Indahnya Poligami: Syarat, Hukum Dan Hikmahnya

598
tujuan-dan-indahnya-poligami-dalam-islam

Poligami Dalam Berumah Tangga Wajib Perhatikan Syarat Dan Hukumnya Dalam Islam.

Poligami adalah salah satu syari’at Islam yang banyak dipermasalahkan dalam kehidupan rumah tangga kaum muslim.

Karena beberapa muslimah menyebut ini adalah syariat yang menyudutkan kaum wanita.

Tapi hal ini tidak sepenuhnya salah karena saat ini banyak juga pria yang melakukan poligami atas nama syariat tapi tak tahu pasti hukum poligami menurut Islam yang benar.

Dan akibatnya mereka tak bisa adil dan bijaksana saat melakukan kewajiban sebagai seorang suami.

Karena sebelum kita menentukan apakah poligami dibenarkan dalam Islam? Dan apa hukumnya menurt Islam?.

Baiknya kita simak ulasan dibawah ini.

Apa Itu Poligami?

Poligami adalah pilihan seorang suami untuk memiliki istri lebih dari satu dan tentu harus atas ijin istri pertamanya.

Meski dalam Islam poligami diperbolehkan bahkan wajib bila ada alasan untuk kemaslahatan tapi tentu ada syarat Poligami dalam Islam, yang saat ini sering dilalaikan oleh kaum pria.

Syaikh Mustafa Al-Adawiy menyebutkan setidaknya ada 4 syarat poligami yang harus terpenuhi, yaitu:

  • Mampu Berbuat Adil

Sebelum memutuskan untuk berpoligami hendaknya suami telah memikirkan kemapuannya untuk bisa Adil.

Karena salah satu syarat poligami dalam islam adalah adil, tidak boleh condong kepada salah satu istrinya.

Hal ini tentu akan menyakiti istri lain dan hanya akan menambah dosa suami serta merusak hubungan rumah tangga itu sendiri.

Nabi Muhammad SAW bersabda:
dampak-dan-sejarah-poligami

Untuk menjaga agar selalu adil, tak jarang sang suami harus tegas.

Karena terkadang ada sifat manja istri yang menginginkan untuk bermalam bersama padahal saat itu waktunya si suami dengan istri lainnya.

Maka sang suami harus tegas mengatakan tidak dan menjalankan kewajibannya dengan sangat adil.
Karenanya jika merasa tidak sanggup maka sebaiknya menikah dengan satu istri saja.

Baca Juga:  Nikah Sirri: Pengertian, Hukum Tanpa Wali, Penyebab Dan Dampak

Sesuai dengan firman Allah swt:

 “…kemudian jika kamu khawatir tidak mampu berbuat adil, maka nikahilah satu orang saja…” (QS. An-Nisa: 3)

  • Tidak Lalai Dalam Hal beribadah Kepada Allah

Karena niat dari awal harusnya untuk beribadah kepada Allah, maka hendaknya akan semakin menambah ketaqwaan pada Allah swt.

Jangan sampai karena beban rumah tangga yang bertambah menyebabkan pelaku poligami justru semakin lalai dalam beribadah.

Misalnya yang biasa shalat berjama’ah subuh setelah beristri dua justru hanya shalat dirumah sendiri itupun sering terlambat. Maka orang seperti ini belumlah pantas berpoligami.

  • Mampu Menjaga Para Istrinya

Setiap suami memiliki kewajiban untuk menjaga istrinya. Sehingga istri merasa aman dan terjaga kehormatan serta agamanya.

Dan ketika seorang suami memutuskan untuk menambah istri lagi maka kewajibannya semakin bertambah untuk menjaga lebih dari satu istri.

Dikhawtirkan setelah berpoligami sang suami tidak bisa adil misal dalam segi pemenuhan biologisnya.

Yang berakibat salah satu istrinya tidak merasa puas dan mencari kepuasan pada laki laki lain maka dalam hal ini sang suami dianggap tidak mampu menjaga istri istrinya.

  • Mampu Memberi Nafkah Lahir

Seseorang yang ingin melakukan poligami wajib mencukupi kebutuhan nafkah lahir para istrinya.

Bagaimana ia ingin beristri dua, sementara nafkah untuk satu orang istri saja belum cukup? Orang semacam ini sangat berhak untuk dilarang berpoligami.

Hukum Poligami

Masyarakat luas memahami kata poligami dengan arti menikah dengan lebih dari 1 istri.

Poligami sendiri dalam islam memiliki bermacam macam hukum yang diberikan berdasarkan kemampuan pelakunya.

Karena setiap pribadi memiliki kemampuan sendiri untuk memenhui syarat poligami, karenanya hukum untuk ibadah ini tidak bisa dipukul rata.

Hukum memiliki istri lebih dari satu ada yang wajib, boleh atau mubah dan halal.

Dan sebelum Anda memutuskan memiliki istri lebih dari satu hendaknya tahu juga hukum Poligami ini agar niat untuk beribadah tak berubah jadi bencana terutama untuk diri sendiri dan keluarga:

Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily –hafidhahullah– dalam ceramah beliau yang berjudul “فقه الأسرة” atau “Fikih Keluarga”, menyatakan bahwa poligami itu hukumnya ada lima, berikut ringkasannya :

  1. Wajib

    Hukum Poligami menjadi wajib jika sang istri tidak sapat melakukan kewajibannya, dan dikhawatirkan suami akan berbuat zina.

    Atau mungkin karena lelakinya yang terlalu kuat dan wanita nya lemah atau tidak bisa mengimbanginya.

    Tapi ingat sang suami harus juga memperhatikan syarat poligami yaitu mampu dalam sehi materi dan adil.

    Hal ini dikarenekan sang suami diwajibkan untuk menjaga kehormatan diri dengan mengurangi resiko zina dengan menikah lagi.

    Kaidah mengatakan : “Sesuatu yang wajib, namun tidak bisa terlaksana kecuali dengan perantara, maka perantaranya tersebut menjadi wajib juga”

    Dan jika sang istri mgalami hal ini maka dia tidak boleh menghalang halangi suami untuk menikah lagi.

    Karena jika keadaan suami seperti ini, lalu istri melarangnya, sehingga suami hanya memiliki istri satu yang tidak bisa mencukupi “kebutuhannya”, bisa jadi sang suami akan terjatuh dalam perzinaan, na’udzu billah.

  2. Dianjurkan Poligami

    Hukum poligami jadi dianjurkan jika sang suami dalam keadaan:

  • Sang suami tidak takut berbuat zina
  • Mampu untuk membiayai pernikahan dan kehidupan para istri
  • Mampu adil kepada para istri
  • Mengharapkan anak atau keturunan dari istri barunyaMaka dalam keadaan ini sang suami dianjurkan untuk menikah lagi. Tapi ini semua wajib dikembalikan pada individu masing masing.Karena hendaknya mempertimbangkan terlebih dahulu apakah setelah berpoligami akan memberikan banyak manfaat atau hanya mudharat.
    Jika hanya akan memberikan kemudharatan maka sebaiknya tinggalkan.
  1. Halal Poligami

    Hukum Poligami selanjutnya adalah halal jika:

  • Sang suami tidak khawatir akan berbuat zina
  • Mamapu AdilPada Istri istrinya
  • Mampu menganggung biaya pernikaha tapi tidak menginginkan anak
  • Berniat untuk menolong wanita yang akan menjadi istri keduanya.
    Maka hukum poligami baginya adalah halal apalagi jika niat menolong itu tulus dan tetap mampu berbuat adil maka pahala besar akan menantinya.
  1. Hukum Poligami Makruh

    Dalam perkara ini sang suami tidak hawatir berbuat zina dan mampu untuk mencukupi istri dan anak anaknya.
    Namun dengan menikah lagi ia malah menomer duakan urusan urusan penting maka poligami yang dia lakukan memiliki hukum makruh. Dan sebaiknya tidak dilakukan.

  2. Haram Poligami

    Bagi sang suami yang hanya memntingkan hasrat untuk memiliki istri kembali namun ia tahu bahwa tidak akan mampu mencukupi kebutuhan istri istrinya maka dalam hal ini Poligami memiliki hukum haram.

Dari berbagai macam hukum  diatas maka kita tidak bisa menolak poligami secara mutlak, karena bisa mendzalimi orang membutuhkan.

Tapi bagi sang suami pun hendaknya tidak semena mena untuk menikah lagi hanya karena hasrat padahal sang istri dirumah masih mampu memenuhi kewajibannya.

Karena kebanyakan saat ini orang ingin menambauh istri lagi hanya karena ingin wanita yang lebih cantik tapa mempertimbangkan nafkah lahir batin dan manfaatnya.

Apalagi jika Anda tidak bisa adil maka tak hanya kehancuran rumah tangga yang menanti tapi juga adzab Allah karena telah berbuat dzalim pada wanita.

Hikmah Dari Poligami

Kebanyakan orang yang ingin beristri lebih dari satu mengatas namakan ibadah ini sebagai sunnah nabi.

Padahal jelas nabi menikahi istri istrinya hanya karena perintah Allah dengan tujuan untuk kemslahatan bersama.

Pernikahan poligami pada zaman Nabi ini menunjukkan bahwa perintah tersebut dijalani bukan atas dasar syahwat.

Namun, ada nilai – nilai kebaikan yang harus berkembang dalam kehidupan.

Ada kekurangan yang perlu dihadirkan. Misalnya dalam masalah keturunan yang sudah sangat diharapkan dan dinantikan.

Dalam konteks ini misalnya ada godaan -godaan yang sifatnya bisa menghadirkan pada maksiat.

Hal seperti ini juga tentunya melalui diskusi yang dilakukan terhadap pasangan.

Dan kembali lagi Anda wajib mempertimbangkan syarat syarat atau rukun seperti yang telah dijelaskan diatas

Syarat – syarat tersebut juga dilengkapi dengan syarat teknis lainnya seperti keadilan. Seperti misalnya, seorang suami membeli buah mangga.

Sementara dia memiliki dua orang istri. Maka, apabila istri yang satu mendapatkan buah mangga, maka istri kedua juga perlu mendapatkan buah mangga.

Untuk bisa melakukan hal ini tentu tidak semudah yang dibayangkan karena akan dimintai pertangggung jawabannya.

Seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada Surat An-Nisa ayat 3 :

indahnya-dan-tujuan-poligami-dalam-islam

Baca Juga:  Konsep Pacaran Islami Sebelum Menikah Dan Disekolah