Nadzar: Pengertian, Syarat, Hukum, Puasa Dan Shalat Nadzar

1140
antara-nadzar-dan-hutang

Nadzar Sebagai Kesanggupan Yang Wajib Dilakukan Menurut Hukum Islam.

Sebagai manusia terkadang kita memiliki hajat yang ingin tercapai.

Bahkan karena hajat tersebut sangat penting menurut kita, sampai secara sadar kita mengucapkan kata “jika saya mendapatkan … maka saya akan berpuasa atau sholat dan perbuatan lainnya.

Ucapan itulah yang sering kita sebut dengan nadzar.

Dalam Islam setiap muslim yang bernadzar wajib melakukan apa yang dinadzarkan jika apa yang dikehendaki tercapai.

Karenanya dalam bernadzar hendaknya kita berhati hati, dan dalam Islam ada ketentuan ketentuan serta hukum melakukan nadzar.

Pengertian Nadzar

Nazar secara bahasa adalah janji (melakukan hal) baik atau buruk.

Sedangkan menurut pengertian syara’, nadzar adalah menyanggupi melakukan ibadah (qurbah; mendekatkan diri kepada Allah) yang bukan merupakan hal wajib (fardhu ‘ain) bagi diri orang yang bernadzar.

Maka berdasarkan pengertian di atas, nazar dianggap tidak sah jika menadzarkan perbuatan yang mubah, makruh (menurut pendapat yang rajih [kuat]), dan haram.

Begitu juga tidak sah bernazar akan melakukan sesuatu yang wajib atau fardhu ‘ain baginya, seperti bernazar akan melakukan shalat lima waktu.

Sebab meskipun tidak dinazarkan shalat lima waktu, sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim (Sayyid Ahmad bin ‘Umar As-Syatiri, al-Yaqut an-Nafis fi Madzhabi Ibni Idris, hal. 227).

Dengan demikian menurut hukum syara’, perkara yang dapat dinazarkan adalah perkara  sebagai perbuatan sunnah atau fardhu kifayah.

Seperti mengucapkan nadzar akan menshalati jenazah fulan, akan bersedekah kepada fakir miskin, dan contoh hal-hal sunnah dan fardlu kifayah yang lain.

Maka dengan adanya nadzar akan memberikan dampak pada perkara yang asalnya dihukumi sebagai sunnah atau fardhu kifayah menjadi hal yang wajib baginya.

Misalnya, bersedekah kepada fakir miskin yang menjadi wajib bagi orang yang bernazar akan melakukan hal tersebut padahal semula hukumnya adalah sunnah.

Baca Juga:  Pengertian, Macam Dan Dasar Hukum Bermadzhab

Begitu juga melaksanakan shalat jenazah berubah menjadi fardhu ‘ain bagi orang yang menazarkannya padahal asal hukumnya adalah fardhu kifayah,.

Macam Macam 

Nadzar dibedakan menjadi 5 kategori yang dikelompokkan berdasarkan segi perbuatannya, seperti:

  1. Nadzar Syirik

    Yang dimaksud nadzar syirik adalah adalah nadzar yang termasuk dalam menyekutukan Allah.
    Seperti bernadzar untuk menyembah berhala atau bernazar untuk lebih mendekatkan diri kepada selain Allah.

    Dengan melakukan niat tersebut tentu saja nadzar yang kalian ucapkan tidak sah dan tidak ada kafarah.

  2. Nadzar Makruh

    Nadzar makruh adalah perbuatan bernadzar untuk melakukan hal yang memiliki hukum makruh.
    Sebagai contoh mengucapkan nadzar untuk merokok. Maka akan ada dua pilihan yaitu sesegera mungkin melakukan apa yang telah diucapkan (nadzar) atau membayar kafarah.

  3. Nadzar Mubah

    Adalah Nadzar utnuk melakukan sebuah perkara yang diperbolehkan atau mubah tapi bukan merupakan suatu ibadah. Dalam hal ini para ulama sepakat jika nadzar ini tidak dilakukan bukanlah sebuah dosa.

  4. Nadzar Taat Dan Ibadah

    Dalam jenis ini kalian bisa bernadzar untuk melakukan beberapa ibadah sunnah seperti puasa sunnah, i’tikaf, sedekah, sholat sunnah atau juga melakukan umrah.

    Dan hukum untuk menunaikannya adalah wajib. Jadi ketika Anda tidak segera menunaikannya Anda harus membayar kafarah atau sebuah tebusan untuk melunasi nazar yang kalian sudah ucapkan

  5. Nazar Maksiat

    Nazar maksiat adalah untuk melakukan hal yang dilarang oleh agama, seperti berzina dan mengkonsumsi miras.

    Maka hukum untuk menunaikannya menjadi tidak wajib karen jika melakukan berarti Anda telah berbuat dosa.

Salah satu ibadah yang sering diucapkan sebagai nadzar adalah puasa nadzar.

Syarat Sah 

Saat bernadzar hendaknya melafazkan hal yang mengandung sebuah kepastian untuk menyanggupi melakukan suatu hal, karena ini merupakan syarat sahnya nadzar.

Misalnya, perkataan “Saya bernazar akan puasa pada hari Senin dan Kamis”, “Jika saya peringkat satu, saya akan memberi hadiah pada ibu”, dan perkataan-perkataan lain yang mengandung sebuah kepastian untuk melakukan suatu hal.

Bila perkataan tidak mengandung kepastian untuk melakukan suatu hal maka perkataan tersebut tidak dikategorikan sebagai nazar.

Misalnya, seseorang mengatakan “Jika saya lulus sekolah, kemungkinan besar saya akan memberikan motor saya”, “Bisa jadi besok saya akan puasa”, dan semacamnya.

Saat seseorang bernazar akan menunaikan ibadah tertentu dengan penyebutan secara umum.

Maka yang wajib ia lakukan adalah sebatas sesuatu yang dapat dinamai sebagai perbuatan ibadah tersebut (ma yaqa’u alaihi-l-ismu).

Misalnya, seseorang mengatakan, “Jika saya sembuh, saya akan puasa” maka hal yang wajib ia lakukan adalah cukup berpuasa selama satu hari saja, sebab puasa satu hari sudah dapat disebut sebagai ibadah puasa.

Perkataan “Saya pasti akan melakukan shalat di malam hari” maka nazar seseorang akan terpenuhi dengan melaksanakan dua rakaat di malam hari.

Jika seseorang mengucapkan “Saya akan bersedekah kepada fakir miskin” .

Maka yang menjadi kewajiban untuk ia nadzarkan adalah dengan menyedekahkan bilangan uang yang paling sedikit yang masih memiliki nilai tukar (aqallu mutamawwalin).

Seperti menyedekahkan uang 500 rupiah, sebab memberikan uang 500 rupiah pada fakir miskin sudah dianggap sebagai sedekah (Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib, hal. 324) .

Berbeda halnya ketika hal yang dinazarkan (al-manzur bih) tidak bersifat umum, tapi sudah ditentukan.

Misalnya, perkataan “Jika saya juara kelas, maka saya akan puasa selama satu minggu” maka wajib baginya untuk melakukan puasa nadzar sesuai dengan hal yang sudah ia tentukan, yakni satu minggu.

Begitu juga dengan ibadah ibadah lain yang telah ditentukan besarannya maka ketentuan diatas juga berlaku.

Apa Itu Puasa Nadzar?

Puasa nazar adalah puasa yang dilakukan sebgaai pemenuhan nadzar yang mengikrarkan akan berpuasa jika hal yang diharapkan tercapai.

Puasa nadzar pada awalnya tidak memiliki hukum, tapi setelah nadzar itu diikarkan maka hukumnya menjadi wajib.

Dengan demikian, wajib bagi seseorang saat menetapkannya janji bagi dirinya sendiri untuk melakukan puasa nazar yang dikaitkan dengan berbagai hal dalam hidupnya.

Baik berupa pencapaian keberhasilan, sembuh dari sakit, atau lain sebagainya.

Jadi jika Anda bernadzar untuk berpuasa, maka saat harapan tersebut terkabulkan Anda wajib melakukan puasa.

Bacaan niat puasa nazar adalah sebagai berikut:

arti-dan-niat-nadzar-dalam-islam

Kafarah

Diatas sudah dijelaskan bahwa bagi siapapun yang sudah mengucapkan nadzar, pastinya mereka harus menebusnya ketika apa yang telah mereka inginkan sudah dikabulkan oleh Allah SWT.

Namun jika Anda tidak menebusnya, maka diwajibkan untuk membayar kafarah atau dalam istilah lain adalah tebusan.

Dan berikut adalah beberapa kafarah atau tebusan yang bisa menggantikan sebuah nadzar, yaitu:

  1. Memberi makan kepada sepuluh orang miskin atau orang yang kekurangan
  2. Memerdekakan satu orang budak
  3. Memberi sebuah pakaian kepada sepuluh orang miskin atau orang yang kekurangan
  4. Jika dari ketiga bentuk atau jenis kafarah diatas belum bisa ditunaikan, maka boleh diganti dengan berpuasa selama tiga hari.

Ada juga pertanyaan yang muncul seperti, apakah boleh nazar diganti dengan Shalat?. Tidak ada penjelasan dalam Al qur’an tentang hal ini.

Bahkan untuk diganti dengan shalat taubatpun tidak ada hukum yang mendasari, karena Shalat taubat ditujukan untuk memohon ampunan bukan menunaikan nadzar

Hukum Dalam Islam 

Dalam Sebuah hadist disebutkan:

niat-dan-syarat-nadzar

Oleh karena itu, Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari (11/578) sangat heran terhadap sebagian ulama yang berpendapat bahwa nadzar hukumnya sunnah (mustahab) seperti An-Nawawi rahimahullah, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang darinya.

Maka pendapat jumhur yang menyatakan bahwa bernazar hukumnya makruh adalah anggapan yang rajih (kuat) adalah.

Ini yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (35/354) dan Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam berbagai kitabnya, di antaranya asy-Syarhul Mumti’ (6/451).

Sesungguhnya larangan yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada asalnya menunjukkan haram.

Tapi ternyata ada qarinah (dalil) yang memalingkan dari hukum asal itu, maka hukumnya menjadi makruh.

Di sini, qarinah itu adalah perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits lain yang memerintahkan untuk menunaikan nadzar.

Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menunaikannya maka nadzar bukan memiliki hukum haram melainkan makruh.

Incoming search terms:

  • apa pengertian puasa
Baca Juga:  Qada Dan Qadar: Macam, Dalil, Persamaan, Perbedaan