Kurban: Pengertian, Manfaat, Syarat Orang, Hewan Kurban, Hukumnya

2333
pengertian-dan-dalil-qurban

Kurban Di Hari Raya Idul Fitri Syarat Makna Dengan Ketentuan Yang Sesuai Syariat.

Setiap tahun umat Islam merayakan dua kali hari raya yaitu Idul Fitri Dan Idul Adha.

Saat perayaan Idul Adha seorang muslim yang mampu, diwajibkan untuk berkurban.

Berkurban pada saat itu adalah dengan cara menyembelih sapi, kambing dan tau hewan kurban lain yang sesuai dengan syariat Islam.

Namun dalam praktek saat ini sering kita jumpai istilah berkurban secara kolektif maksudnya adalah beberapa orang membayar iuran untuk dapat membeli 1 hewan kurban.

Lalu bagaimana hukumnya menurut syariat Islam. Simak review selengkapnya dibawah ini.

Pengertian Kurban

Kata kurban berasal dari bahasa arab qariba – yaqrabu – qurban wa qurbanan wa qirbanan yang artinya dekat. (Ibn Manzhur: 1992:1:662; Munawir:1984:1185).

Maksudnya yaitu mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya.

Dalam istilah agama, kata kurban yang digunakan dalam bahasa sehari hari disebut  “udhhiyah” bentuk jamak dari kata “dhahiyyah”.

Yang berasal dari kata “dhaha” (waktu dhuha), yaitu sembelihan di waktu dhuha pada tanggal 10 sampai dengan tanggal 13 bulan Dzulhijjah.

Dari sini muncul istilah Idul Adha.

Jadi yang dimaksud dari kata qurban atau udhhiyah dari uraian tersebut, dalam pengertian syara, ialah menyembelih hewan dengan tujuan beribadah kepada Allah.

Pada hari raya haji atau Idul Adha dan tiga hari tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah.

Manfaat Kurban

Berqurban memiliki banyak pahala di sisi Allah SWT. Keutamaan berkurban bagi umat islam tertulis dalam ayat Al-

  • Mendekatkan Diri Kepada AllahSebagaimana firman Allah.

dalil-dan-hukum-qurban

  • Menghidupkan Sunnah Nabi Ibraim
Baca Juga:  Aqiqah Bayi: Pengertian, Sejarah, Dalil, Tujuan, Tata Cara, Waktu, Hukum

Allah memberikan wahyu pada Nabi Ibrahim agar menyembelih anaknya Ismail, dan kemudian Allah menggantinya dengan seekor domba yang besar.

Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” (QS, Ash-Shaffat:107)

Maka berkurban saat Idul Adha sama halnya dengan menghidupkan sunnah.

  • Memberikan kesenangan pada fakir miskin dan keluarga
  • Mensyukuri nikmat Allah yang telah menundukkan hewan ternak bagi kita.

Allah SWT berfirman:

sejarah-dan-hikmah-qurban

Syarat Dan Larangan Orang Berqurban

Sebelum melaksanakan ibadah kurban, seseorang yang akan berkurban harus memenuhi syarat berikut ini:

  • Beragama Islam.
  • Baligh dan berakal.
  • Merdeka
  • Mampu

Ketika memasuki tanggal 1 Dzulhijjah ada larangan bagi orang yang akan berkurban yaitu dilarang untuk memotong kuku dan rambut sampai hewannya disembelih.

Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :

Barang siapa yang memiliki hewan yang hendak dikurbankan apabila telah masuk tanggal 1 Dzulhijjah maka janganlah dia memotong sedikitpun bagian dari rambut dan kukunya hingga dia selesai menyembelih. ” (HR. Muslim, Abu Daud, dll.)

Dalam hal ini yang dilarang untuk memotong kuku hanya shohibul qurban, yakni orang yang hendak berkurban.

Larangan tersebut berlaku untuk rambut dan kuku bagian manapun serta memotong dengan cara apapun.

Larangan ini mencakup diantaranya mencukur gundul, atau sebagian atau mencabutnya, baik itu rambut kepala, kumis, sekitar kemaluan, maupun di ketiak. (Shahih Fiqih Sunnah, 2/376)

Syarat-Syarat Hewan Yang Boleh Dijadikan Kurban

Hanya hewan yang memiliki syarat dibawah ini, yang bisa dipakai untuk kurban dihari raya Idul Adha, yaitu:

  1. Sudah Cukup Umur

Untuk kambing, sudah berumur 1 tahun dan masuk tahun kedua. Untuk sapi, sudah berumur 2 tahun dan masuk tahun ketiga.

Untuk unta, sudah berumur 4 tahun dan masuk tahun kelima. Rasulullah SAW bersabda :

ketentuan-qurban-yang-benar

  1. Selamat (Bebas) Dari Cacat

Hewan yang boleh digunakan untuk kurban adalah hewan yang bebas dari cacat sehingga jika matanya cacat, pincang, tanduk dan telinganya terpotong.

Sakit dan kurus tidak bisa dijadikan sebagai hewan kurban.

Dalam sebuah hadist disebutkan:

Baca Juga:  Aqiqah Bayi: Pengertian, Sejarah, Dalil, Tujuan, Tata Cara, Waktu, Hukum

dalil-dan-ketentuan-qurban

  1. Hewan Tersebut Adalah Hewan Yang Paling Baik

Karena Allah adalah maha Thayyib (Baik, Suci), maka Allah tidak menerima kecuali yang baik-baik saja.

Dan hewan yang paling baik untuk dijadikan kurban (termasuk juga aqiqah) adalah domba gibas yang bertanduk, jantan, dan berwarna putih.

Dengan daerah di sekitar kedua matanya berwarna hitam dan keempat kakinya berwarna hitam.

Karena kambing dengan ciri-ciri semacam inilah yang dipilih oleh rasulullah SAW untuk berkurban, berdasarkan pada hadist riwayat Aisyah:

sejarah-dan-makna-qurban

Binatang-Binatang Yang Tidak Diperbolehkan Untuk Kurban

Bintang yang bebas dari aib (cacat) merupakan syarat mutlak bagi binatang yang dijadikan kurban .

Maka tidak diperbolehkan melakukan kurban dengan memakai binatang dengan ciri sebagai berikut:

  • Penyakitnya terlihat dengan jelas.
  • Buta dan jelas terlihat kebutaannya.
  • Sumsum tulangnya tidak ada, karena kurus sekali.
  • Telinga dan Tanduknya sebagian besar hilang (cacat).

Rasulullah saw bersabda,

ketentuan-qurban-yang-benar-adalah

Selain syarat diatas ada juga binatang dengan kondisi tertentu yang tidak boleh dijadikan hewan kurban, seperti:

  • Hatma’ (ompong gigi depannya, seluruhnya).
  • Ashma’ (yang kulit tanduknya pecah).
  • Umya’ (buta).
  • Taula’ (yang mencari makan di perkebunan, tidak digembalakan).
  • Jarba’ (yang banyak penyakit kudisnya).

Tidak diperbolehkan juga mengkurbankan binatang yang tak bersuara, bunting, buntutnya terputus, sebagian telinga dan sebagian besar bokongnya tidak ada.

Hal ini sesuai dengan mazhab Syafi’i yaitu jika sebagian organ tubuh yang dapat dimakan hilang, maka binatang tersebut tidak sah dijadikan sebagai hewan qurban.

Waktu Pelaksanaan Kurban

Tanggal 10 Dzulhijjah adalah waktu utama melakukan penyembelihan hewan kurban, yaitu sesudah shalat Idul Adha dan sebelum matahari tergelincir (sebelum Dzuhur).

Namun menyembelih pada hari-hari Tasyriq (11,12, dan 13 Dzulhijjah) dan tanggal 10 setelah waktu dzhuhur juga tidak mengapa.

Jika hewan qurban disembelih sebelum shalat Idul Adha, maka ia tidak disebut sebagai qurban, tetapi sedekah biasa.

Dalam hadist riwayat Aisyah, Rasulullah SAW bersabda :

dalil-dan-manfaat-qurban

Hukum Berkurban

Qurban hukumnya adalah sunnah muakkadah atau sunah yang sangat dianjurkan.

Bagi orang yang mampu melaksanakan ibadah qurban tetapi ia meninggalkan hal itu maka ia hukumnya adalah makruh.

Baca Juga:  Aqiqah Bayi: Pengertian, Sejarah, Dalil, Tujuan, Tata Cara, Waktu, Hukum

Hal ini berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi saw pernah berkurban dengan dua kambing kibas yang sama-sama berwarna putih kehitam-hitaman dan bertanduk.

Beliau sendiri yang menyembelih kurban tersebut, dan membacakan nama Allah serta bertakbir (waktu memotongnya).

Dari Ummu Salamah ra, Nabi Muhammad SAW bersabda:

Dan jika kalian telah melihat hilal (tanggal) masuknya bulan Dzul Hijjah, dan salah seorang diantara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia membiarkan rambut dan kukunya.” (HR Muslim)

Arti sabda Nabi saw, ”ingin berkorban” adalah dalil bahwa ibadah kurban ini sunnah, bukan wajib.

Diriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar ra bahwa mereka berdua belum pernah melakukan kurban untuk keluarga mereka berdua, lantaran keduanya takut jika perihal kurban itu dianggap wajib.

Perintah untuk berqurban dinyatakan secara eksplisit dalam Al Quran dan As Sunnah Allah SWT telah berfirman dalam Al Quran,

pengertian-ibadah-qurban

Perintah untuk berqurban dalam As-Sunnah diantaranya dijelaskan dalam hadis-hadis Nabi Muhammad Saw. berikut.

makna-dan-sejarah-qurban

Hukum Qurban Kolektif

Patungan berqurban (al-isytirak) hukumnya boleh, dengan ketentuan satu sapi untuk orang 7. Misalnya ada orang 7 iuran untuk membeli 1 sapi yang akan diqurbankan.

Dan yang dihitung itu sapinya bukan harga sapinya.

Jadi misalkan ada sapi harganya Rp. 11.000.000,- dan Rp. 22.000.000, maka juga cukup untuk orang 7 saja, tidak boleh lebih.

Hal ini berdasar hadist Nabi Muhammad SAW:

ketentuan-dan-hukum-kurban-yang-benar-adalah

Jadi kalau pesertanya lebih dari 7 orang untuk seekor sapi atau unta, maka tidak mencukupi.

Seperti halnya satu kambing digunakan untuk lebih dari satu orang. Mughni al Muhtaj: IV/380, as-Syams al-Muniirah: II/357, I’anat atThalibin:I/322)

Semakin besar sapinya, maka semakin mahal harganya dan semakin besar pula pahalanya. Tapi keabsahannya sama asalkan telah memenuhi syaratnya.

Sebab Nabi Muhammad SAW dan para sahabat juga pernah melakukan hal tersebut, yakni berqurban satu sapi atau satu unta untuk 7 orang.