Khutbah Jumat: Definisi, Syarat, Rukun Dan Hal Yang Membatalkan

1975
syarat-menjadi-khotib-dalam-khutbah-jumat

Khutbah Jumat Sebagai Syarat Sahnya Shalat Jum’at.

Bagi setiap muslim laki laki shalat jum’at hukumnya fardhu’ain untuk dilaksanakan.

Shalat Jum’at menjadi sah jika dilakukan sesuai syarat dan rukunnya.

Dan salah satu rukun shalat jumat adalah adanya khutbah Jumat.

Khutbah shalat jumat dilakukan dua kali yang waktunya adalah setelah adzan berkumandang.

Bukan hanya shalat jum’atnya, dalam melakukan khutbah pun ada rukun, syarat dan tata cara yang perlu untuk diperhatikan.

Karena khutbah merupakan rukun yang wajib dilakuakn dengan tepat, dan jika tidak maka tidak sah semua ibadah shalat jumat pada hari itu.

Saat khutbah Jum’at berlangsung jamaah sebaiknya tidak berbicara, berkomunikasi ataupun berkomentar walaupun hanya untuk menegur orang yang berbicara disebelahnya.

Maka dapat disimpulkan bahwa khutbah jumat memiliki kedudukan paling utama karena dapat berperan sebagai penompang dalam penyebaran dakwa diseluruh dunia.

Maka penting rasanya kita mengetahui pengertian dan tata cara khutbah yang semuanya ada pada ulasan dibawah ini.

Definisi Khutbah Jum’at

Secara bahasa khutbah berarti ‘perkataan yang disampaikan di atas mimbar’.

Sedangkan definisi “khotbah” menurut sebagian ulama adalah perkataan tersusun yang mengandung nasihat.

Dan informasi khutbah jumat adalah perkataan yang disampaikan kepada sejumlah orang secara berkesinambungan sesaat sebelum shalat jumat setelah masuk waktunya.

Berupa nasihat dengan bahasa Arab, disertai niat serta diucapkan secara keras, dilakukan dengan berdiri jika mampu, sehingga tercapai tujuannya.

Dalam Islam terdapat beberapa jenis khutbah yang syariatkan yaitu khutbah jumat, khutbah Idul Fitri, khutbah Idul Adha, khutbah nikah, khutbah pada shalat istisqa (shalat minta hujan), dan khutbah tatkala wuquf di ‘Arafah.

Baca Juga:  Arah Kiblat: Pengertian, Cara Menentukan, Besar Derajatnya

Dan saat ini kita akan membahas khutbah jum’at. yang paling pokok untuk diketahui bahwa khutbah Jumat itu terdiri dari dua bagian.

Yaitu khutbah pertama dan khutbah kedua, di mana keduanya dipisahkan dengan duduk di antara dua khutbah dan sama sama dilakukan sebelum shalat jumat.

Selain khutbah kita juga sering mendengar istilah khatib yaitu orang yang membawakan khutbah.

Fungsi khutbah, diantaranya:

  1. Tahdzir (peringatan, perhatian)
  2. Taushiyah (pesan, nasehat)
  3. Tadzkir/mau’idzoh (pembelajaran, penyadaran)
  4. Tabsyir (kabar gembiran, harapan)
  5. Bagian dari syarat sahnya sholat Jum’at

Syarat Dua Khutbah Jumat

Menurut Madzhab Syafi’i ada 6 syarat khutbah shalat jumat yang harus terpenuhi, yaitu:

  1. Khatib Berdiri Pada Dua Khotbah Ketika Ia Mampu Dan Kedua Khotbah Dipisah Dengan Duduk.

Dalilnya adalah hadis dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan dua khotbah dan duduk di antara keduanya.” (HR. Bukhari no. 928).

Juga dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma;  ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berkhotbah sambil berdiri kemudian duduk lalu beliau berdiri kembali. Itulah seperti yang kalian lakukan saat ini.” (HR. Bukhari no. 920 dan Muslim no. 862)

  1. Khotbah Jumat Dilakukan Sebelum Shalat

Hal ini berdasarkan banyak hadits yang menerangkannya dan adanya ijma’ atau kata sepakat para ulama dalam hal ini.

  1. Khatib Suci Dari Hadats Kecil Maupun Hadats Besar

Seorang khatib diwajibkan dalam keadaan suci dari hadast besar dan kecil, suci pula dari najis yang tidak dimaafkan yaitu pada badan, pakaian, dan tempat serta harus menutup aurat.

Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi menegaskan:

ولو أحدث في الأثناء وجب الإستئناف

Artinya:

“Andai seorang khatib berhadats di tengah-tengah khutbah, maka wajib mengulanginya. (Lihat: Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi, al-Tausyikh ‘Ala Ibni Qasim, hal. 162).

  1. Khatib Melakukan Rukun Khutbah Jumat Menggunakan Bahasa Arab

Walaupun bacaan khotbah dengan bahasa Arab tersebut tidak dipahami, Rukun khotbah mesti diucapkan dengan bahasa Arab.

Jika tidak ada yang paham bahasa Arab dan berlalunya waktu, maka semuanya berdosa dan Jumatan tersebut diganti dengan shalat dzhuhur.

Baca Juga:  Belajar Jadi Imam Shalat, Perhatikan Syarat Dan Bacaannya

Adapun jika ada waktu yang memungkinkan untuk belajar bahasa Arab, maka rukun khotbah yang ada boleh diterjemahkan dengan bahasa apa saja.

Seperti ini Jumatannya jadi sah.

  1. Khatib Melakukan Rukun Khotbah Secara Berurutan

Khatib wajib membacakan khutbah secara berurutan yaitu khutbah satu dan selanjutnya khutbah 2.

Begitu juga dengan rukun khutbah wajib dilakukan secara beurutan pula.

Khutbah bisa jadi tidak sah jika ada jarak yang lama (menurut Urf’) antara khotbah pertama dan kedua atau jarak antara khutbah kedua dan sholat.

  1. Jamaah Shalat Jumat Paling Sedikit Adalah 40 Orang

Syarat sah khutbah jumat yang terakhir adalah didengarkan paling sedikit oleh 40 orang. Karneanya dianjurkan khutbah menggunakan alat pengeras.

Rukun Khutbah Jumat

Pertama, memuji kepada Allah di kedua khutbah Rukun khutbah pertama ini disyaratkan menggunakan kata “hamdun” dan lafadh-lafadh yang satu akar kata dengannya, misalkan “alhamdu”, “ahmadu”, “nahmadu”.

Demikian pula dalam kata “Allah” tertentu menggunakan lafadh jalalah, tidak cukup memakai asma Allah yang lain.

Contoh pelafalan yang benar misalkan: “alhamdu lillâh”, “nahmadu lillâh”, “lillahi al-hamdu”, “ana hamidu Allâha”, “Allâha ahmadu”.

Kedua, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad di kedua khutbah Dalam pelaksanaanya harus menggunakan kata “al-shalatu” dan lafadh yang satu akar kata dengannya.

Sementara untuk asma Nabi Muhammad, tidak tertentu menggunakan nama “Muhammad”, seperti “al-Rasul”, “Ahmad”, “al-Nabi”, “al-Basyir”, “al-Nadzir” dan lain-lain.

Hanya saja, penyebutannya harus menggunakan isim dhahir, tidak boleh menggunakan isim dlamir (kata ganti) menurut pendapat yang kuat, meskipun sebelumnya disebutkan marji’nya.

Ketiga, berwasiat dengan ketakwaan di kedua khutbah rukun khutbah ketiga ini tidak memiliki ketentuan redaksi yang paten.

Prinsipnya adalah setiap pesan kebaikan yang mengajak ketaatan atau menjauhi kemaksiatan.

Seperti “Athi’ullaha, taatlah kalian kepada Allah”, “ittaqullaha, bertakwalah kalian kepada Allah”, “inzajiru ‘anil makshiat, jauhilah makshiat”.

Tidak cukup sebatas mengingatkan dari tipu daya dunia, tanpa ada pesan mengajak ketaatan atau menjauhi kemakshiatan.

Keempat, membaca ayat suci al-Quran di salah satu dua khutbah. Membaca ayat suci al-Quran dalam khutbah standarnya adalah ayat al-Qur’an yang dapat memberikan pemahaman makna yang dimaksud secara sempurna.

Baca Juga:  Shalat Sunnah Awwabin: Penjelasan Dan Tata Caranya

Syekh Abu Bakr bin Syatha mengatakan:

jelaskan-tata-cara-shalat-jumat

Kelima, berdoa untuk kaum mukmin di khutbah terakhir

Mendoakan kaum mukminin dalam khutbah Jumat disyaratkan isi kandungannya mengarah kepada nuansa akhirat.

Seperti “allahumma ajirnâ minannâr, ya Allah semoga engkau menyelematkan kami dari neraka”, “allâhumma ighfir lil muslimîn wal muslimât, ya Allah ampunilah kaum muslimin dan muslimat”.

Yang Membatalkan Khutbah 

Salah satu syarat khutbah adalah suci dari hadast besar dan kecil. Maka jika khatib keluar angin saat khutbah maka khutbahnya menjadi batal dan wajib diulang

Dalam permasalahan ini maka khutbahnya harus diulangi kembali.

Karena sudah tidak memenuhi salah satu syarat khutbah yaitu suci dari hadats kecil dan besar.

Berikut ini syarat khutbah yang berkaitan dengan sang khatib berdasarkan kitab Kifayat Al-akhyar:

  • Suci dari hadast baik hadast besar atau kecil
  • Suci dari najis, baik badan, pakaian, maupun tempatnya
  • Menutup auratnya
  • Berdiri bila mampu

Bila sang khatib kentut maka khutbah harus diulangi baik oleh khatib yang bersangkutan atau diganti dengan khatib yang lain.

Dalam hal ini biasanya pilihan lebih jatuh kepada diganti khatib lain.

Apalagi secara umum sulit sekali kita berwudhu dengan cepat dan kembali lagi berkhutbah.

Sebab umumnya tempatnya khatib dan tempat wudhu itu jauh, belum lagi melewati para jama’ah.

Sehingga kalau dia berwudhu dan segera kembali ke mimbar, waktunya cukup untuk digunakan shalat dua rakaat.

Selain itu ada beberapa hal yang dapat membatalkan khutbah, diantaranya:

  • Tidak terpenuhinya salah satu syarat dan rukun khutbah
  • Khatib terbuka auratnya saat khutbah
  • Khatib berhadats saat khutbah
  • Khatib terkena najis
  • Berhenti terlalu lama diantara khutbah 1 dan 2
  • Khatib turun dari mimbar ketika khutbah belum selesai

Mengingat pentingnya syarat dan rukun khutbah untuk shalat jumat maka ta’mir masjid sebaiknya memilih orang yang benar benar kompeten agar shalat jumat berlangsung secara sempurna.