Pelarungan Dan Sedekah Bumi: Pengertian Dan Hukumnya Dalam Islam

834
hukum-sedekah-bumi-menurut-islam

Pelarungan Dan Sedekah Bumi Menurut Pandangan Islam

Jika Anda tinggal di pulau Jawa atau paling tidak pernah datang ke daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur pasti pernah mendengar ritual pelarungan dan sedekah bumi.

Acara ini memang dikemas secara menarik karena selain sebagai cara meneruskan tradisi namun juga dilakukan untuk menarik wisatawan agar mau berkunjuang.

Lalu bagaimana hukum pelarungan menurut syariat islam, termasuk juga sedekah bumi?.

Kita akan bahas secara rinci diartikel ini tapi sebelumnya tak salah jika kita mengenal dulu definisi pelarungan dan sedekah Bumi

Pengertian Sedekah Laut Pelarungan Dan Sedekah Bumi

Salah satu peninggalan nenek moyang yang terus dilakukan sampai sekarang adalah Sedekah Bumi.

Sedekah bumi ini adalah salah satu bentuk rasa syukur masyarakat Jawa atas hasil panen yang melimpah.

Pada zaman Hindu di Indonesia dulu ritual ini dikenal dengan sesaji bumi.

Karena sudah sangat melekat dimasa wali songo ritual ini tidak bisa serta merta dihapuskan.

Maka tata cara ritualnya lah yang selanjutnya diganti dengan cara yang lebih syariat.

Sesaji yang dulunya hanya ditinggal pada suatu tempat dan dibiarkan membusuk.

Oleh para wali diajarkan untuk diberikan pada anak yatim dan fakir miskin tanpa membedakan suku, agama, ras, atau golongan.

Yang berikutnya adalah pengertian larung sesaji, tak jauh beda dengan sedekah bumi.

Yang membedakan hanyalah tempat ritual yaitu dilaut, sebagai bentuk rasa syukur nelayan atas hasil laut yang melimpah.

Ritual ini umumnya dilakukan dengan menyembelih kepala hewan, mengumpulkan banyak makanan yang selanjutnya dibagikan pada masyarakat sekitar.

Namun tak sedikit pula yang membuangnya begitu saja ditengah laut.

Dan yang perlu menjadi perhatian bahwa pelaksanaan sedekah bumi dan pelarungan saat ini umumnya diikuti dengan hiburan rakyat yang terkadang jauh dari syariat islam.

Baca Juga:  Murtad: Pengertian, Macam Dan Tata Cara Taubatnya

Bagaiman Hukum Pelarungan Dan Sedekah Bumi Menurut Islam?

Untuk menentukan hukum acara pelarungan dan sedekah bumi yang biasa dilakukan sebagian masyarakat perlu diperinci, agar persoalannya menjadi jelas.

Pertama, jika pelarungan itu diniatkan sebagai persembahan kepada nyi roro kidul atau lainnya, maka hukumnya syirik atau paling tidak syibhus syirk (menyerupai syirik). Padahal menyerupai syirik itu sudah sangat dekat dengan kemusyrikkan.

Kedua, kalau tidak ada niat untuk dipersembahkan kepada Nyi roro Kidul, tapi semata mata meneruskan tradisi leluhur yang biasa melakukan ritual pelarungan juga tetap salah.

Sebab mengikuti tradisi leluhur tanpa menyaring mana yang bertentangan, seperti kebiasaan orang orang jahiliyah.

Mereka menyembah berhala atau yang lainnya karena semata mata untuk mengikuti kebiasaan nenek moyang mereka.

Ketiga, walaupun kegiatan ini memiliki tujuan besar, misalnya untuk menarik wisatawan yang akhirnya bisa mendatangkan keuntungan ekonomi, tetap saja tidak bisa dibenarkan.

Sebab untuk mendatangkan keuntungan ekonomi kita tidak boleh melakukannya dengan melanggar syariat.

Keempat, kegiatan pelarungan yang dilakukan dihadapan orang banyak yang masih awm, akan berdampak buruk yaitu membuat mereka salah paham.

Meraka bisa saja beranggapan kalau tradisi itu sudah benar.

Cara Menghadapi Tradisi Sedekah Bumi Dan Laut

Jalan keluar yang bisa ditempuh menghadapi tradisi ini diantaranya adalah niatnya harus dijaga.

Yaitu sedekah untuk memohon kepada Allah SWT, baik mohon keselamatan maupun jauh dari bala’.

Caranya juga tidak boleh melanggar dengan syariat misalnya dengan melakukan sedekah Bumi menggunakan hasil panen.

Setelah didoakan makanan atau hasil bumi itu kemudian dimakan bersama sama masyarakat. Bahkan lebih baik lagi jika mengundang anak yatim dan kaum dhuafa.

Kalau kepala kerbau serta hasil bumi itu dibiarkan atau dibuang begitu saja ditempat tertentu, maka sudah masuk kategori tabdzir (mubadzir).

Baca Juga:  Nadzar: Pengertian, Syarat, Hukum, Puasa Dan Shalat Nadzar

Bukankah perilaku mubadzir termasuk perilaku setan dan pelakunya merupakan temannya setan?.

keterangan Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Mu’in menyebutkan:

hakikat-dan-hukum-sedekah-bumi

Keterangan Syekh Zainuddin Al-Malibari di atas ini kemudian diulas lebih lanjut Oleh Syekh Sayid Bakri bin Sayid M Syatha Ad-Dimyathi dalam I‘anatut Thalibin berikut ini:

makna-daan-hakikat-sedekah-bumi-dalam-islam

Taqarrub dengan yakin bahwa Allah dapat melindungi pemotongnya dari gangguan jin, (maka daging) hewan sembelihan-(nya halal dimakan) hewan sembelihannya menjadi hewan qurban karena ditujukan kepada Allah, bukan selain-Nya.

(Tetapi kalau jin-jin itu) bukan Allah (yang ditaqarrubkan, maka daging sembelihannya haram) karena tergolong daging bangkai.

Bahkan, jika seseorang berniat taqarrub dan mengabdi pada jin, maka tindakannya terbilang kufur.

Jadi sebagai umat Islam baiknya kita bijak menyikapi berbagai macam tradisi, karena jika ditolak mentah mentah tentu akan menimbulkan perselisihan.

Sebaliknya jika ditelan utuh dikhawatirkan akan merusak keimanan kita sendiri.