Penetapan 1 Ramadhan, Perbedaan Metode Hisab Dan Hilal

510
menentukan-awal-ramadhan-dengan-memperhitungkan-peredaran-bulan-dan-matahari-disebut

Penetapan 1 Ramadhan, Menggunakan Metode Hisab, Rukyat Dan Dalilnya.

Bulan suci ramadhan adalah bulan yang penuh kemenangan. Bulan ini menjadi bulan yang dirindukan oleh umat muslim.

Bulan ramadhan selalu dikaitkan dengan puasa, karena saat bulan ini umat Islam diwajibkan untuk memenuhi ibadah tersebut.

Saat bulan ramadhan amal kebaikan umat muslim akan dibalas dengan berkah pahala yang berlipat, terlebih ketika kita melakukan puasa dengan sempurna.

Dalam penentuan awal puasa atau bulan ramadhan, terdapat 2 metode yang umumnya digunakan. Kedua metode tersebut adalah rukyatul hilal dan hisab.

Adanya perbedaan penetapan awal dan akhir Ramadhan bermula dari bagaimana memahami hadits yang menuturkan perihal tersebut.

Berikut hadist yang menjadi patokan dalil tentang hisab dan rukyat:

penentuan-awal-ramadhan-dengan-cara-melihat-bulan

Dari hadits tersebut perbedaan memahaminya menjadi lebih spesifik kepada satu kalimat li ru’yatihi– karena melihat hilal.

Sebagian kaum Muslim memahami kalimat itu sebagai melihat hilal secara langsung dengan mata kepala sebagaimana dipegangi oleh warga Nahdliyin.

Dan sebagian lagi memahaminya sebagai melihat hilal cukup dengan hitungan atau hisab sebagaimana diamalkan oleh warga Muhamadiyah.

Metode Hisab

Metode hisab menjadi salah satu cara ulama menentukan penetapan 1 ramadhan atau dimulainya puasa dalam bulan ramadhan.

Metode hisab memiliki makna kalkukasi (akhsha), menghitung (‘adda), dan mengukur (qaddara).

Banyak yang menyebut bahwa metode ini adalah cara menentukan awal ramadhan menurut Muhammadiyah karena memang lebih sering digunakan oleh kalangan tersebut.

Untuk menentukan awal bulan khusus seperti ramadhan beberapa ulama neggunakan metode hisab yang berarti menghitung pergerakan posisi hilal diakhir bulan.

Beberapa orang beranggapan astronomi atau ilmu falak saat ini telah mengalami perkembangan pesat dan makin menunjukkan ketepatannya, sehingga hisab dipandang cukup dan punya akurasi yang presisi.

Dengan merujuk pada pendapat inilah, tidak sedikit ulama kontemporer yang menggunakan metode ini.

Meskipun di sisi lain tak sedikit ulama yang menganggap bahwa penggunaan hisab secara murni (dalam kasus penentuan bulan Ramadan) juga dinilai sebagai bid’ah.

Baca Juga:  Puasa Daud: Niat, Kehebatan Manfaat Dan Tata Caranya

Kecuali juga dibarengi dengan metode rukyat.

Memahami Metode Rukyat

Dizaman dahulu (dimasa nabi dan beberapa tahun setelahnya) cara menentukan bulan baru sangat sederhana.

Yaitu menanti terbenamnya matahari terbenam dihari ke 29, Karena perhitungan hari dalam kalender Hijriah dimulai saat matahari tenggelam (waktu magrib).

Setelah itu, tinggal mencari kemunculan bulan sabit.

Bisa dipastikan bahwa malam itu sudah masuk tanggal 1, Jika ada minimal dua orang yang melihatnya hilal.

Sebaliknya, jika saat itu hilal tidak terlihat, maka jumlah hari dalam bulan tersebut akan digenapkan menjadi 30 hari.

Dalil mereka adalah sebagai berikut :

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

cara-menghitung-hisab-1-ramadhan

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

perbedaan-metode-hisab-dan-rukyat-dalam-penetapan-awal-bulan-qamariyah

Dari Hadist diatas dapat dilihat bahwa cara menentukan awal bulan yaitu dengan melihat bulan (hilal) secara langsung.

Jika bulan tersebut terhalang oleh awan, hendaknya disempurnakan bilangan bulan hingga tiga puluh hari.

Inilah maksud lafadh “faqduru lahu” dalam hadits di atas setelah menjama’ beberapa riwayat yang ada.

Penanggalan hijriah berdasarkan atas peredaran bulan mengelilingi bumi (revolusi bulan terhadap bumi).

Pergantian bulan ditandai dengan kemunculan bulan sabit muda pertama yang disebut dengan hilal (the first visible crescent) di kaki langit saat ghurub (terbenamnya matahari) dan juga diakhiri dengan dengan kemunculan hilal.

Secara ilmu astronomi bulan membutuhkan waktu selama 29,531 hari atau hampir 29,5 hari untuk mengitari bumi, maka tersisa dua hari dalam 1 bulan. Yaitu antara 29 hari dan 30 hari.

Maka penampakan hilal bisa dilihat jelang matahari terbenam dihari ke-29, apakah 1 bulan berakhir dengan 29 hari atau 30 hari.

Kenapa hal ini terjadi?, jawabannya cukup mudah yaitu karena penampakan bulan jika dilihat dari bumi akan berubah dari hari kehari.

Karena perubahan letak bulan inilah yang mengakibatkan “wajah bulan” akan mengalami perubahan juga.

Semakin menjauh dari matahari, maka cahaya bulan akan semakin luas.

Perubahan inilah yang kemudian jadi tanda, bahwa bulan sabit adalah awal atau akhir bulan (antara tanggal 29, 30, atau 1) dan purnama adalah tepat di hari tengah-tengah bulan (sekitar tanggal 15).

Baca Juga:  Puasa Mutih : Pengertian, Macam, Niat, Manfaat, Dan Hukum Islam

Dari pembacaan fase wajah bulan itu kemudian lahirlah metode yang kemudian kita kenal sebagai metode “rukyatul hilal”.

Cara Penetapan 1 Ramadhan Dengan Metode Rukyat.

Berasal dari kata rukyat yang secara etimologis berarti “melihat”. Hilal sendiri adalah bulan yang berbentuk celurit atau sabit yang tipis.

Jadi rukyatul hilal berarti cara menentukan awal bulan dengan melihat hilal (bulan sabit) langsung menggunakan mata diwaktu ghurub dikaki langit.

Baik dengan mata telanjang atau menggunakan alat bantu optik (Muhammad Hadi Bashori, Pengantar Ilmu Falak, hal. 193)

Berdasarkan hadist metode hilal dianggap paling sesuai untuk menentukan akhir bulan dan awal bulan. Yang jadi persoalan saat ini adalah melihat hilal sangat sulit.

Hal ini disebabkan karena hanya sekitar 1,25% bagian dari permukaan bulan saja yang terkena paparan sinar matahari.

Hal ini membuat penampakan bulan dari bumi hanya seperti garis lengkung tipis saja.

Apalagi hilal hanya akan terlihat ketika langit masih dalam keadaan terang di waktu magrib.

Terkadang hilal juga akan terlihat samar saat cahaya bulan kalah dengan berkas cahaya matahari. Atau, bisa juga tak nampak bila langit dalam keadaan mendung.

Di sisi lain, hilal juga muncul sebentar saja. Sekitar 15 menit sampai 1 jam sebelum akhirnya ikut tenggelam juga bersama matahari karena gerak rotasi bumi lebih cepat daripada gerak revolusi bulan.

Posisi matahari, cakrawala, dan hilal akan membentuk sudut segitiga jika dilihat diufuk barat bumi.

Hilal sebagai titik di sudut atas, matahari sebagai titik sudut bawah sedangkan garis pertemuan langit dan bumi sebagai garis di bawahnya.

Jarak antara bulan dan horison disebut sebagai sudut azimut. Sedangkan yang disebut sudut elongasi adalah garis antara bulan ke matahari ini.

Kelemahan Metode Rukyat

Untuk terlihat, hilal paling tidak harus berada di sudut azimut lebih 2 derajat dari matahari. Kasarnya, bulan harus ada di atas matahari.

Posisi ini dinamakan ijtimak. Posisi yang jika dilihat dari luar angkasa, bumi, bulan, dan matahari berada dalam satu garis lurus.

Posisi ini menandakan bahwa jarak bulan dan matahari sangat dekat jadi hilal tidak akan terlihat.

Baca Juga:  Lailatul Qadar: Tanda Tanda, Hadist, Keutamaan, Amalan,

Untuk mencapai sudut azimut 2 derajat, paling tidak diperlukan waktu 8 jam bulan beredar selepas ijtimak terjadi.

7 derajat adalah jarak ideal hilal bisa terlihat dengan mata telanjang. Jika posisi hilal kurang dari 7 derajat maka kita membutuhkan alat bantu teleskop.

Bahkan penggunaan teleskop pun memiliki batasan yaitu  pada sudut 3 derajat. Kurang dari itu menandakan jarak bulan dan matahari sangat dekat sehingga hilal tidak akan terlihat.

Perbedaan Metode Hisab Dan Rukyat Dalam Penetapan Awal Bulan Qamariyah

Sebenarnya perbedaan metode hisab dan rukyat dalam penetapan awal bulan qamariyah dalam hal ini penentuan 1 ramadhan, terletak pada konsep wujudul hilal (keberadaan hilal)

Pengguna metode hisab berasumsi bahwa melihat hilal bisa dengan cara menghitung (hisab) tanpa harus melihat menggunakan mata secara langsung.

Setelah melakukan hisab maka akan muncul hasil prediksi posisi bulan ada “disana” sekalipun wujudnya tidak terlihat.

Sedangkan konsep rukyatul hilal berpegang pada hadist nabi yang lebih condong untuk melihat hilal secara langsung dengan mata untuk menentukan akhir dan awal bulan.

Artinya, sekalipun wujud hilal ada, jika ia tidak bisa dilihat oleh manusia, maka itu tidak akan berarti sama sekali.

Meskipun harus diakui juga, metode kuno ini punya serangkaian kelemahan.

Dua metode ini adalah gambaran, bahwa dengan metode hisab, para ulama mencoba menggunakan pendekatan rasional.

Melihat pola, membacanya, lalu menyusun prediksi-prediksinya.

Semua dilakukan dalam rumus-rumus atau cara menghitung hisab 1 ramadhan. Sedangkan metode rukyat merupakan pendekatan empirik.

Bagaimana pengalaman menyaksikan tanda-tanda alam adalah penentu sebuah hukum syariat berlaku.

Penetapan 1 Ramadhan Di Indonesia

Pada akhirnya, seperti yang sudah dijalankan selama bertahun-tahun, pemerintah Indonesia menggabungkan dua metode ini secara bersamaan.

Pendekatan rasional dengan hisab dan pendekatan empirik dengan rukyat.

Metode hisab digunakan untuk menghitung kemungkinan wujud hilal dan posisinya, lalu dengan metode rukyat dikonfirmasi keberadaan hilal.

Jika dengan konfirmasi atau pembuktian dengan melihat hilal secara langsung, tetap tidak terlihat.

Maka sesuai dengan hadist yang mendasari metode rukyat yang berbunyi “jika tertutup, maka genapkanlah”. Bahkan meskipun hilal benar benar ada disana.