Hasbullah.

Putra bungsu dari pasangan Kyai Abdullah dan Nyai Marfu’ah, lahir sekitar tahun 1884, yakni di kampung Carikan Gang 1, Praban, Contong, Bubutan, Surabaya.

Beliau pernah mengikuti pendidikan di sekolah Belanda. Sehingga, pengetahuannya tentang teknik dasar menggambar dan melukis, telah ia kuasai dengan baik.

Karena termasuk salah satu murid yang pintar. Suatu ketika, Kyai Ridwan Abdullah pun hampir berhasil diadopsi oleh orang Belanda. Namun, karena orang tuanya tidak mengizinkan, akhirnya beliau tidak jadi diadopsi.

Selang beberapa waktu kemudian, Ridwan Abdullah muda dikirim oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Buntet di Cirebon. Kurang lebih setelah lulus dari Sekolah Dasar, beliau pun mulai mondok di sejumlah pesantren di Nusantara. Salah satu guru besar beliau dari kalangan Ulama Pesantren, yaitu Syaikh Kholil Bangkalan, Madura.

Kontribusi K.H Ridwan Abdullah terhadap NU

Salah satu kontribusi terbesar Kyai Abdullah terhadap NU adalah menjadi kreator utama dalam menciptakan lambang kebesaran Nahdlotul Ulama.

Tempatnya, tanggal 12 Robiul Awal 1346 H (9 Oktober 1927), diselenggarakan mukhtamar NU ke-2 di Surabaya. Pada saat itu, lambang NU diperkenalkan secara resmi oleh Kyai Abdullah. Beliau pun menjelaskan secara rinci arti dari lambang tersebut, yaitu dengan ungkapan: “lambang tali adalah lambang agama. Tali yang melingkar bumi melambangkan Ukhuwah Islamiyah kaum muslimin seluruh dunia. Untaian tali yang berjumlah 99 melambangkan Asmaul Husna. Bintang besar yang berada di tengah bagian atas melambangkan Nabi Besar Muhammad SAW. Empat bintang kecil samping kiri dan kanan melambangkan Khulafaurrm Rasyidin, dan empat bintang di bagian bawah melambangkan Madzhab Arba’ah (empat madzhab). Sedangkan jumlah semua bintang yang berjumlah sembilan melambangkan Wali Songo.”

Pembuatan lambang NU tersebut, memakan waktu hampir setengah bulan lamanya. Beliau pun memberikan penjelasan kepada Hadhratussyaikh Hasim Asy’ari, mengenai asal muasal lambang NU yang telah dibuatnya. Yakni, terlebih dahulu melakukan salat istikharah dan hasilnya beliau mendapatkan mimpi melihat sebuah gambar di langit yang cerah dengan bentuk persis lambang NU yang sekarang masih dipertahankan. Rais Akbar NU (K.H Hasyim Asy’ari) pun merespon dengan memanjatkan doa dan berkata “mudah-mudahan Allah mengabulkan harapan yang dimaksud di lambang Nahdlatul Ulama tersebut.”

K.H Mas Alwi bin Abdul Aziz (Pencetus nama “Nahdlatul Ulama”)

Putra dari K.H Abdul Azizi sekaligus merupakan keluarga besar Sunan Ampel, Surabaya, diperkirakan lahir pada tahun 1890-an. Di masa mudanya, beliau pernah mondok di pesantren di bawah asuhan Syaikhuna Kholil Bangkalan, Madura. Di Pondok Pesantren tersebut, Kyai Mas Alwi adalah sahabat dekatnya Kyai Ridwan Abdullah dan Kyai Abdul Wahab Hasbullah yang juga merupakan salah satu tokoh pendiri NU (Nahdhlatul Ulama).

Kontribusi Kyai Mas Alwi Terhadap NU

Kontribusi beliau terhadap NU  yang masih dikenang hingga sekarang, yaitu sebagai inisiator pertama pencetus nama “Nahdlotul Ulama.” Sebelumnya, organisasi terbesar di Indonesia ini akan diberi nama “Nuhudlul Ulama”, yakni usulan dari Kyai Faqih Maskumambang. Namun, yang disepakati oleh seluruh Ulama adalah nama “Nahdlotul Ulama” yang diusulkan oleh Kyai Mas Alwi.

Pertanyaan pun muncul dari Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari, “kenapa ada Nahdlah? Dan kenapa tidak Jam’iyyah Ulama saja?” Kyai Mas Alwi pun menjelaskan dengan perkataan yang santun, “karena tidak semua Kyai mempunyai jiwa Nahdlah (bangkit). Di luar sana ada sebagian Kyai yang sekedar mengurusi pondok saja, tidak mau peduli terhadap Jam’iyyah.” Jawaban tersebut diterima K.H Hasyim Asy’ari dengan ungkapan syukur yang sangat mendalam.

Dalam susunan organisasi kepengurusan Nahdlatul Ulama (NU), Kyai Mas Alwi ditetapkan menjadi anggota A’wan Syuriyyah NU.

Selain dari ketujuh tokoh di atas, masih ada enam sosok Ulama terkemuka lainnya yang juga sebagai tokoh pendiri NU. Di antaranya adalah K.H Chamid Faqih, Sedayu Gresik, K.H Abdul Halim, Leuwemunding Cirebon, K.H Ma’sum, Lasem, K.H Nachrawi Thahir, Malang, K.H Abdullah Ubaid, Surabaya, dan Syaikh Ghanaim, asal Mesir yang tinggal di Surabaya.

Demikian biografi tokoh-tokoh pendiri NU beserta kontribusinya terhadap NU. Semoga menambah keyakinan kita akan organisasi NU adalah yang paling mulia di sisi Allah SWT. Insyaallah!

Incoming search terms:

  • nama2 ulama nu
  • BIOGRAFO TOKOH NU