Mengadzani Bayi: Pengertian Waktu, Tata Cara Dan Hukum Islam

2209
cara-mengadzani-bayi

Mengadzani Bayi Baru Lahir Pada Waktu Dan Tata Cara Yang Tepat.

Anak merupakan anugerah dan titipan terbesar yang Allah SWT berikan kepada sepasang suami istri.

Calon ayah dan ibu anak yang masih dalam kandungan akan merasakan bahagia luar biasa saat kehadiran buah hati.

Dengan harapan anaknya akan terlahir sempurna dimuka ibu ini calon ayah dan ibu mereka pasti akan sangat berhati hati menjaga buah hati sejak dalam kandungn.

Bahkan setelah lahirpun dengan harapan anaknya menjadi anak yang ahli dari ibadah dan atau terhindar dari gangguan jin, seorang ayah dianjurkan untuk mengadzani bayi baru lahir.

Tapi apakah hal ini memang dianjurkan dalam Islam?.

Pengertian Adzan

Secara bahasa adzan berarti pemberian atau seruan.

Sebagaimana Allah berfirman dalam surat At Taubah ayat 3 yang artinya ”dan ini adalah seruan dari Allah serta rasul-Nya kepada umat manusia”.

Sedangkan secara istilah adalah seruan yang menandai masuknya waktu shalat 5 waktu dan dilafazhkan dengan lafash tertentu dan sudah diatur dalam syariat.

Maka mengadzani bayi adalah melafalkan adzan pada telinga bagi sesaat setelah ia dilahirkan.

Dan biasanya diikuti dengan bacaan iqomat pada telinga kiri bayi.

Sedangkan Iqamah secara istilah adalah pemberitahuan atau seruan bahwa shalat akan segera didirikan dengan menyebut lafadz kuhusus yang sama dengan bacaan adzan.

Karenanya iqamat sering disebut sebgai adzan kedua.

Waktu Dan Tata Cara Mengadzani Bayi

Sunnahnya adzan dan iqamah itu ditempat yang mulia dan bersih.

Kalau bayi lahir belum dibersihkan langsung diadzani, artinya kita adzan ditempat istri melahirkan.

Baca Juga:  Menyapih Bayi: Pengertian, Tata Cara Dan Hukum Dalam Islam

Yang mungkin masih banyak darah dan disitu juga istri dalam keadaan hadast besar yakni nifas dan wiladah.

Sibayi pun juga belum dalam keadaan bersih. Adzan dan Iqomah ditempat seperti itu hukumnya makruh.

Sehinga sebaiknya setelah bayi lahir dibersihkan dan istri yang melahirkan dala keadaan bersih.

Lantas sang suami dipanggil untuk mengumandangkan adzan dan iqamah.

Cara seperti ini baik yakni memuliakan adzan dan iqamah karena keduanya itu harus dilakukan ditempat dan bersama orang yang sudah bersih.

Meskipun mengadzani bayi ketika belum dibersihkan ini pun tidak sampai dihukumi haram.

Hal semacam ini sudah menjadi tradisi dimasyarakat ketika bayi dilahirkan, maka orang tuanya segera mengadzani pada telinga kanan dan mengiqamah pada telinga kiri.

Para ulama sepakat kalau hal itu merupakan sunnah nabi Muhammad SAW.

Berdasarkan sebuah hadist yang menyebutkan bahwa rasulullah SAW mengadzani telinga syaidina Husain Bin Ali ketika Sayyidah Siti Fatima ra melahirkannya.

Dan sebagian ulama berpendapat selain mengumandangkan adzan juga disunnahkan mengumandangkan iqamah ditelinga kiri sang bayi (al-Adzkar an-nawawi: 253)

Adapun fadhilanya adalah untuk mengusir setan dari anak yang baru dilahirkan karena setan akan lari ketika mendengan adzan (majmu’ fatawa wa rasail:112)

Jadi tradisi mengumandangkan adzan dan iqamah pada bayi yang baru lahir itu sunnah dan sebaiknya dilakukan ketika bayi dan ibunya dalam keadaan bersih.

Jika ituu dilakukan ketika bayi masih dalam keadaan kotor maka hukumnya makruh.

Mengadzani Bayi Baru Lahir Menurut Islam

Sebagian ulama menyebutkan bahwa adzan ditelinga bayi disyariatkan dalam Islam.

Dan ini telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepada kedua cucunya Al-hasan ,Al-husain ketika baru lahir.

Hal ini berdasarkan hadits dari Ubaidillah Bin Abu Rafi’ia menuturkan :

Baca Juga:  Menyapih Bayi: Pengertian, Tata Cara Dan Hukum Dalam Islam

hukum-mengadzani-bayi-baru-lahir-menurut-islam

Hadits senada juga berasal dari Ibnu Abbas yang menuturkan:

adzan-bayi-baru-lahir-di-telinga-mana

Al Husain bin Ali menuturkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda :

bayi-perempuan-baru-lahir-di-adzan-atau-iqamah

Berdasarkan hadis-hadis dapat dilihat bahwa mengadzani bayi yang barulahir adalah sunnah sesuai dengan apa yang telah nabi lakukan pada kedua cucunya.

Namun  beberapa ulama tidak setuju dengan pendapat diatas karena mereka menganggap mengadzani bayi adalah hal yang tidak disyari’atkan tau tidak disunnahkan.

Sebab hadits-hadits yang menjelaskan tentang adzan pada telinga bayi yang baru lahir semuanya bermasalah. Sanadnya lemah dan tidak ada dalil lain yang menjadi penguatnya.

Bahkan sebagian ulama hadis menegaskan salah satu perawi hadis tersebut matrukul hadist atau hadits yang ditinggalkan karena dianggap hadits palsu.

Tapi ulama besar seperti At-Tirmidzi memposisikan hadist tentang mengadzani bayi ini hasan.

Karena ada beberapa riwayat yang semakna dan bisa menjadikannya benar serta bisa dijadikan sebagai dalil.

Namun sampai sekarang belum ada para ulama yang menyatakan bahwa mengadzani bayi itu dilarang atau haram.

Pendapat Ulama Yang Memperbolehkan Mengadzani Bayi

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah adalah salah satu ulama yang membolehkan mengadzani bayi.

Bahkan beliau menjelaskan maksud dari mengadzani telinga bayi dalam kitabnya Tuhfatul Maudud Di Ahkamil Maulud.

Bahwa adzan pada telinga bayi dilakukan dengan alasan agar kalimat yang pertama kali didengar oleh seorang anak manusia ketika hadir di dunia ini adalah kalimat tauhid.

Yaitu kalimat yang membesarkan dan menentukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Juga tentang dua kalimat syahadat.

Syekh Abdul Aziz Bin Abdullah sebagai ulama kontemporer ketika ditanya tentang mengadzani bayi pada telinga kanan dan mengiqomati pada telinga kiri memberikan tanggapan yang sama dengan Imam Ibnu Qayyim.

Baca Juga:  Menyapih Bayi: Pengertian, Tata Cara Dan Hukum Dalam Islam

cara-adzan-bayi-laki-laki-dan-perempuan

Oleh karena itu tidak mengadzani bayi juga tidak masalah, karena bukan suatu kewajiban dalam Islam.

Namun lebih baik bagi kita sebagai umat islam untuk melakukan sunnah ini, yaitu mengadzani bayi baru lahir di telinganya.