Jual Beli Dalam Islam: Pengertian, Jenis, Rukun, Syarat, Hukum

2631
tata-cara-jual-beli-dalam-islam

Jual Beli Dalam Islam, Ketahui Syarat Dan Rukunnya Sesuai Hukum Islam!.

Islam sebagai agama sempurna mengatur hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Termasuk dalam segi ekonomi khususnya masalah jual beli.

Agar kegiatan jual beli ini mampu memberikan manfaat bagi semua pihak dan bukan suatu kemudharatan.

Yang diutamakan pada jual beli menurut Islam adalah asas kejujuran sehingga  akan timbul keadilan yang tidak merugikan penjual dan pembeli.

Kami yakin kita semua tentu tak bisa lepas dengan transaksi jual beli dalam kehidupan sehari.

Karenanya penting bagi kita untuk tahu hukum jual beli dalam Islam agar selalu memberikan manfaat bukanlah kemudharatan baik bagi kita ataupun orang lain.

Pengertian Jual Beli

Jual beli dalam Islam secara etimologi berasal dari kata Al-Bay’u yang memiliki arti mengambil dan memberikan sesuatu.

pengertian jual beli menurut Islam oleh Syekh Taqiyuddin Al Husny didalam kitab Kifâyatul Akhyar, dijelaskan sebagai berikut:

macam-macam-jual-beli-dalam-islam

(Lihat: Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Hushny, Kifâyatul Akhyar fi hilli Ghâyati al-Ikhtishâr, Surabaya: Al-Hidayah, 1993: 1/239)

Sedangkan secara bahasa jual beli adalah tukar menukar barang dengan barang lain dalam satu transaksi antara satu orang dengan orang yang lain. Yang telah diatur dalam suatu tata cara dan akad tertentu.

Namun faktanya dalam kehidupan sehari hari jual beli diartikan sebagai transaksi antara dua orang atau lebih dan merupakan penukaran barang dengan uang.

Sedangkan untuk penukaran barang dengan barang umumnya disebut dengan barter  dan tidak lazim disebut dengan jual beli.

Adanya perbedaan kebutuhan hidup antara satu orang dengan orang lainnya dianggap menjadi dasar adanya jual beli.

Contohnya suatu pihak mempunyai uang tetapi tidak punya barang dan sebaliknya.

Maka kedua belah pihak tersebut bisa melakukan suatu perjanjian dalam bentuk jual beli. Sehinga jual beli dapat memberikan manfaat pada kedua belah pihak tersebut.

Macam-Macam Jual Beli Dalam Islam

Dalam Islam jenis jual beli dapat ditinjau dari berbagai sudut

  1. Ditinjau Dari Pertukaran (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa adillatuhu, 4/595-596) 

  • Jual Beli Salam (Pesanan)Adalah jenis jual beli yang proses pertukarannya melalui pesanan. Jadi pembeli menyerahkan uang muka terlebih dahulu dengan akan memesan barang, dan barang diantar kemudian jika sudah tersedia.
  • Jual Beli Muqayyadah (Barter)Jenis jual beli yang seperti ini biasa kita sebut dengan barter yaitu pertukaran barang dengan brang. Misalnya baju dengan sepatu tentunya dengan nilai yang sama dan saling menguntungkan.
  • Jual Beli Muthlaq Jual beli muthlaq adalh proses pertukaran suatu barang dengan sesuatu benda yang telah disepekati dan disahkan secara hukum sebagai alat tukar.
  • Jual Beli Alat Tukar Dengan Alat TukarMaksudnya adalah penukaran suatu benda yang biasa digunakan sebagai alat tukar dengan alat tukar lainnya. Seperti penukaran rupiah dengan dinar.
  1. Ditinjau Dari Hukum

    Berdasarkan dari segi hukum, jual beli dibedakan menjadi:

  • Jual beli Sah (halal)

    Jual beli dikatakan sah atau shahih jika telah memnuhi ketentuan syariat dan rukun jual beli dalam Islam. Salah satunya adalah barang atau sesuatu yang jual belikan harus menjadi milik sah orang yang melakukan akad.

  • Jual Beli Fasid (Rusak)

    Sedangkan jual beli dikatakan rusak atau fasid jika pada asalnya telah memnuhi ketentuan syariat tetapi ternyata pada sifatnya tidak memenuhi ketentuan.
    Seperti jual beli yang dilakukan oleh orang bodoh dan menimbulkan pertentangan meskipun orang terebut mumayyiz.

  • Jual Beli Batal (Haram)

    Jual beli yang dicap sebagai transaksi yang batal dan haram adalah jika:

    1. Dilakukan dengan cara ‘Inah dan Tawarruq Rafi’

    Yang dimaksud dengan jual beli secara innah adalah jual beli suatu barang oleh suatu pihak pada pihak lain dengan pembayaran bertempo.

    Setelah barang ada ditangan pembeli sebelum pembayaran barang itu lunas, penjual membeli kembali dari pembeli dengan harga yang lebih rendah dari harga pertama. Maka transaksi tersebut menyerupai ribah dan haram hukumnya.

    Kecuali jika barang yang sudah ditangan pembeli mengalami cacat, kemudian oleh pembeli dijual kembali dnegan harga yang lebih rendah. Maka hal ini diperbolehkan, karena ada pengurangan harga sesuai dengan berkurangnya nilai barang tersebut.
    Transaksi ini tidak menyerupai riba.

    Sedangkan tawaaruq rafi’ adalah proses jual beli dengan tujuan memperbanyak uang.

    Contohnya adalah apabila orang yang membeli barang kemudian menjualnya kembali dengan maksud memperbanyak harta bukan karena ingin mendapatkan manfaat dari produknya. Barang yang diperdagangkannya hanyalah sebagai perantara bukan menjadi tujuan.

    2. Jual beli sistem salam (ijon)

    Bedanya dengan kredit, kalau salam, barangnya yang diakhirkan, uangnya di depan.

    3. Jual beli dengan menggabungkan dua penjualan (akad) dalam dan satu transaksi

    Contohnya penjual berkata, “aku menjual barang ini kepadamu seharga 10 dinar dengan tunai atau 20 dinar secara kredit”.

    Contoh lain, penjual berkata, “Aku menjual rumahku kepadamu dengan syarat aku memakai kendaraanmu selama 1 bulan”.

    4. Jual beli secara paksa Jual beli dengan paksaan dapat terjadi dengan 2 bentuk:
    – Ketika akad, yaitu adanya paksaan untuk melakukan akad. Jual beli ini adalah rusak dan dianggap tidak sah
    – Karena dililit utang atau beban yang berat sehingga menjual apa saja yang dimiliki dengan harga rendah

    5. Jual beli sesuatu yang tidak dimiliki dan menjual sesuatu yang sudah dibeli dan belum diterima.

    Syarat sahnya jual beli adalah adanya penerimaan, maksudnya pembeli harus benar-benar menerima barang yang akan dibeli. Sebelum dia menerima barang tersebut maka tidak boleh dijual lagi.

Rukun Jual Beli

Dalam islam jual beli dianggap sah jika memenuhi keempat rukunjual beli, seperti:

  1. Pihak Yang Bertransaksi Yaitu pihak yang melakukan transaksi yaitu penjual dan pembeli
  2. BarangAdanya barang yang dibeli. Barang dapat berupa benda maupun jasa. Namun jual beli umumnya lebih sering menggunakan objek benda. Sedang jika jual beli dalam wujud jasa maka lebh dikenal sebagai sewa menyewa.
  3. HargaHarga adalah kesepakatan nilai barang yang di pertukarkan. Harga dapat senilai barang (seperti pada proses barter) atau senilai uang.
  4. Serah TerimaMenggunakan ucapan serah terima transaksi dari penjual dan pembeli atau yang biasa disebut dengan ijab qabul saat ada tindakan menyerahkan uang oleh pembeli dan penyerahan barang dari penjual (shiqat).

Syarat-Syarat Jual Beli Dalam Islam

Dalam konteks masyarakat terkadang proses jual beli ini diremehkan begitu saja, apalagi banyak orang yang tidak menjalankan proses jual beli ini berdasarkan aturan islam.

Tentu saja akhirnya terjadi beragam ketidakadilan dan kedzaliman seperti penipuan, riba, dan lain sebagainya.

Untuk itu ada beberapa hal yang harus dilakukan umat islam agar hal itu tidak terjadi, dan melaksnakannya berdasarkan syariat islam.

syarat-jual-beli-dalam-islam

Adapaun yang disampaikan oleh Umar Ibnu Khatab RA:

“Yang boleh berjualan di pasar kami ini hanyalah orang-orang yang faqih (paham akan ilmu agama), karena jika tidak, maka dia akan menerjang riba.”

Berikut adalah syarat-syarat jual beli menurut islam yang perlu diperhatikan umat islam, agar jual beli terlaksana dengan adil dan seimbang.

1. Transaksi Di Lakukan Dengan Ridha Dan Sukarela

hukum-dan-dalil-jual-beli-dalam-islam

Ayat ini diperjelas bahwa kedua belah pihak harus berkompeten untuk melakukan transaksi jual beli.

Mereka adalah orang orang yang paham mengenai jual beli, mampu menghitung atau mengatur uang, dan dilakukan dengan kesadaran.

Anak kecil yang tidak pandai atau belum mengetahui masalah jual beli maka lebih baik orang tuanya yang mengatur. Orang gila tentu saja tidak boleh dan dipaksa untuk membeli.

Transaksi jual beli tidak boleh dilakukan secara terpaksa, namun karena kebutuhan dan sukarela antara dua belah pihak. Jika tidak maka salah satu pihak akan dirugikan.

2. Barang Bukan Milik Orang Lain

jual-beli-dalam-islam

Dari hadist di atas dijelaskan bahwa barang yang dijual bukanlah milik orang lain.

Untuk itu harus pasti, miliknya adalah milik pribadi, atau harta pemberian tidak masalah asalkan berasal dari sumber yang berkah dan halal, jelas status kepemilikannya.

3. Larangan Jual Beli Hasaath

jual-beli-yang-diharamkan

Hal ini disampaikan dalam hadist di atas bahwa dilarang jual beli dengan kerikil yang dilempar untuk menentukan barang.

Hal ini berarti mereka tidak bisa memilih, memilah barang yang sesuai keinginan dan sesuai kualitas barangnya.

4. Menjelaskan Cacat Barang

jual-beli-yang-dilarang-dalam-islam

Jika terdapat cacat maka penjual harus memberikan informasi mengenai cacat barang-nya, tidak boleh ditutupi. Hal ini tentu akan mengecewakan dan menipu pembeli. Sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah dalam hadist berikut,

“Barang siapa yang berlaku curang terhadap kami, maka ia bukan dari golongan kami. Perbuatan makar dan tipu daya tempatnya di neraka” (HR. Ibnu Hibban)

Begitulah mengenai cara dan syarat untuk transaksi jual beli, sebagaimana Allah mengalalakan jual beli dan jual beli bukanlah riba.

Keuntungan yang didapatkan oleh penjual adalah sebagai jasa dan hak-nya asalkan benar-benar sesuai dengan perhitungan yang adil dan tidak mendzalimi salah satu pihak.

Akad Jual Beli Dalam Islam

Akad jual beli bisa dengan bentuk perkataan maupun perbuatan.

  1. Perkataan

Bentuk perkataan terdiri dari:

  • Ijab yaitu kata yang keluar dari penjual seperti ucapan ” saya jual”,
  • Qobul yaitu ucapan yang keluar dari pembeli dengan ucapan “saya beli”.
  1. Perbuatan

Bentuk perbuatan yaitu muaathoh (saling memberi) yang terdiri dari perbuatan mengambil dan memberi seperti penjual memberikan barang dagangan kepadanya (pembeli) dan (pembeli) memberikan harga yang wajar (telah ditentukan).

Dan kadang bentuk akad terdiri dari ucapan dan perbuatan sekaligus

Berkata Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah rahimahullah : jual beli Muathoh ada beberapa gambaran

  1. Penjual hanya melakukan ijab lafadz saja, dan pembeli mengambilnya seperti ucapan ” ambilah baju ini dengan satu dinar, maka kemudian diambil, demikian pula kalau harga itu dengan sesuatu tertentu seperti mengucapkan “ambilah baju ini dengan bajumu”, maka kemudian dia mengambilnya.
  2. Pembeli mengucapkan suatu lafadz sedang dari penjual hanya memberi, sama saja apakah harga barang tersebut sudah pasti atau dalam bentuk suatu jaminan dalam perjanjian.(dihutangkan)
  3. Keduanya tidak mengucapkan lafadz apapun, bahkan ada kebiasaan yaitu meletakkan uang (suatu harga) dan mengambil sesuatu yang telah dihargai.

Hukum Jual Beli Dalam Islam

Jual beli adalah perkara yang diperbolehkan berdasarkan al Kitab, as Sunnah, ijma serta qiyas :

Allah Ta’ala berfirman :

kumpulan-hadits-tentang-jual-beli

Allah Ta’ala berfirman :

jual-beli-yang-batil

Dan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

jual-beli-yang-sah-tapi-terlarang

Para ulama telah ijma (sepakat) atas perkara (bolehnya) jual beli, adapun qiyas yaitu dari satu sisi bahwa kebutuhan manusia mendorong kepada perkara jual beli.

Karena kebutuhan manusia berkaitan dengan apa yang ada pada orang lain baik berupa harga atau sesuatu yang dihargai (barang dan jasa).

Dan dia tidak dapat mendapatkannya kecuali dengan menggantinya dengan sesuatu yang lain, maka jelaslah hikmah itu menuntut dibolehkannya jual beli untuik sampai kepada tujuan yang dikehendaki.

Bagaimana Hukum Mempengaruhi Pembeli?

Dizaman sekarang banyak cara yang digunakan oleh para pedagang agar barang dagangannya bisa laris manis. Diantaranya adalah dengan mempengaruhi orang.

Ini bisa dilakukan melalui cara cara magic (gendam) dan bisa meminjam tangan orang lain dengan cara tawar mwnawar.

Menggunakan harga yang sangat tinggi, padahal orang yang menawar tadi adalah temannya sendiri.

Bisa juga dengan cara memperbaiki atau menutupi aib barang agar kelihatan bagus.

Dalam Islam yang namanya akad jual beli harus ada unsur saling merelakan antara si penjual dan pembeli (an-taridlin).

Ketika dalam akad atau transaksi jual beli ada unsur lain misalnya dusta maka hukumnya tidak sah.

Mempengaruhi orang lain dalm jual beli termasuk melakukan praktek penipuan dan hukumnya tidak sah.

Kalaupun ini terjadi maka rezeki yang diperoleh tidak barakah.

Seperti yang diterangkan dalam hadist Nabi Muhammad SAW:

syarat-dan-tata-cara-jual-beli-dalam-islam

Baca Juga:  Sumpah Dalam Islam: Pengertian, Macam Dan Kaffarahnya