Nafkah Istri: Pengertian, Hukum, Besaran, Yang Didahulukan

1422
lebih-utama-istri-atau-ibu

Nafkah Istri Menjadi Kewajiban Suami Dengan Syarat Dan Hukum Dalam Syariat Islam.

Keharmonisan rumah tangga tentu tak bisa lepas dari pencukupan nafkah keluarga dari suami.

Tak jarang rumah tangga menjadi retak jika suami tak bisa mencukupi nafkah bagi keluarga terutama istri.

Belum lagi jika sang suami memiliki ibu yang harus ia tanggung karena beberapa sebab. Lalu bagaiman jika nafkah pas pasan, siapa yang didahulukan ibu atau istrinya?.

Mari kita simak ulasan dibawah ini.

Pengertian 

Menurut bahasa atau etimologis nafkah berasal dari kata Infaq yang berarti membelanjakan.

Dalam Mu’jamul Wasith dijelaskan bahwa nafkah adalah apa apa yang dikeluarkan oleh seseorang suami untuk keluarganya berupa makanan, tempat tinggal, pakaian dan kebutuhan lainnya. Ini adalah batasan tentang makna nafqah dari para ulama.

Nafkah istri juga mencakup keperluan istri waktu melahirkan dan pemenuhan biologis untuk istri.

Berdasarkan wujudnya nafkah dibedakan menjadu dua yaitu nafkah lahir dan nafkah batin.

Pengertian Nafkah Lahir Dan Batin

Nafkah lahir adalah sesuatu yang wajib diberikan suami pada istri secara langsung dalam wujud benda yang terlihat.

Makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal termasuk dalam nafkah lahir.

Sedangkan nafkah batin adalah nafkah dari suami kepada istri berupa kebahagiaan termasuk menggauli istri hingga hasrat seksualnya terpenuhi.

Hukum Memberikan Nafkah Istri

Yang dimaksud nafkah adalah apa yang diberikan suami pada istri dan anak-anaknya berupa makanan, pakaian, tempat tinggal, dan sejenisnya.

Baca Juga:  Masa Iddah: Pengertian, Macam, Tujuan Dan Hikmah

Adapun dasar hukum kewajiban menafkahi istri ini ditetapkan dengan dasar hukum Al-Qur’an, sunnah, ijma’ dan pertimbangan logika.

Sesuai dengan dalil Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 233:

dahulukan-kebutuhan-istri-atau-ibu

Para ulama sepakat bahwa wajib hukumnya bagi seorang suami untuk memberi nafkah istri jika suami telah berusia baligh (Ijma’ ulama).

Tapi kewajiban ini menjadi gugur jika istri berbuat nusyus (membangkang).

Adapun nafkah yang dimaksud dalam surat Ath-Thalaq ayat 7 dan Al-Baqarah ayat: 233 ini adalah semua yang telah diketahui oleh kebanyakan orang, dalam sebuah masyarakat dan yang telah mereka jadikan adat dan terjadi secara berulang-ulang.

Besaran Nafkah Suami Untuk Istri

Tempat tinggal, kebutuhan makan minum dan pakaian, merupakan 3 kebutuhan pokok yang mesti dipenuhi oleh suami pada setiap istrinya.

Tapi terlepas dari kebutuhan primer tersebut masih ada tanggungan suami untuk memenuhi kebutuhan nafkah guna keperluan berobat, menuntut ilmu, membeli mebel dan perabot rumah tangga, juga nafkah untuk pembantu dan pengasuh anak.

Nafkah tersebut sangat tergantung pada kebiasaan adat temat tinggal suami istri itu sendiri.

Kadang pembantu memang begitu mendesak di sebagian masyarakat atau di suatu keluarga.

Maka saat itu menghadirkan pembantu dan memberikan nafkah padanya dinilai menjadi hal yang wajib dilakukan.

Ada juga di masyarakat, pembantu bukanlah suatu yang dianggap penting karena istri sudah bisa menangani seluruh pekerjaan rumah.

Jika demikian, berarti menyediakan pembantu tidaklah perlu.

Lalu besaran nafkah bagaimana?. Mengingat kebutuhan nafkah setiap rumah tangga berbeda maka cara yang paling tepat untuk mengukur besaran nafkah adalah dengan mengembalikan pada kebiasaan masyarakatt setempat.

Bisa jadi nafkah untuk keluarga di desa berbeda dengan di kota.

Mana Yang Lebih Dahulu Nafkah Istri Atau Ibu

Pada dasarnya menafkahi istri dan orang tua (yang sudah tidak mampu) harus berjalan beriringan.

Baca Juga:  Wanita Bekerja: Pengertian, Manfaat, Hukum Dalam Islam

Tidak memilih satu dan yang lain ditinggalkan, dan ini harus diusahakan dengan sekuat mungkin.

Seperti itulah agama menginginkan, dan tentunya kita semua bercita-cita bahwa istri dan kedua orang tua kita dirumah hidup bahagia.

Namun jika memiliki pemasukan yang cukup atau bahkan kurang, maka para ulama berpendapat bahwa nafkah untuk istri dan anak harus lebih diutamakan sebelum nafkah yang lainnya.

Hal ini disandarkan ke beberapa teks agama utamanya dari hadits Rasulullah saw, seperti dalam riwayat Imam Muslim:

hadits-tentang-nafkah-untuk-keluarga

Dari hadist diatas nampak bahwa urutan untuk memberi nafkah adalah bagi sendiri dan selanjutnya nafkah untuk ahlimu

Sekali lagi bahwa sebisa mungkin masalah nafkah istri dan orang tua harusnya berjalan beriringan.

Tidak memilih satu dan yang lain ditinggalkan dan ini harus diusahakan dengan sekuat mungkin.

Seperti itulah agama menginginkan, dan tentunya kita semua bercita-cita bahwa istri dan kedua orang tua kita dirumah hidup bahagia.

Terlalu memihak kepada istri dalam urusan nafkah terkadang bisa membuat hati kedua orang tua tidak enak.

Kami khawatir kalau-kalau yang demikian bisa menjadi dosa durhaka kepada orang tua, lebih khawatir lagi jika kisah Al-Qamah yang durhaka itu terulang kembali, yang  pada akhirnya sangat susah sakaratul mautnya.

Dan sebaliknya, terlalu memihak kepada orang tua sehingga abai terhadap nafkah istri juga bukan hal yang baik.

Karena sebaik-baik kalian adalah yang paling baik degan keluarganya, dan saya (tegas Rasulullah saw)  adalah yang paling dengan keluarga

Sikap Wanita Saat Suami Memberi Nafkah Orang Tuanya

Dukunglah suami yang ingin berbakti kepada orang tuanya sekaligus tetap mencintai dan bertanggung jawab kepada Anda.

Kalau memang sedikit, maka nikmat sedikit itu tetap bisa dirasakan bersama sama. Seperti Halnya ungkapan Orang jawa (tepo seliro): “Akeh podo wareke, titik podo luwene”

Baca Juga:  Masa Iddah: Pengertian, Macam, Tujuan Dan Hikmah

Andai suami Anda langsung meninggalkan orang tuanya dan hanya mencintai Anda, justru hal semacam ini tidak boleh. Dan Anda juga tidak boleh mendukungnya.

Karena orang tua suami Anda telah berjasa membesarkan dan mendidik selama sekian tahun.

Dan tidak elok rasanya kehadiran Anda yang baru beberapa bulan mengalahkan kehadiran orang tua yang sudah merawat dari dalam kandungan.