K.H Hasyim Asy’ari: Sekilas Biografi, Perjuangan, Fatwa, Kitab

2620
Biografi KH Hasyim Asyari

K.H Hasyim Asy’ari Memiliki Karya Kitab Dan Kata Bijak Sebagai Panutan.

Salah satu tokoh nasional sekaligus sebagai ulama besar di Indonesia yang memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah K.H Hasyim Asy’ari Jombang.

Saat kemerdekaan Indonesia dirampas oleh penjajah, K.H Hasyim Asy’ari bersama rekan-rekannya beserta santri dan seluruh rakyat Indonesia mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk membela tanah air tercinta ini.

Biografi K.H Hasyim Asy’ari

K.H. Hasyim Asy’ari memiliki nama lengkap Muhammad Hasyim. Lahir di sekitar Desa Gedang, kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur. Lahir tanggal 14 Februari 1871 dan K.H. Hasyim Asy’ari wafat pada tanggal 21 juli 1947 tepat di umur 76 tahun. Beliau dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang.

KH. Hasyim Asy’ari adalah anak dari seorang Ulama besar bernama Kyai Asy’ari dan ibunya bernama Halimah.

Beliau juga merupakan anak ke-3 dari 11 bersaudara Saudara-saudaranya bernama bernama Nafi’ah, Ahmad Saleh, Hasyim Asy’ari, Radiah, Hassan, Anis, Fatanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi, dan Adnan.

Jika dilihat dari garis keturunan ibu (Halimah), beliau masih satu keturunan dari Raja Hindu Majapahit,

Raja Brawijaya V. Juga memiliki garis keturunan dari Sultan Pajang Jaka Tingkir.  Berikut silsilah lengkap Kyai Hasyim Asy’ari dari garis keturunan ibu:

Kyai Hasyim Ashari Putra Halimah, putri Layyinah, putri Sihah, putra Abdul Jabar, putra Ahmad, putra Pangeran Sambo, putra Pangeran Benowo, putra Jaka Tingkir, putra Prabu Brawijaya V.

Beliau memiliki empat Istri bernama Khadijah, Nafisah, Nafiqah, dan Masrurah. Dari hasil pernikahannya tersebut, Kyai Hasyim Asy’ari memiliki 15 keturunan.

Di antaranya adalah Wahid Hasyim, Muhammad Ya’kub, Mashrurah, Abdul Hakim, Azzah, Ubaidillah, Khoiriyyah, Abdul Karim, Fatimah, Khadijah, Aisyah, Hannan, Abdullah, Muhammad Yusuf, dan Abdul Qadir.

Ayah beliau (Kyai Asy’ari) adalah pendiri pertama Pondok Pesantren Kras di sebelah selatan Jombang.

Sedangkan kakek buyutnya yang bernama Kyai Sihah adalah pendiri Pondok Pesantren Tambak Beras. Sedangkan kakeknya, yaitu Kyai Usman adalah pendiri Pondok Pesantren Gedang.

K.H. Hasyim Asy’ari sebagai Ulama besar dikenal di kalangan Nahdiyyin dengan gelar Hadhrotussyaikh.

Biografi K.H Hasyim Asy'ari

KH Hasyim Asy’ari adalah pendiri pertama Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Pesantren tersebut merupakan tempat mengejar beliau kepada seluruh santrinya setelah menyelesaikan pendidikan di kota Makkah.

Di sana KH Hasyim Asy’ari berguru kepada Tuan Syekh Mahfudh At-Tarmasi yang juga berasal dari Indonesia, yaitu dari Tremas, Jawa Timur.

Salah satu guru besar K.H Hasyim Asy’ari tersebut juga merupakan salah satu sosok yang mempengaruhi jalan pikirannya. Dari Syekh Mahfudh juga, beliau telah menerima talqin tarikat Qadiriah Wa Naqsabandiah.

Guru-guru beliau sangatlah banyak. Termasuk Tuan Guru Besar yang berasal dari minangkabau, yaitu Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabau.

Sebelumnya K.H. Hasyim Asy’ari memulai perjalanan menimba ilmunya ke Ponpes di beberapa kota besar di Indonesia, hingga akhirnya ke kota Makkah di Arab Saudi.

Di usia 13 tahun beliau sudah lebih dulu berguru kepada ayahnya (Kyai Asy’ari) dan telah menguasai kitab-kitab Islam klasik atau di kalangan NU disebut kitab kuning.

Setelah itu, barulah K.H Hasyim Asyari mengembara ke beberapa Pondok Pesantren di Indonesia.

Antara lain adalah Ponpes Wonocolo Jombang, Ponpes Tranggilis, Ponpes Langitan, Ponpes Probolinggo, termasuk berguru kepada Kyai Kholil Bangkalan di Ponpes Madura.

Perjuangan K.H. Hasyim Asy’ari

K.H. Hasyim Asy’ari adalah salah satu ulama besar indonesia yang mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) pada tanggal 31 januari 1926.

Di dalam anggaran dasar Nahdlatul Ulama (NU) juga terdapat muqaddimah NU Qonun Asasy yang langsung dibuat oleh Hadhrotussyekh.

Ada pula tokoh ulama lain yang mendukung perjuangan K.H Hasyim Asy’ari, yaitu bernama KH Ahmad Dahlan.

Beliau adalah salah satu tokoh pendiri organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia, yaitu Muhammadiyah. K.H. Hasyim Asy’ari dan Ahmad Dahlan adalah 2 tokoh nasional dari kalangan ulama besar di Indonesia yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Sang pendiri Nahdlatul Ulama tersebut mengungkapkan bahwa aktualisasi keimanan seseorang dapat diwujudkan melalui perjuangannya membela bangsa dan negara tercinta.

Dengan terbebasnya dari kolonialisme penjajah, perjuangan membela tanah air menjadi satu kewajiban bagi setiap warga negara.

Bahkan Kyai Hasyim Asy’ari mengeluarkan sebuah fatwa “hubbul wathon minal iman” yang artinya cinta tanah air adalah sebagian dari iman.

Semangat perjuangan Kyai Hasyim Asy’ari dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah dimulai dari titik kumpul Pondok Pesantren dan seluruh santrinya.

Melalui pemikirannya yang bersikap kritis namun terbuka (inklusif) yang ditanamkan melalui virus positif kepada para santri, ternyata berhasil menjadi salah satu motor pergerakan nasional dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah.

Cinta tanah air (hubbul wathan) semakin tertanam pada diri para santri berkat perjuangan pemikiran Kyai Hasyim Asy’ari.

Dalam masa penjajahan Belanda II, beliau pun terus memberikan motivasi semangat perjuangan kepada seluruh rakyat Indonesia agar tetap bersatu dan menjauhi pertikaian serta pertengkaran soal khilafiah. Kyai Hasyim Asy’ari pun menyerukan sebuah argumen positif:

“Jangan kalian jadikan perdebatan itu menjadi sebab perpecahan, pertengkaran, dan bermusuh musuhan. Ataukah kita teruskan perpecahan, saling menghina, menjatuhkan; saling mendengki kembali kepada kesesatan lama? Padahal agama kita satu: Islam, madzhab kita satu: Syafi’i, daerah kita juga satu: Indonesia (ketika itu disebutnya Jawa). Dan kita semua juga serumpun Ahlussunnah Wal Jamaah. Demi Allah, hal semacam itu merupakan musibah dan kerugian yang amat besar.”

Dalam perjuangan K.H. Hasyim Asy’ari mempertahankan kemerdekaan Indonesia, muncul salah satu tokoh ulama pejuang yang berasal dari Jombang, yaitu KH Abdul Wahab Chasbulloh (1888- 1871). Beliau juga merupakan salah satu murid terbaiknya sekaligus teman seperjuangan yang menjadi motor pergerakan syubbanul Wathon (Pemuda cinta tanah air). Pergerakan tersebut lahir dalam wadah  perguruan Nahdhotul Wathon yang berdiri pada tahun 1916.

Baca Juga:  IPNU-IPPNU: Sejarah, Perkembangan, Serta Logo dan Maknanya

Melalui perjuangannya yang tetap dikomandoi oleh K.H. Hasyim Asy’ari, para santri di setiap pondok pesantren di Indonesia berhasil menerima pemikiran beliau.

Pada masa tersebut, setiap pemuda dan Santri sudah dibekali ilmu agama yang cukup mumpuni dan rasa cintanya terhadap tanah air menjadi lebih kuat.

K.H. Hasyim Asy’ari, kakek dari K.H. Abdurrahman Wahid (Gusdur) juga merupakan salah satu pelopor Resolusi Jihad bersama tokoh ulama lainnya pada tanggal 22 oktober 1945.

Pembuktian kecintaan santri dan segenap warga Indonesia pada saat itu terhadap tanah airnya mulai di realisasikan melalui resolusi jihad tersebut.

Semua Santri dan seluruh rakyat Indonesia siap menunggu komando dari K.H. Hasyim Asy’ari untuk melakukan perlawanan terhadap Agresi Militer penjajah Belanda II.

Oleh karena itu, di era pemerintahan sekarang pun tanggal 22 oktober dijadikan sebagai hari Santri Nasional.

Tidak lain hanya untuk mengenang dan menghargai perjuangan K.H. Hasyim dan segenap santri beserta seluruh rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dari penjajah Belanda.

Hingga akhirnya 2 bulan kemudian, tepatnya tanggal 10 November 1945 resolusi jihad mulai dilakukan, yaitu merebut kekuasaan dari tangan penjajah Belanda II di Kota Surabaya.

Kemenangan perjuangan rakyat indonesia tersebut dijadikan Hari Pahlawan oleh pemerintah yang ditetapkan pada tanggal 10 November.

Perjuangan K.H Hasyim Asyari

Serangan Tak Terduga Penjajah di tahun 1947

Di tahun 1947 sebagian wilayah di Indonesia kembali dirampas oleh penjajah Belanda II. Dalam serangan penjajah pada saat itu memakan korban cukup banyak dan membuat Kyai Hasyim Asy’ari terkejut mendengar berita tersebut.

Hingga beberapa selang waktu kemudian, tepatnya tanggal 21 April 1947, 7 Ramadhan 1366 H K.H. Hasyim Asy’ari wafat.

Mendengar berita duka cita tersebut, penjajah Belanda II semakin leluasa merampas beberapa kota besar di Indonesia.

Namun para pahlawan nasional tetap kuat dengan kecintaannya terhadap tanah air dan siap menaruhkan jiwa raganya melawan penjajah.

Berdasarkan pengalaman strategi yang telah dilakukan pada masa resolusi jihad 1945, Pahlawan Nasional Indonesia berhasil membuat penjajah Belanda bertekuk lutut.

Hingga akhirnya, tepat di bulan Desember 1947, Belanda mengakui kemerdekaan Negara Republik Indonesia secara resmi.

Sebagai penghargaan tertinggi, presiden Indonesia pada saat itu (Bung Karno) memberi gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada K.H. Hasyim Asy’ari yang ditetapkan pada tahun 1964.

Fatwa K.H. Hasyim Asy’ari

Sebagaimana yang telah dikutip di atas, Resolusi Jihad merupakan salah satu seruan atau fatwa yang ditulis langsung oleh pendiri Nahdlatul Ulama (NU), yaitu K.H. Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 oktober 1945.

Fatwa tersebut dikeluarkan atas dasar situasi yang belum kondusif setelah Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

Selain itu, fatwa tersebut juga menjawab keresahan para santri dan para kyai karena Sekutu bersama NICA dan AFNEI berniat  melakukan agresi militer untuk merebut kembali  kemerdekaan Indonesia.

Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad, juga atas saran atau usulan dari Bung Karno sebagai Presiden Indonesia pada saat itu.

Putusan fatwa Resolusi Jihad bukan hanya diakomodir dari pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari saja, melainkan dari usulan-usulan dalam Rapat Pertemuan Besar Konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura.

Rapat tersebut diadakan pada tanggal 21 sampai 22 Oktober di Surabaya, Jawa Timur.

Seruan atau fatwa Resolusi Jihad kemudian disebar luaskan ke seluruh lapisan masyarakat khususnya pengikut organisasi NU di pelosok Jawa dan Madura.

Untuk lebih jelasnya terkait isi atau teks Resolusi Jihad NU, kami muat secara lengkap sesuai dengan teks asli sebagaimana yang pernah dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta, edisi No. 26 tahun ke-1, Jumat Legi, 26 oktober 1945:

Pemerintah Repoeblik

Soepaya mengambil tindakan jang sepadan

Resoloesi wakil-wakil daerah Nahdlatoel Oelama Seloeroeh Djawa-Madoera

Bismillahirrochmanir Rochim

Resoloesi :

Rapat besar wakil-wakil daerah (Konsoel2) Perhimpoenan Nahdlatoel Oelama seloeroeh Djawa-Madoera pada tanggal 21-22 October 1945 di Soerabaja.

Mendengar :

Bahwa di tiap-tiap Daerah di seloeroeh Djawa-Madoera ternjata betapa besarnja hasrat Oemmat Islam dan ‘Alim Oelama di tempatnja masing-masing oentoek mempertahankan dan menegakkan AGAMA, KEDAOELATAN NEGARA REPOEBLIK INDONESIA MERDEKA.

Menimbang :

  1. Bahwa oentoek mempertahankan dan menegakkan Negara Repoeblik Indonesia menurut hoekoem Agama Islam, termasoek sebagai satoe kewadjiban bagi tiap2 orang Islam.
  2. Bahwa di Indonesia ini warga negaranja adalah sebagian besar terdiri dari Oemmat Islam.

Mengingat:

Bahwa oleh fihak Belanda (NICA) dan Djepang jang datang dan berada di sini telah banjak sekali didjalankan kedjahatan dan kekedjaman jang menganggoe ketentraman oemoem.

Bahwa semoea jang dilakoekan oleh mereka itu dengan maksoed melanggar kedaoelatan Negara Repoeblik Indonesia dan Agama, dan ingin kembali mendjadjah di sini maka beberapa tempat telah terdjadi pertempoeran jang mengorbankan beberapa banjak djiwa manoesia.

Bahwa pertempoeran2 itu sebagian besar telah dilakoekan oleh Oemmat Islam jang merasa wadjib menoeroet hoekoem Agamanja oentoek mempertahankan Kemerdekaan Negara dan Agamanja.

Bahwa di dalam menghadapai sekalian kedjadian2 itoe perloe mendapat perintah dan toentoenan jang njata dari Pemerintah Repoeblik Indonesia jang sesoeai dengan kedjadian terseboet.

Memoetoeskan :

Memohon dengan sangat kepada Pemerintah Repoeblik Indonesia soepaja menentoekan soeatoe sikap dan tindakan jang njata serta sepadan terhadap oesaha2 jang akan membahajakan Kemerdekaan dan Agama dan Negara Indonesia teroetama terhadap fihak Belanda dan kaki tangannja.

Seoapaja memerintahkan melandjoetkan perdjoeangan bersifat “sabilillah” oentoek tegaknja Negara Repoeblik Indonesia Merdeka dan Agama Islam.

Soerabaja, 22 Oktober 1945

NAHDLATOEL OELAMA

Dampak Fatwa Resolusi Jihad

Dengan adanya fatwa Resolusi Jihad ini memberikan pengaruh besar terhadap perjuangan rakyat indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga:  Sejarah Makna Lambang NU, Serta Logo NU Terbaru

Selebihnya, dari mulai cabang sampai ranting NU semuanya merupakan markas Hizbullah dan Sabillah. Sehingga dapat dipastikan, fatwa Resolusi Jihad ini memberi dampak positif dalam hal semangat juang warga Nahdliyyin membela keutuhan dan Kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI).

Bahkan, semua lapisan umat Islam merasa tergerak untuk berjuang bersama-sama meskipun nyawa sebagai taruhannya. Mati membela bangsa dan agama tidak menyurutkan semangat jihad demi meraih kemerdekaan Indonesia yang seutuhnya.

Seperti yang telah  di singgung di atas, tanggal 10 november 1945, menjadi sebuah bukti adanya peristiwa bersejarah sebagai realisasi dari fatwa Resolusi Jihad.

Beberapa pertempuran di berbagai daerah akibat dorongan Resolusi Jihad, sangat berpengaruh pada jalur diplomasi yang dilakukan elit pemerintahan Indonesia dengan pihak sekutu.

Pada awalnya Krian dan Mojokerto dikuasai oleh pihak sekutu, sehingga membuat beberapa perjanjian dan perundingan menjadi tertunda.

Namun pada akhirnya, berkat semangat dari Resolusi Jihad, Perjanjian Linggarjati dan Perundingan Renville dapat digelar dan kedua kota tersebut berhasil dikuasai kembali.

Pesan yang diterima dari isi Resolusi Jihad ini sangat lugas dan tegas. Bahkan, penyebarannya secara lisan dimungkinkan adanya tekanan lebih dalam dan luas.

Seperti halnya untuk warga Nahdliyyin sendiri, fatwa Resolusi Jihad ini diartikan sebagai sebuah kewajiban (fardhu ‘ain) dalam membela dan memperjuangkan kemerdekaan negara Indonesia.

Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh K.H. Hasyim Asy’ari sebagai tokoh sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU), adalah salah satu kontribusi NU, santri, dan Kyai dalam mewujudkan cinta tanah air (Hubbul Wathon). Selain itu, kontribusi ini pun semakin mengukuhkan semangat juangem dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dari sebuah peristiwa pasca perjuangan, peran santri dan Kyai menjadi bukti dalam perjalanan sejarah bangsa ini dan kemudian dikenal hingga sekarang. Tinta emas sejarah pun akan mengukir perjalanan K.H. Hasyim Asy’ari NU melalui fatwanya (Resolusi Jihad) yang membangkitkan semangat Patriotisme dan Nasionalisme seluruh rakyat Indonesia khususnya umat Islam.

Resolusi Jihad NU

Kitab-Kitab Karya K.H. Hasyim Asy’ari

Menurut pemahaman K.H Hasyim Asy’ari, ulama Ahlus Sunnah Waljamaah adalah “ulama yang memahami tafsir Al-qur’an, mengikuti sunnah Rasul, dan menguasai ilmu fiqih yang tunduk pada tradisi Nabi dan Khulafaur Rasyidin”.

Ulama yang dimaksud tersebut adalah mereka yang mengikuti mazhab Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali. Pemahaman ini secara meluas telah diterima dan diserap oleh warga NU.

Menurut pandangan beliau juga, Ahlus Sunnah Waljama’ah memiliki dua perspektif, yaitu formulasi teologi Al asy’ari dan Al Mathuridi. Sedangkan perspektif yang kedua, yaitu dari formulasi fiqih yang diambil dari empat mazhab. Selebihnya, pemikiran K.H. Hasyim Asy’ari dituangkan dalam kitab-kitab klasik sebagai karya ilmiah semasa hidupnya. Bahkan, kitab-kitab klasik karya beliau tersebut selalu dipelajari di setiap Pondok Pesantren di Nusantara.

Berikut ini adalah  kitab-kitab karangan Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari yang paling populer:

1.      Adabul ‘Alim Wal Muta’allim

Secara umum, kitab tersebut mengajarkan kepada kita pentingnya menuntut dan menghormati ilmu serta guru. Dalam kitab ini juga Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari memberikan sebuah solusi dalam memahami ilmu agama agar mudah dan cepat diserap.

Salah satu contoh ungkapan beliau dalam kitab ini, yaitu agar selalu dalam keadaan suci atau berwudhu saat mencari ilmu agar lebih mudah diserap dan diterima dengan pemahaman yang benar.

2.      Risalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Kitab ini merupakan salah satu karya ilmiah beliau yang paling fenomenal. Di dalamnya mengulas tentang definisi Ahlus Sunnah Waljamaah (ASWAJA) berikut penjelasannya secara luas, mendalam, dan mudah dipahami.

Di dalam kitab ini juga dibahas beberapa persoalan yang riskan di tengah- tengah masyarakat, seperti “apa yang disebut dengan bid’ah?” Selain itu, beliau juga menerangkan beberapa tanda kiamat yang terjadi pada masa ini. Salah satu di antaranya adalah sudah banyaknya golongan yang mengaku Ahlus Sunnah Waljamaah, tetapi dalam praktik ibadah dan amal perbuatannya tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Tidak heran, jika kitab ini dijadikan pedoman utama untuk kalangan Nahdliyyin.

3.      At-Tibyan Fin Nahyi An-Muqothoatil Arham Wal Aqorib Wal Ikhwan

Dalam kitab yang satu ini, K.H. Hasyim Asy’ari mencurahkan pemikirannya tentang Nahdlatul Ulama. Sebagai warga NU, beliau pun menegaskan pentingnya menjalin silaturrahim dan menjelaskan bahaya memutus tali silaturrahim.

Selain pembahasan tersebut, di dalamnya juga dimuat teks lengkap Qunun Asas atau anggaran dasar Nahdhatul Ulama (NU). Pembahasannya semakin lengkap yang berhubungan dengan Nahdlatul Ulama, yakni disertakan preferensi hadist Nabi yang berkaitan dengan pendirian Nahdlatul Ulama.

Pembahasan dalam kitab ini yang paling menarik adalah sebuah kisah K.H. Hasyim Asy’ari yang berkunjung ke salah satu Kyai ahli ibadah yang enggan menjalin silaturahim dengan masyarakat sekitar. Alhasil, pada saat itu keduanya terjadi perdebatan yang sangat alot.

4.      An-Nurul Mubin Fi Mahabbati Sayyidil Mursalin

Pembahasan dalam kitab tersebut, cukup mengharukan karena K.H. Hasyim Asy’ari menjelaskan bagaimana rasa cinta kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang sesungguhnya.

Dijelaskan pula beberapa sifat terpuji Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang patut di contoh untuk seluruh umat Islam. Selain itu, beliau juga menulis tentang silsilah keluarga Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam secara utuh dan lengkap.

5.      Ziyadatut Ta’liqot Karya K.H Hasyim Ashari

Kitab ini terbilang cukup tebal, jika dibandingkan dengan beberapa kitab lainnya karya K.H. Hasyim Asy’ari. Pembahasan di dalam kitab tersebut berisikan tentang beberapa polemik beliau dengan K.H. Abdullah bin Yasin Pasuruan.

Perdebatan di antara keduanya, yaitu terkait masalah-masalah pola pikir atau sudut pandang yang cukup berbeda meskipun keduanya sebagai tokoh dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Permasalahan-permasalahan yang diperdebatkan tersebut, ternyata masih terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini.

Baca Juga:  KH. Kholil Bangkalan: Sejarah, Karomah, Dan Kata Bijaknya

6.      At-Tanbihatul Wajibat Li Man Yasna’ Al-Maulid Bil Munkaroti

Asal muasal K.H. Hasyim Asy’ari membuat karya ilmiah ini, yaitu di motori oleh rasa khawatirnya terhadap umat yang ada di sekitar kota Madiun. Pada saat itu, di kota Madiun diadakan peringatan maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Kebiasaan warga sekitar, setelah pembacaan shalawat Nabi, para pemuda langsung menuju arena untuk pertunjukan bela diri.

Dalam rangkaian acara maulid Nabi tersebut, begitu sesak dan penuh oleh penonton pemuda dan pemudi berdesakkan dan berteriak penuh kegerangan. Mereka telah lupa, padahal saat itu masih dalam ruang lingkup acara maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Dituangkanlah kekhawatiran beliau melalui karya ilmiahnya dalam kitab yang satu ini. Di dalamnya membahas tentang peringatan maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam yang disertai dengan penjelasan tentang adab terpuji dan perbuatan maksiat atau munkar.

7.      Dhou’ul Misbah Fi Bayani Ahkamin Nikah

Pada masa beliau masih aktif mengajar di pondok, beliau menerima berita bahwa di luar sana banyak pemuda yang ingin menikah tetapi masih awam tentang pengetahuan ilmu nikah (rukun dan syarat nikah).

Tanpa berpikir panjang, Hadhratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari membuat kitab mini yang berisi tentang lembaga perkawinan dalam ajaran Islam. Selain itu, terdapat pula beberapa nasehat penting dalam membina rumah tangga agar menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah sesuai tuntunan agama.

8.      Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama

Di dalam kitab klasik ini, dijelaskan 40 hadis Nabi yang telah dipilih dengan teliti agar menjadi pedoman bagi segenap warga NU.

9.      Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah

Bermadzhab kepada imam yang empat, yakni Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanafi, dan Imam Hambali, tentunya ada rahasia khusus yang tentunya belum diketahui banyak orang. Untuk mengetahui jawabannya, Anda bisa membaca kitab Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah karangan K.H. Hasyim Asy’ari.

10. Mawaidz Karya K.H Hasyim Asy’ari

Kitab ini pernah diterjemahkan oleh Prof. Buya Hamka. Merupakan salah satu karya ilmiah klasik yang dapat dijadikan referensi untuk mencari solusi cerdas bagi para pegiat di masyarakat.

11. Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama

Jika Anda ingin mengetahui seperti apa pemikiran ataupun sudut pandang beliau tentang NU, maka wajib membaca kitab yang satu ini. Mungkin bagi para pegiat NU, kitab ini menjadi salah satu rujukan yang wajib dipahami lebih mendalam. Karena di dalamnya dimuat beberapa ayat Al-qur’an dan hadits Nabi serta pesan penting dari beliau yang menjadi pokok utama pendirian Jam’iyah NU.

12. Al-Qalaid Fi Bayani Ma Yajibu Min al-’Aqaid

Pembahasan di dalam kitab ini, yaitu menjelaskan tentang aqidah-qidah wajib dalam Islam.

13. Ad-Durar al-Muntatsirah fi al-Masail at-Tis’a ‘Asyarah

Kitab ini pernah diterjemahkan oleh K.H. Tholhah Mansyur. Mengulas 19 persoalan seputar ajaran tarekat dan beberapa hal penting lainnya yang berkaitan dengan para pelaku pengamal tarekat.

Selain menulis kitab, K.H. Hasyim Asy’ari pun rajin menyebarkan ilmu dan pendapatnya di sejumlah media Nasional. Sehingga, seluruh rakyat Indonesia dapat mengetahui hal-hal penting apa saja yang diungkapkan beliau.

Disamping itu, beliau pun memiliki gagasan yang sangat positif, yaitu dengan berdirinya perpustakaan K.H. Hasyim Asy’ari, buku dan karya ilmiah lainnya bisa dijumpai di perpustakaan tersebut. Pasalnya, buku ataupun kitab dan manuskrip lainnya yang ada di perpustakaan pribadinya dibuat dalam beberapa bahasa, yakni bahasa Arab, bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Malaysia, dan bahasa bahasa asing lainnya. Tidak heran, jika perpustakaan milik K.H. Hasyim Asy’ari ini menyayangi perpustakaan Lembaga Kajian Islam di Jakarta.

Karya karya ilmiah beliau juga tidak sebatas membahas ilmu keagamaan saja, tetapi meliputi ilmu pertahanan kenegaraan, politik internasional, dunia pertanian, kolonialisme, dan lain-lain.

Fatwa K.H Hasyim Asy'ari

Kata-kata Bijak K.H. Hasyim Asy’ari

Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari dijadikan panutan untuk segenap warga NU pada khususnya, memiliki tutur kata yang bijak dan penuh makna. Sehingga, kata-kata mutiaranya sering kita dengar melalui lisan para Ulama Indonesia saat ini.

Berikut di bawah ini beberapa kata-kata bijak K.H. Hasyim Asy’ari:

  • Jangan Jadikan perbedaan pendapat sebagai sebab perpecahan dan permusuhan. Karena yang demikian itu merupakan kejahatan besar yang bisa meruntuhkan bangunan masyarakat, dan menutup pintu kebaikan di penjuru mana saja.
  • Dakwah dengan cara memusuhi ibarat orang membangun kota, tetapi merobohkan istananya
  • Bahwasanya Alqur’an dan Alhadist adalah pedoman dan rujukan bagi muslimin, hal itu benar adanya. Namun memahami Alquran dan Alhadist Tanpa mempertimbangkan pendapat Para Ulama adalah sulit, atau bahkan tidak bisa.
  • Jangan jadikan pendapat sebagai sebab perpecahan dan permusuhan. Karena yang demikian itu merupakan kejahatan besar yang bisa meruntuhkan bangunan masyarakat, dan menutup pintu kebaikan dipenjuru mana saja.
  • Siapa yang mau mengurusi NU, saya anggap ia santriku. Siapa yang jadi santriku, saya do’akan husnul khotimah beserta anak cucunya.
  • Bekerja dan berjuang bukan karena kedudukan, Pengaruh ataupun kekayaan, Tidak pula karena mengharap pujian dan sanjungan, melainkan semua itu dilakukanya demi kepentingan Agama dan Masyarakat.
  • Kadang-kadang kebathilan mencapai kemenangan, disebabkan mereka bersatu dan terorganisir. Sebaliknya kadang-kadang yang benar menjadi lemah dan terkalahkan lantaran bercerai berai dan saling bersengketa’.
  • Menyiarkan agama islam itu dengan kebaikan. Lemah lembut. Karena bahwasannya Islam adalah rahmatallil alamin.
  • Menyiarkan agama islam ini artinya memperbaiki manusia. Jika manusia itu sudah baik, apa yang akan diperbaiki lagi daripadanya.
  • Berjihad artinya menghadapi kesukaran dan memberikan pengorbanan. Contoh-contoh ini telah ditunjukan oleh Nabi kita dalam perjuangannya.

Demikianlah pembahasan tentang K.H Hasyim Asy’ari biografi lengkap, termasuk  kisah perjuangan beliau, fatwa kebangsaan, kitab-kitab hasil karya ilmiahnya, dan beberapa kata-kata bijak yang tetap dijadikan tuntunan khususnya untuk warga NU sendiri. Semoga pembahasan yang kami jelaskan di atas dapat menambah wawasan Anda.