Menyapih Bayi: Pengertian, Tata Cara Dan Hukum Dalam Islam

1319
cara-menyapih-anak-secara-alami

Menyapih Bayi Sesuai Dengan Hukum Islam Dan Tata Caranya.

Bagi kedua orang tua kesehatan anak adalah maslah yang pasti diutamakan. Seorang ibu rela bangun malam untuk memberikan nutrisi lengkap lewat ASI.

Tapi tahukah Anda ternya proses menyapih juga tak kalah penting dari proses pemberian ASI?.

Untuk menjaga psikologis anak penting rasanya kita tahu proses menyapih yang benar terutama dalam segi agama.

Silahkan simak ulasan legkap tentang menyapih bayi dibawwah ini.

Pengertian Menyapih Bayi

Menyapih bayi adalah tahapan untuk menghentikan proses menyusui baik dilakukan secara berangsur atau sekaligus.

Proses itu dapat disebabkan oleh si anak itu sendiri untuk berhenti menyusui atau bisa juga dari sang ibu untuk berhenti menyusuianaknya, atau keduanya dengan berbagai alasan.

Menyapih merupakan proses bertahap yaitu mula-mula dengan mengurangi pemberian ASI (Air Susu Ibu), sampai dengan berhentinya proses pemberian ASI.

Sedangkan mengenai waktu yang tepat kapan harus menyapih anak tidak ada waktu pasti karena memang sangat tergantung pada kondisi ibu dan bayi.

Usia 1-2 tahun  menjadi usia umum yang dipilih banyak orang tua untuk menyapih anaknya.

Masa pembrian Asi eksklusif menurut WHO adalah 6 bulan pertama sejak bayi lahir, dan 6 bulan berikutnya dianjurkan untuk tetap diberikan dengan didampingi makanan tambahan.

Asi dapat tetap diberikan sampai bayi umur dua tahun lebih.

Tata Cara Menyapih Bayi Dalam Islam

Islm sebagai agama yang sempurna juga memberikan anjuran menyapih dengan cara yang benar, yaitu:

  1. Niat Dan Doa

Dalam islam kita dianjarkan untuk menjalankan aktifitas sehari hari dengan tujuab beribadah paa Allah.

Dan sebuah ibadah hendaknya didahului dengan niat, termasuk dalam menyapih anak.

Baca Juga:  Mengadzani Bayi: Pengertian Waktu, Tata Cara Dan Hukum Islam

Niatkanlah menyapih anak dengan ibadah untuk mendapat berkah dari Allah SWTdan hendaknya diawali dengan Bismillah.

Tidak ada doa khusus untuk mempersiapkan si kecil agar tak lagi ketergantungan ASI.

Namun Anda bisa memohon kelancaran proses menyapih pada Allah SWT, Terutama saat setolah sholat fardhu.

  1. Perhatikan Usianya

Jauh sebelum WHO memutuskan untuk pemberian Asi dalam 2 tahun, Isalm telah lebih dahulu melakukan hal ini dan tercantum dalam Al –Quran:

Allah SWT telah berfirman mengenai hal ini dalam Al-Quran.

cara-menidurkan-anak-setelah-disapih

Namun jika karena suatu hal ibu haus menghentikan pemberian Asi lebih awal sebelu 2 tahun maka dalam Islam diperbolehkan.

hukum-menyapih-anak-menurut-islam

Ada suatu pendapat yang menyebutkan menyapih sebaiknya saat usia bayi masih kurang dari 21 bulan dan jangan melebihi.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam as-Shadiq.

“Periode ibu menyusui anak harus minimal dua puluh satu bulan. Jika seseorang memberi makan anak untuk periode yang lebih sedikit, itu akan menyebabkan kesulitan bagi anak tersebut.”

  1. Sabar Dan Bijaksana

Faktanya bagi seorang ibu proses menyapih bukanlah perkara yang mudah, karena pasti ada rasa tidak tega setiap kali sikecil ingin minum ASI.

Tetaplah sabar dalam menjalaninya. Konsisten hati bahwa ini dilakukan untuk kebaikan si kecil.

Tak apa untuk menggunakan trik tertentu yang dinilai aman.

Misla ada beberapa ibu yang memanfaatkan wewangi alami dan perasa pahit alami untuk dioleskan pada daerah payudara agar anak enggan untuk menyusui.

Apapun cara yang dilakukan, sebaiknya Bunda tetap perhatikan psikologis si kecil.

Untuk tumbuh kembang sikecil penting kiranya menjaga suasana menyapih agar tidak menimbulkan efek trauma secara psikologis pada si kecil.

  1. Mengetahui Informasi MPASI Yang Baik

Dalam ajaran agama Islam, kadar halal dan toyyib atau halal serta kebaikan makanan menjadi hal yang perlu untuk diperhatikan.

Hal ini tentunya juga berlaku untuk pemberian MPASI pada si kecil,

Tak hanya halal, ibu pun sebaiknya memerhatikan kadar kebaikan makanan tersebut bagi si kecil.

Baca Juga:  Mengadzani Bayi: Pengertian Waktu, Tata Cara Dan Hukum Islam

Perluas pengetahuan Bunda dengan mengetahui tekstur, bahan, dan kandungan makanan dan minuman yang cocok untuk usia anak.

  1. Lakukan Perlahan

Tak dapat dipungkiri bahwa proses menyapih mmebutuhkan kerja sama yang baik antara orang tua dan anak. Jadi sebaiknya jangan terlalu memaksakan apalagi sampai membandingkan si kecil dengan anak lain.

Cobalah untuk berkomunikasi dengan baik dengan si kecil bahwa ia sudah cukup besar untuk tidak lagi menyusu.

Bunda juga bisa bertahap membiasakan si kecil minum ASI di botolnya atau minum susu formula di botol.

  1. Peran Ayah Dalam Menyapih

Cara menyapih yang tepat dalam Islam adalh dengan melibatkan peran serta ayah sehingga sang ibu tetap merasa nyaman dan tenang atau tidak stres.

Cara Islam sangat mengatur hal ini yang sudah banyak ditegaskan mengenai tanggung jawabnya dalam Al-Quran.

Beberapa peran vital ayah dalam proses ini antara lain:

  • Memberikan dukungan dan dorongan moral.
  • Menyediakan sarana untuk memberi kebutuhan terbaik anak dan ibu.
  • Biaya perawatan bayi harus ditanggung oleh ahli warisnya (biasanya kakek dari pihak ayah bayi), jika ayah meninggal selama masa menyusui dan menyapih.
  • Membahas dan memutuskan menyapih bersama dengan ibu.
  • Fakta bahwa ayah harus menjadi orang utama yang bertanggung jawab atas keuangan sangat penting dalam Islam, bahkan jika pasangan bercerai, ayah harus terus membayar biaya ibu dan anak sampai bayi disapih (dalam waktu dua tahun).

Hukum Menyapih Bayi Kurang Dari 2 Tahun

Diatas sudah dijelaskan bahwa masa menyusui dalam Islam adalah 2 tahun.

Sesuai dengan Firman Allah SWT:

cara-menyapih-anak-menurut-islam

Namun juga tidak dilarang untuk menghentikan proses pemberian ASI jika anak berusia kurang dari 2 tahun.

Karena menyusui sampai anak berusia 2 tahun dalam Islam adalah anjuran dan bukan kewajiban.

Ini diterangkan dalam penghujung ayat tersebut,

pengalaman-menyapih-anak-menurut-islam

Pemberian ASI selama dua tahun bukan tanpa alasan, karena sangat berkaitan dengan nutrisi yang diteriam bayi.

Baca Juga:  Mengadzani Bayi: Pengertian Waktu, Tata Cara Dan Hukum Islam

Hal ini membuktikan bahwa Islam agama yang sempurna dan mengatur kebaikan bagi semua hamba-Nya termasuk pada tumbuh kembang bayi sekalipun.

Bahkan dalam dunia medis telah terbukti bahwa anak yang mendapat asupan Asi selama 2 tahun dapat tumbuh menjadi anak yang lebih sehat.

Bhakan ada beberpa negara maju yang dengan sukarela memberikan cuti selama 2 tahun pada warganya pasca melahirkan.

Dengan tujuan agar ibu dapat memanfaatkan masa menyusui selama 2 tahun dengan maksimal untuk tumbuh kembang bayi yang maksimal pula.

Ilmu kesokteran yang erkembang pada negara maju membagi proses menyusi ini menjadi 3 tahapan.

Yang pertama adalah masa eksklusif (hanya Asi) untuk 6 bulan pertama pasca bayi dilahirkan.

Saat ini bayi hanya diijinkan mengonsumsi Asi tanpamakanan tambaha sedikitpun.

Dan menginjak bulan berikutnya (bayi 6bulan +) barulah bisa ditambah MP ASI. Diusia ini bayi mulai belajar duduk, berdiri lalau berjalan serta mengalami masa pertumbuhan gigi.

Keempat aktivitas ini, memerlukan tulang yang kuat, energi yang tepat, serta tenaga yang besar.

Jadi diperlukan makanan tambahan disamping ASI yang terus diberikan hingga dua tahun.

Hukum Menyusui Anak Lebih Dari Dua Tahun

Sebagaimana dibolehkan untuk menyapihnya kurang dari dua tahun, dibolehkan pula untuk menyusui anak hingga berumur lebih dari dua tahun, dengan dua syarat:

Tidak membahayakan kesehatan anak maupun ibu

Disepakati kedua orang tuanya

Allahu berfirman,

menyapih-anak-umur-berapa

Al-Qurthubi mengatakan dalam tafsirnya:

“Kalimat ‘bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan‘ dalil bahwa menyusui selama dua tahun tidak wajib.

Boleh menyapih sebelulm dua tahun. Batasan dua tahun ini tujuannya adalah untuk memutus perselisihan antara suami istri dalam menentukan masa menyusui.

Sehingga jika bapaknya menginginkan agar anaknya disapih sebelum dua tahun, sementara ibu tidak rela, maka bapak tidak boleh memaksakan.

Dengan demikian, lebih atau kurang dari dua tahun hanya boleh dilakukan selama tak membahayakan anak atau ibu dan sesuai kesepakatan kedua orang tua. (Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, 3:162).