Sayyidina Ali Pindahkan Ibu Kota dari Madinah ke Kufah, Ini Penyebabnya!

815
Sayyidina ALi Bin Abi Tholib Pindahkan Ibu Kota dari Madinah ke Kufah

Sayyidina Ali bin Abi Thalib membuat keputusan besar. Khalifah keempat ini memindahkan ibu kota negeri dari Madinah ke Kufah. Aksi ini luar biasa berani sebab tidak sempat dicoba tadinya oleh Rasulullah SAW serta ketiga Khalifah dini, ialah Abu Bakar, Umar bin Khattab, serta Utsman bin Affan. Ini metode Imam Ali melaksanakan pembelahan urusan politik serta agama. Apa yang melatarbelakangi keputusan itu? Ayo kita ikuti penjelasannya.

Khalifah Utsman terbunuh pada 17 Juni tahun 656. Khalifah berumur 79 tahun ini berkuasa sepanjang 12 tahun. Kabarnya 6 tahun awal dilalui pemerintahannya dengan gemilang. Tetapi, sebab tidak terdapat pembatasan masa jabatan, Khalifah Utsman terus berkuasa, walaupun umurnya telah sepuh serta dia tidak lagi seluruhnya bisa mengendalikan negeri yang telah meluas melewati jazirah Arab.

Pendek cerita, ketidakpuasan meletus serta pemberontak menewaskan Khalifah di rumahnya dikala dia tengah membaca al- Qur’ an.

Pemberontak dari Mesir memahami Madinah sepanjang 5 hari, serta hingga hari ketiga, jenazah Khalifah Utsman tidak dapat dikuburkan. Kesimpulannya, jasad dia sukses dikuburkan di tempat yang tidak biasa, bukan di dekat kuburan Nabi serta 2 khalifah tadinya. Imam Ali setelah itu dibai’ at jadi Khalifah keempat pada 24 Juni 656–hari ketujuh sehabis wafatnya Utsman, walaupun Imam Ali tadinya menolak diseleksi.

Tetapi, setelah itu timbul suara- suara yang menggugat pemilihan Imam Ali sebab cuma sedikit teman besar yang tersisa di Madinah. Meluasnya kekuasaan Islam membuat para teman menyebar ke bermacam daerah, tercantum Mu’ awiyah yang jadi Gubernur di Damaskus. Mereka merasa suara mereka tidak didengar serta tidak terwakili dalam pemilihan Imam Ali bagaikan khalifah.

2 teman Nabi, Thalhah serta Zubair, bergerak ke Mekkah. Istri Nabi, Siti Aisyah, tengah melaksanakan umrah di Mekkah kala Utsman terbunuh. Mendengar Imam Ali yang terpilih jadi Khalifah, Siti Aisyah memutuskan bertahan tinggal di Mekkah serta bersama- sama penduduk Mekkah memohon Khalifah Ali bin Abi Thalib mengadili para pembunuh Khalifah Utsman.

Baca Juga:  Ada yang Berupaya Adu Domba Banser vs Rakyat Papua

Khalifah Ali memohon umat buat cooling down terlebih dulu. Keengganan Imam Ali penuhi tuntutan itu membuat dia dituduh ikut serta di balik pemberontakan yang menyebabkan wafatnya Utsman. Setelah itu Thalhah, Zubair, serta Siti Aisyah bergerak ke Basrah bersama pasukannya buat memobilisasi massa melawan Khalifah Ali.

Imam Ali memohon penduduk Madinah bersiap perang. Mereka tidak lekas merespons permintaan Imam Ali. Perlu waktu buat Ali mengumpulkan sukarelawan bergerak ke Basrah. Pendek cerita, terjadilah peperangan antara menantu Nabi, Khalifah Ali bin Abi Thalib, serta istri Nabi, Siti Aisyah. Pasukan Ali berjumlah 20 ribu serta pasukan Siti Aisyah berjumlah 30 ribu.

Dikabarkan tidak kurang dari 18 ribu umat Islam dari kedua belah pihak terbunuh dalam perang kerabat ini, tercantum Thalhah serta Zubair, serta 3 ribu yang lain terluka.

Selepas perang yang dimenangkan Khalifah Ali, Siti Aisyah diantar kembali ke Madinah dengan penghormatan serta pengawalan lengkap. Tetapi, opsi buat Imam Ali hendak ke mana saat ini?

Kembali ke Madinah kala atmosfer masih tidak kondusif mengingat pendukung Utsman masih membara serta istri Nabi Siti Aisyah yang baru saja dikalahkan dalam pertempuran pula hendak menetap di Madinah. Pasti tidak aman Khalifah Ali kembali ke Madinah.

Gimana jika ke Damaskus? Tidak bisa jadi! Mu’ awiyah berkuasa di situ serta lagi mengumpulkan kekokohan buat melanda Khalifah Ali. Ataupun ke Mekkah saja? Tidak bisa jadi. Siti Aisyah sukses mengawali perlawannya malah dari Mekkah dengan sokongan 3000 sukarelawan serta dorongan Gubernur Mekkah.

Gimana jika ke Basrah? Walaupun Khalifah Ali menang perang, tetapi saat sebelum dia datang di Basrah, Thalhah, Zubair, serta Siti Aisyah sudah lebih dahulu mencapai simpati serta sokongan penduduk Basrah. Basrah serta Mekkah bukan opsi bijak.

Baca Juga:  Ini Alasan Gusdur Rubah Irian Jaya Menjadi Papua

Hingga, Imam Ali memutuskan buat menetap di Kufah serta sekalian memindahkan ibu kota negeri dari Madinah ke Kufah. Tidak hanya latar balik keadaan sosial politik di atas, aksi Imam Ali ini luar biasa akibatnya. Dia belajar dari masuknya pemberontak ke ibu Kota Madinah yang sudah mengotori kesucian kota Madinah.

Politik kekuasaan di kota Nabi yang suci sangat tidak terbayangkan. Pemindahan ibu kota dari kota suci Nabi ke daerah yang lumayan jauh, ialah Kufah( Irak saat ini), membuat simbol agama( Madinah) dipisahkan dengan perkara politik. Secara tidak langsung, Imam Ali sudah berupaya menarik batasan antara agama serta politik.

Imam Ali pula tidak mengambil peluang memindahkan ibu kota ke Mekkah, sebab jika terjalin penyerangan hingga Ka’ bah jadi taruhannya. Teruji nanti pada masa Dinasti Umayyah kala Abdullah bin Zubair memisahkan diri dari Dinasti Umayyah serta menjadikan Mekkah bagaikan pusat pergerakannya, keponakan Siti Aisyah ini bukan saja terbunuh di dekat Ka’ bah tetapi kota Mekkah diserbu panah berapi serta diblokade sepanjang 6 bulan oleh pasukan al- Hajjaj bin Yusuf.

Ironisnya, bukan saja banyak penduduk Mekkah serta jamaah haji yang terbunuh, tetapi Ka’ bah juga pernah dibakar akibat serbuan panah api. Inilah dampaknya jika politik kekuasaan dicoba di kota suci Mekkah. Jadi, telah sangat pas Khalifah Ali memindahkan ibu kota ke Kufah.

4 bulan setelah itu perang kerabat kedua rusak. Peperangan antara pasukan Gubernur Mu’ awiyah dari Damaskus serta pasukan Khalifah Ali dari Kufah berlangsung di wilayah Shiffin. Perang kerabat terjalin, tetapi 2 kota suci Mekkah serta Madinah nyaman. Sekali lagi, pemindahan ibu kota merupakan upaya melindungi supaya kesucian Ka’ bah serta Masjid Nabawi supaya tidak tercemar oleh pertarungan kekuasaan.

Baca Juga:  Ada yang Berupaya Adu Domba Banser vs Rakyat Papua

Ditulis di Moslimoderat