Shalat Jumat: Syarat Wajib, Syarat Sah Dan Hukum Bagi Musafir

1832
pengganti-sholat-jumat-bagi-musafir-yang-tertinggal

Shalat Jumat Bagi Musafir Wajib Atau Tidak Dan Apa Penggantinya?.

Shalat Jum’at adalah Sholat wajib bagi laki lakii yang telah memenuhi syarat wajibnya dan tidak memiliki udzur. Barangsiapa meninggalkannya, ia terjerumus dalam dosa besar.

Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum’at sebanyak tiga kali karena meremehkannya, hatinya akan tertutupi. Dan ia termasuk orang-orang yang lalai.

Sebagaimana hadist yang berbunyi:

hukum-melakukan-shalat-jumat-bagi-seorang-musafir-adalah

Lalu bagaiman dengan para musafir yang sedang dalam perjalanan atau mereka yang sedang bekerja ditengah laut, diatas kapal dan musafir lainnya.

Sebelum membahas hukum Shoat jum’at bagi musafir baiknya kita review kembali syarat sah dan wajib sholat jum’at.

Syarat Wajib Shalat Jumat

Ada kriteria tertentu orang-orang yang diwajibkan menjalankan shalat jumat atau diistilahkan dengan syarat wajib pelaksanaan jumat.

Syekh Muhammad bin Ahmad Al-Syathiri dalam Syarh al-Yaqut al-Nafis menyebutkan bahwa syarat wajib shalat jumat ada tujuh.

Sekiranya tidak terpenuhi, maka tidak wajib menjalankan Jumat. Berikut ini 7 syarat wajib shalat jumat:

1. Islam

Islam adalah persyaratan yang harus dipenuhi dalam setiap ibadah termasuk shalat jum’at, sehingga bagi umat Islam wajib melaksanakannya sebagaimana yang diriwayatkan dari suatu hadis  “ shalat jum’at hak wajib atas orang muslim dengan berjama’ah kecuali empat golongan: hamba sahaya, orang perempuan, anak kecil dan orang sakit”. (HR. Abu Daud).

Baca Juga:  Belajar Jadi Imam Shalat, Perhatikan Syarat Dan Bacaannya

2. Berakal Sehat

Orang yang berakal sehat wajib mendirikan shalat jum’at kecuali bagi orang gila, ayan dan mabuk. Khusus Orang mabuk masih dibebani dengan sholat dzuhur setelah sadar dan sembuh sebagi pengganti sholat jum’at.

3. Baligh

Di wajibkan melaksanakan shalat jum’at bagi seorang muslim yang sudah baligh (dewasa), anak kecil yang belum cukup umur (belum bermimpi dan keluar mani) tidak wajib mendatangi shalat jum’at. Sabda Nabi SAW:

Artinya: “Dari Ibnu Umar Bin Harsah istri Nabi SAW bersabda pergi shalat jum’at di wajibkan atas tiap-tiap orang yang telah bermimpi atau baligh”. (HR. an-Nasa’i).

4. Merdeka

Shalat jum’at wajib bagi setiap orang yang merdeka, bagi seorang budak tidak diwajibkannya kecuali jika ia mendapat izin dari majikannya. Maka shalatnya syah dan tidak diwajibkannya dengan shalat dzuhur.

5. Laki-Laki

Seorang wanita banci tidak diwajibkan shalat jum’at di karenakan seorang wanita tidak aman dan dikhawatirkan menimbulkan fitrah dan kerusakan apabila berjama’ah di masjid, tetapi apabila seorang wanita sudah melakukan shalat jum’at maka tidak perlu shalat dzuhur lagi.

6. Sehat

Bagi orang sakit tidak diwajibkan pergi ke masjid untuk shalat jum’at di khawatirkan akan bertambah parah sakitnya atau takut akan mempersulit proses penyembuhannya (udzur).

7. Mukim

Orang musafir tidak dikenakan kewajiban shalat jum’at apabila dalam perjalanannya membutuhkan jarak dan waktu yang panjang sesuai dengan jarak yang telah ditentukan oleh syar’i.

Tetapi orang yang wajib shalat jum’at haram melakukan safar meninggalkan negerinya setelah tergelincirnya matahari pada hari jum’at kecuali ia yakin akan dapat melaksanakannya di perjalanan.

Hukum ini berlaku juga bagi orang yang dalam perjalanan sebelum tergelincir matahari sebab kewajiban shalat tersebut terkait dengan hari jum’at.

Baca Juga:  Khutbah Jumat: Definisi, Syarat, Rukun Dan Hal Yang Membatalkan

Syarat Sah Sholat Jum’at

Para ulama sepakat bahwa Syarat Sah Sholat Jum’atyarat sah sholat jum’at yang disamakan dengan shalat fardu pada umumnya.

Yaitu menutup aurat, suci, menghadap kiblat , dikerjakan ditempat yang boleh digunakan untuk shalat, dan menghindari perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan yang tidak termasuk perbuatan dan ucapan shalat.

Syarat sah di atas merupakan persyaratan umum sebagaimana syarat yang diberlakukan pada shalat-shalat maktubah yang lain.

Tapi sholat jum’at memiliki keutamaan dari sholat fardu lainnya, yang salah satunya adalah memiliki tambahan syarat sah khusus.

Secara umum syarat-syarat sah shalat jum’at yang banyak terdapat kitab-kitab fiqh adalah sebagai berikut :

1. Shalat Jumat Dilaksanakan Secara Berjamaah

Imam empat madzhab menyatakan bahwa shalat jum’at harus dilaksanakan dengan cara berjamaah. Ini berarti menurut empat madzhab tersebut shalat jum’at tidak sah dilaksanakan dengan sendirinya (munfarid).

2. Jumlah Jamaah

Dalam hal jumlah jamaah shalat jum’at, para ulama beragam pendapat. Sebagaimana dalam kitab-kitab kalangan Syafi’iah mensyaratkan jumlah jamaah harus 40 orang yang mukallaf, merdeka, dan laki-laki.

3. Didirikan Dikawasan Pemukiman Yang Tepat

Syarat sah yang dimaksud ini adalah dilakukan di Khittatil Balad, yaitu suatu kawasan pemukiman tetap yang dihuni oleh sekelompok masyarakat.

Yang dalam konteks sekarang secara administratif ditandai dengan KTP baik itu kota, desa, dusun, atau pedukuhan yang disana ada bangunan perumahan penduduk.

4. Shalat Jumat Dilakukan Setelah Masuk Waktu

Waktu shalat jum’at adalah waktu shalat dhuhur, yaitu dari tergelincirnya matahari samapai bayangan sesuatu telah menjadi sama setelah bayangan waktu istiwa’.

Al Malikiah menjelaskan bahwa waktu shalat jum’at adalah dari sejak tergelincirnya matahari sampai dengan terbenamnya, yaitu sekiranya dapat menjumpakannya secara utuh dengan khutbahnya sebelum matahari terbenam.

Sedang Hanafilah menggambarkan bahwa waktu shalat jum’at adalah mulai dari naiknya matahari sekedar satu tombak, dan selesai dengan terjadinya bayangan sesuatu menjadi sama selain waktu tergelincirnya matahari.

Baca Juga:  Shalat Witir: Rakaat, Waktu, Dan Manfaat

5. Didahului Dengan Dua Kali Khutbah Jum’at

Oleh para fuqaha khutbah dijadikan sebagai syaratnya shalat jum’at, kecuali oleh Syafiiyah.

Menurutnya khutbah itu termasuk fardhu atau rukunnya shalat jum’at, akan tetapi sebaliknya Hasbi Ash Shiddiqie dengan menyetir pendapatnya Al Hasan Al Bisri, Daud al Zahiri dan Al Juwaini, bahwa khutbah dalam shalat jum’at itu hukumnya hanyalah sunnah saja, bukanlah fardhu.

6. Tidak Adanya Dua Shalat Jum’at Dalam Suatu Pemukiman

Menurut jumhur ulama termasuk Syafiiyah kecuali ulama Hanafiyah berpendapat bahwa shalat jum’at lebih dari satu dalam satu daerah atau satu kampung yang punya nama sendiri-sendiri, tidak diperbolehkan.

Apabila terjadi ta’addudil jum’at (jum’atan lebih dari satu) maka yang sah adalah yang terlebih dahulu memulainya.

Pendapat syafi’iah tersebut sering kali menjadi sumber perdebatan di sebagian pedesaan ketika akan membangun dua masjid dalam suatu wilayah.

Kemudian biasanya mereka memakai parameter dalam jarak antara satu masjid yang lama dengan yang akan dibangun.

Hukum Shalat Jumat Bagi Musafir

Dari penjelasan diatas bisa disebutkan bahwa dalam shalat jumat itu ada istilah syarat wajib dan syarat sah.

Syarat wajib sholat jumat itu diantaranya: islam, baligh, berakal sehat, merdeka, laki laki, sehat jasmani dan mentap (mustauthin).

Adapun salah satu syarat sah sholat jum’at adalah adanya tempat tertentu. Dimana orang orang yang berjum’atan itu menetap (desa/kota).

Jumlahnya harus 40 orang laki laki yang memang berstatus sebagai ahlul jum’at dan waktunya saat dzuhur.

Adapun musafir seperti orang dilaut tidak wajib mendirikan shalat jum’at karena salah satu syaratnya tidak terpenuhi.

Dan pengganti shalat jumat bagi musafir adalah shalat duhur setelah masuk waktunya.

Incoming search terms:

  • sholat jumat language:id