Sejarah Makna Lambang NU, Serta Logo NU Terbaru

4695
Lambang Nahdatul Ulama Terbaru

Lambang NU Miliki Makna Dan Sejarah Yang Wajib Anda Tahu.

Nahdlatul Ulama adalah ormas Islam terbesar di Indonesia. Bersama Muhammadiyah, NU sudah memberikan warna dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Namun sudah tahukah Anda bahwa sebenarnya lambang atau logo NU terbaru ada perbedaan dengan lambang NU ketika pertama kali dibuat?.

Nah, kali ini kita akan ulas mendalam soal sejarah dan makna lambang NU.

Juga tentang logo NU terbaru yang terjadi perubahan semenjak Muktamar ke-33 di Jombang jawa Timur.

Kata lambang dan logo memang pada akhirnya mengalami perubahan pengertian di masyarakat. Logo dan lambang dianggap sama.

Khusus pada NU, memang penggunaan lambang NU yang identik dengan bola dunia dengan tali pengikat dan bintang sembilan juga diterapkan pada berbagai logo yang terkait dengannya.

Sehingga, meskipun memiliki perbedaan definisi, baik lambang dan logo dalam NU merujuk pada lambang yang lahir dari tangan seni KH. Ridwan Abdullah.

Lambang Nahdatul Ulama Terbaru

Sejarah Dan Makna Lambang NU

Sudah tahukah Anda sejarah dan makna lambang NU itu sendiri?.

Tentu lebih baik jika kita mengenal lebih dalam tentang lambang ormas terbesar ini. Lebih-lebih jika Anda termasuk dalam bagian warga nahdliyin.

Tentu supaya tidak keliru dalam membuat atau memilih lambang NU untuk semisal pengajian.  Sebab lambang Nahdlatul Ulama diciptakan dengan sakral, maka keasliannya harus dijaga.

Sejarah Lambang NU Diciptakan

Lambang NU diciptakan atau lahir dari tangan terampil KH. Ridwan Abdullah. Ulama kelahiran Bubutan, Surabaya 1 Januari 1884 ini adalah putra dari KH. Ridwan.

Beliau merupakan salah satu ulama yang punya keahlian seni melukis yang andal.

Menurut salah satu sumber, bakat melukis tersebut mulai nampak saat masih muda dan bekerja di rumah orang Belanda yang mana adalah seorang pelukis.

Suatu hari, tanpa sengaja Ridwan muda menumpahkan tinta dan mengenai kanvas lukis tuannya.

Dengan gugup ia pun berusaha membersihkan sekaligus memperbaiki lukisan si Belanda. Bukannya marah, Tuan Belanda tersebut justru senang karena ternyata hasil lukisan Ridwan muda bagus.

Terkait sejarah lambang Nahdlatul Ulama diciptakan oleh KH. Ridwan, dari berbagai sumber, dapat dijelaskan sebagai berikut. Para ulama pendiri NU mempercayakan pembuatan lambang NU kepada KH.

Ridwan Abdullah. Saat itu KH. Ridwan telah berusia 63 tahun. KH. Hasyim Asy’ari memberikan 2 syarat atau kriteria lambang NU; tidak meniru lambang lain, dan harus punya haibah (wibawa) dan tidak membosankan sampai kapan pun.

Baca Juga:  IPNU-IPPNU: Sejarah, Perkembangan, Serta Logo dan Maknanya

Pembuatan lambang Nahdlatul Ulama menjadi sangat penting karena hingga menjelang muktamar ke-dua, NU belum punya lambang resmi.

Terdengar simpel, tapi ternyata syarat itu berat untuk dilaksanakan.

Syarat tersebut tidak lain karena memang sebelum NU sudah ada Muhammadiyah dan PERSIS. Karena itu lambang NU harus beda dan tidak sedikit pun meniru lambang kedua ormas tersebut.

Ternyata hingga muktamar semakin dekat, tinggal menunggu hari saja, KH. Ridwan belum juga mampu mendapatkan ide yang pas untuk lambang Nahdlatul Ulama tersebut. Setengah bulan sudah KH.

Ridwan berusaha membuat sketsa, namun belum ada yang berhasil ia jadikan sebagai lambang. Padahal penunjukan dirinya untuk membuat lambang Nahdlatul Ulama sudah disanggupinya sejak 2 bulan lalu. KH. Wahab Chasbullah pun telah menegurnya untuk segera menyelesaikan tugas tersebut.

Karena semakin mendesak dan belum juga Ada inspirasi, suatu malam KH. Ridwan Abullah melakukan istikharah.

Setelah shalat, beliau lantas tidur sejenak. Ternyata dalam tidurnya beliau mimpi melihat gambar bola dunia dengan tali penyambung dan pengait.

Gambar tersebut terpampang dengan jernihnya di langit biru. Ia pun tersentak dan terjaga, tepat pukul 2 dini hari. Segera ia tuangkan ingatan dari mimpi tadi ke dalam sketsa menggunakan pensil.

Karena memang memiliki keahlian melukis, maka dalam waktu singkat terwujudlah gambar lambang NU seperti yang kita kenal saat ini.

Selain bola dunia dan tapi pengikat, lambang tersebut lantas disempurnakan dengan tulisan arab NU dan huruf latinnya.

Sketsa lambang NU sudah jadi. Kini tinggal menuangkan dalam bentuk yang semakin nyata, yaitu di atas kain.

Masalah baru muncul, KH. Ridwan tidak menemukan kain yang warnanya cocok dengan warna yang ia lihat dalam mimpi.

Kain berwarna hijau yang cocok baru bisa ditemukan di Malang. Itu pun hanya berukuran 4×6 meter.

Sebenarnya dirasa masih kurang, sebab untuk keperluan sekelas muktamar NU, harusnya butuh kain yang lebih besar agar lambang yang dibuat bisa lebih terlihat.

Tapi tidak mengapa, di atas kain berwarna hijau tersebut KH. Ridwan Abdullah melukiskan lambang Nahdlatul Ulama.

Pencipta Lambang NU

Makna Atau Arti Lambang Nahdlatul Ulama

Muktamar ke-dua Nahdlatul Ulama berlangsung di Hotel Peneleh Surabaya pada 9 Oktober 1927.

Lambang Nahdlatul Ulama yang telah selesai dibuat oleh KH. Ridwan Abdullah dipasang di samping pintu gerbang hotel agar terlihat oleh setiap peserta yang masuk dan menarik perhatian masyarakat.

Lambang yang baru itu pun menarik perhatian banyak pihak, bahkan pejabat perwakilan Hindia Belanda dari Jakarta yang hadir, dibuat terpana dengan lambang Nahdlatul Ulama tersebut. Semua bertanya-tanya tentang apa makna atau arti lambang Nahdlatul Ulama.

Haji Hasan Gipo yang merupakan Ketua Tanfidziyah NU Jawa Timur yang pertama, sekaligus saat itu yang menjadi shohibul hajat pun tak bisa menjelaskan makna lambang tersebut.

Baca Juga:  K.H Hasyim Asy'ari: Sekilas Biografi, Perjuangan, Fatwa, Kitab

Pada akhirnya semua kembali pada sang kreator, KH. Ridwan Abdullah.

Untuk menjelaskan lambang NU dan maknanya, diadakanlah suatu pertemuan khusus.

Dalam majelis tersebut hadir perwakilan pemerintah Hindia Belanda maupun para tokoh NU, termasuk KH. Hasyim Asy’ari.

Secara rinci, berikut lambang Nahdlatul Ulama dan maknanya masing-masing sebagaimana dijelaskan oleh KH. Ridwan Abdullah, yang juga dijelaskan dalam buku Antologi Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah NU.

  1. Bola Dunia, maknanya adalah bumi sebagai tempat tinggal manusia, mengambil dari Surat Thaha ayat 55.

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain

  1. Tali yang mengelilingi bola dunia, maknanya adalah ikatan persaudaraan, sesuai dengan surat Ali Imran ayat 103.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ الله جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…

  1. Peta Indonesia, maknanya adalah tempat lahir dan awal perjuangan NU, yaitu Indonesia.
  2. Dua simpul ikatan di bagian bawah bola dunia, atau ujung tali yang mengikat bola dunia, maknanya adalah hubungan kepada Allah (hablun minallah) dan hubungan sesama manusia (hablun minannas).
  3. Tambang yang mengikat memiliki untaian atau uliran berjumlah 99, melambangkan asmaul husna.
  4. Ada lima bintang di bagian atas bola dunia, dengan bintang yang paling besar ada di bagian tengah, melambangkan rasulullah. Sedang 4 bintang lainnya melambangkan khulafa ar-rasyidin.
  5. Empat bintang di bawah bola dunia merupakan perlambang para imam mazhab yang dianut ahlussunnah wal jamaah; Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Hanafi, dan Imam Hanbali. Artinya NU mengakui keempat mazhab tersebut.
  6. Keseluruhan jumlah bintang adalah 9, melambangkan wali songo yang merupakan penyebar Islam.
  7. Tulisan arab berupa lafad Nahdlatul Ulama (نهضة العلماء) dan huruf latin NU (saat itu menggunakan ejaan NO) sebagai nama organisasi, artinya kebangkitan Ulama.

Dalam acara penutupan Muktamar NU tersebut, akhirnya uraian KH. Ridwan Abdullah disimpulkan oleh K.H. Raden Muhammad Adnan dari Solo dengan ungkapannya:

“Lambang bola dunia berarti lambang persatuan kaum muslimin seluruh dunia, diikat oleh agama Allah, meneruskan perjuangan Wali Sanga yang sejalan dengan ajaran Nabi Muhammad dan Khulafa’ Ar-Rasyidin, yang dibingkai dalam kerangka madzhab empat”.

Selain penjelasan tentang masing-masing bagian lambang Nahdlatul Ulama, pemilihan warna hijau dan putih juga memiliki makna. Warna hijau melambangkan kesuburan sedang warna putih melambangkan kesucian.

Warna hijau juga merupakan salah satu warna yang disukai rasulullah SAW.

Baca Juga:  Biografi Tokoh-Tokoh Pendiri NU, Lengkap dengan Kontribusinya

Sebagaimana dalam hadis dari Annas bin Malik mengatakan, “Warna yang paling disukai oleh Rasulullah saw adalah hijau”.

Demikian juga warna putih, adalah salah satu warna yang disukai rasulullah. Seperti yang disampaikan Imam al-Ghazali dalam Ihya’nya, “Yang amat disukai oleh Nabi saw ialah warna putih.”

Hasil Muktamar Ke 33

Lambang Atau Logo NU Terbaru Setelah Muktamar ke-33

Penetapan lambang Nahdlatul Ulama telah tertuang dalam AD/ART NU Bab III pasal 17. Secara tertulis, lambang NU tidak memasukkan huruf latin N dan U dalam pasal tersebut.

Barulah pada muktamar ke-33 NU di Jombang pada 1-5 Agustus 2015, peserta muktamar (muktamirin) sepakat menambahkan kata dalam pasal tersebut.

Sebelum kata “semua terlukis dengan warna putih di atas dasar hijau” ditambahi kata “dan ada huruf “N” di bawah kiri dan “U” di bawah kanan”. Sehingga, secara lengkap pasal tersebut menjadi berbunyi:

Lambang Nahdlatul Ulama berupa gambar bola dunia yang dilingkari tali tersimpul, dikitari oleh 9 (sembilan) bintang, 5 (lima) bintang terletak melingkari di atas garis khatulistiwa yang terbesar di antaranya terletak di tengah atas, sedang 4 (empat) bintang lainnya terletak melingkar di bawah garis khatulistiwa, dengan tulisan NAHDLATUL ULAMA dalam huruf Arab yang melintang dari sebelah kanan bola dunia ke sebelah kiri, dan ada huruf “N” di bawah kiri dan “U” di bawah kanan, semua terlukis dengan warna putih di atas dasar hijau.

Penegasan lambang tersebut juga untuk meluruskan berbagai kesalahan lambang atau logo NU yang beredar.

Kesalahan yang terjadi di masyarakat, baik secara offline maupun online, sering terjadi pada bentuk ataupun tulisan arab, jumlah uliran tali, ataupun warna.

Jika Anda memerlukan lambang atau logo NU terbaru, silakan download dari laman resmi NU Online.

Lambang NU Hitam Putih

Lambang Dan Logo Nahdlatul Ulama Hitam Putih

Pada perkembangannya, selain warna asli hijau putih, banyak juga tersebar lambang Nahdlatul Ulama dengan warna hitam putih atau biasa disebut lambang NU hitam putih.

Pada dasarnya, perkembangan tersebut tak lepas dari kebutuhan dunia desain grafis, yang mana untuk keperluan tertentu hanya bisa menampilkan lambang atau logo NU dalam warna hitam putih.

Misalnya untuk keperluan logo dan favicon sebuah website. Kadang juga untuk logo yang diterapkan pada kaos. Jadi perubahan warna tersebut tidak bermaksud mengubah makna lambang Nahdlatul Ulama yang asli.

Demikian ulasan lengkap tentang sejarah dan makna logo NU terbaru, serta lambang NU dan maknanya.

Sebaiknya untuk berbagai keperluan, harusnya memperhatikan logo asli NU supaya tetap terjaga dan tidak mengacaukan lambang yang dibuat melalui istikharah ulama tersebut.