Belajar Jadi Imam Shalat, Perhatikan Syarat Dan Bacaannya

569
syarat-menjadi-imam-shalat-menurut-4-madzhab

Imam Shalat Wajib Perhatikan Syarat Dan Bacaan Sebelum Shalat Berjamaah.

Walaupun imam dalam shalat merupakan posisi yang mulia, akan tetapi disana ada tanggung jawab besar yang dipikulnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan :

syarat-menjadi-imam-shalat

Apabila seorang imam dapat memimpin sholat dengan sempurna, maka imam dan makmum akan mendapat pahala sempurna.

Namun sebaliknya jika imam melakukan kesalahan maka kesalahan itu ditanggung imam seorang sedangkan makmum tetap mendapat pahala yang sempurna.

Syarat Menjadi Imam Shalat

Dalam kitab karya Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaily yaitu Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu, bab shalat.

Sub bab pembagian shalat, dijelaskan 10 syarat-syarat sahnya seseorang menjadi imam shalat, diantaranya:

  1. Islam

Orang kafir tidak boleh menjadi imam shalat. Ini merupakan ijma’ (konsensus) para ulama fikih Islam.

  1. Berakal

Orang gila tidak sah menjadi imam, sebab ketika shalat sendirian saja shalatnya tidak sah.

  1. Baligh

Anak-anak tidak sah mengimami orang-orang yang telah mencapai usia baligh menurut pendapat mayoritas ulama secara umum. Menurut mazhab Hanafi, anak-anak tidak sah mengimami shalat wajib dan shalat sunnah.

Sementara itu, menurut mazhab Maliki dan Hanbali, anak-anak tidak boleh mengimami shalat wajib saja, sedangkan dalam shalat sunnah, mereka boleh menjadi imam.

Pendapat lain disampaikan oleh madzhab Syafi’i, bahwa anak-anak boleh mengimami shalat orang dewasa.

  1. Laki-Laki tulen

Perempuan tidak boleh menjadi imam bagi laki-laki di semua shalat, baik shalat fardu (wajib) maupun sunnah.

Laki laki bisa menjadi imam jamaahnya baik laki laki saja, perempuan saja atau laki laki dan perempuan.

Apabila jamaah terdiri dari kaum perempuan, maka tidak disyaratkan imamnya adalah laki-laki. Menurut mazhab Syafi’i dan Hanbali, perempuan boleh mengimami kaum perempuan.

  1. Suci Dari Hadats Dan Najis
Baca Juga:  Shalat Jumat: Syarat Wajib, Syarat Sah Dan Hukum Bagi Musafir

Orang yang berhadats (tidak bersuci) atau terkena najis tidak boleh menjadi imam shalat.

  1. Benar Dalam Bacaan Dan Rukun Shalat

Seorang imam haruslah orang yang baik bacaannya terutama bacaan yang merupakan rukun shalat. Begitu pula, orang yang melaksanakan rukun shalat dengan benar.

Mayoritas ulama menilai, orang yang tidak bisa tulis baca Al-Qur`an, tidak boleh menjadi imam shalat.

  1. Bukan Makmum

Imam tidak boleh menjadi atau sedang mejadi makmum dari imam lainnya.

  1. Tidak Mengidap Penyakit Yang Mengganggu Kekhusyukan

Syarat ini disampaikan oleh mazhab Hanafi dan Hanbali. Penyakit yang maksud adalah sering mimisan, buang angin yang berlebihan, inkontinensia (susah menahan air kencing), dan sebagainya.

  1. Fasih Dalam Mengucapkan Huruf-Huruf Al-Quran

Seorang imam harus benar dan fasih dalam melantunkan ayat Al Qur’an. Orang cadel atau orang yang tidak mampu mengucapkan huruf-huruf tertentu dalam Al-Qur`an secara benar, tidak boleh menjadi imam shalat

  1. Orang Yang Adil

Syarat ini disampaikan oleh mazhab Hanbali. Orang adil yang dimaksud dalam istilah fikih adalah orang yang tidak fasik.

Ingin Belajar Jadi Imam Shalat?, Perhatikan Bacaan Dan Tata Cara Berikut!

Menurut Abu al-Lais as-Samarkandi dalam Tanbih Al-Ghafilin ada sepuluh kriteria atau syarat menjadi imam shalat agar menjadi sempurna:

Pertama, seorang imam harus mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tidak boleh ada kekeliruan dalam bacaan.

Kedua, takbiratul ihram harus yakin dan benar.

Ketiga, harus menyempurnakan ruku’ dan sujud.

Keempat, menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan dan belum jelas hukum dan statusnya, dalam bahasa lain menjauhkan diri dari perkara syubhat.

Kelima, menjaga tubuh dan pakaian dari kotoran dan najis.

Keenam, tidak boleh membaca surat yang terlalu panjang pada saat shalat kecuali sudah ada kesepakatan dengan makmum.

Ketujuh, tidak boleh merasa bangga (ujub) pada diri sendiri.

Kedelapan, sebelum mengerjakan shalat bacalah istighfar atau meminta ampunan kepada Allah.

Baca Juga:  Khutbah Jumat: Definisi, Syarat, Rukun Dan Hal Yang Membatalkan

Kesembilan, seorang imam tidak boleh berdoa untuk diri sendiri setelah selesai mengerjakan shalat, dan mengabaikan makmumnya.

Kesepuluh, bila ada seorang musafir atau orang yang sedang dalam perjalanan mampir ke masjid tersebut, lalu mereka minta sesuatu yang dibutuhkan, maka seorang imam dianjurkan untuk membantunya.

Dengan demikian saat kita akan belajar menjadi imam maka sebaiknya mempersiapkan semuanya terlebih dahulu dengan sempurna.

Yang Paling Utama Menjadi Imam Shalat

Saat ini beberapa orang mengajukan dirinya sebagai imam karena merasa ilmu agamanya mumpuni.

Padahal dalam Islam juga diajari adab menjadi imam agar tidak sampai bergesekan dengan kehidupan sosial apalgi jika kita adalah seorang pendatang.

Karenanya perlu rasanya kami jelaskan tentang siapa yang berhak atau utama menjadi imam, serta beberapa adab menjadi imam, berikut:

  1. Menimbang Diri

Sebelum kita memeutuskan menjadi seorang imam sholat baiknya mempertimbangkannya terlebih dahulu.

Apakah layak atau mungkin masih ada yang lebih afdhal dari kita?.

Penilaian ini tentu berdasarkan sudut pandang syari’at.

Beberapa hal yang harus kita pertimbangkan untuk menilai kelayakan imam ialah:

  • Yang berhak menjadi imam saat kita bertamu adalah tuan rumah, jika tuan rumah layak menjadi imam.
  • Penguasa atau yang mewakilinya berhak menjadi imam. Maka tidak ada yang boleh maju menjadi imam, kecuali ia mengizinkan.
    Begitu juga jika ada imam rawatib atau imam yang ditunjuk oleh penguasa dialah yang berhak menjadi imam.
  • Kefasihan dan kealiman dirinya. Maksudnya, jika ada yang lebih fasih dalam membawakan bacaan Al Quran dan lebih ‘alim, sebaiknya dia mendahulukan orang tersebut.
  • Seseorang sebaiknya tidak menjadi imam dari makmum yang membencinya.
  1. Mengetahui Hukum Tentang Sholat

    Orang yang berhak menjadi imam adalah yang paham tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan shalat. Dari bacaan-bacaan shalat yang shahih, hukum-hukum sujud sahwi dan seterusnya.
    Karena jika seorang imam memiliki bacaan yang salah makan akan mengubah makna dari ayat tersebut. Sebagaimana yang pernah penulis dengar dari sebagian imam sedang membawakan surat Al Lumazah, dia mengucapkan”Allazi jaama`a maalaw wa `addadah”, dengan memanjangkan “Ja”, sehingga artinya berubah dari arti ‘mengumpulkan’ harta, menjadi ‘menyetubuhi’nya. Na`uzubillah.

  1. Mentakhfif Shalat.

    Sebagai imam wajib menjaga keadaan dan kenyamanan jamaah Yaitu dengan mempersingkat bacaan.
    Batasan dalam hal ini, ialah mencukupkan shalat dengan hal-hal yang wajib dan yang sunat-sunat saja, atau hanya mencukupkan hal-hal yang penting dan tidak mengejar semua hal-hal yang dianjurkan.

  2. Kewajiban Imam Untuk Meluruskan Dan Merapatkan Shaf

    Seorang imam wajib memngingatkan dan mengatur kelurusan shaf jama’ahnya. Ketika shaf sudah dipastikan lurus dan rapat, baru imam bisa mulai sholat dan bertakbir.

  3. Meletakkan Orang-Orang Yang Telah Baligh Dan Berilmu

    Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw:

    “Hendaklah yang mengiringiku orang-orang yang telah baligh dan berakal, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka, dan janganlah kalian berselisih, niscaya berselisih juga hati kalian, dan jauhilah oleh kalian suara riuh seperti di pasar” .

  4. Menjadikan Sutrah (Pembatas) Ketika Hendak Shalat

    Hadits yang menerangkan hal ini sangat mashur. Diantaranya hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu :
    “Janganlah shalat, kecuali dengan menggunakan sutrah (pembatas). Dan jangan biarkan seseorang lewat di hadapanmu.”
    Sedangkan dalam shalat berjama’ah, maka kewajiban mengambil sutrah ditanggung oleh imam. Hal ini tidak ada perselisihan di kalangan para ulama.

  1. Imam Shalat Menasihati Jama’ah

    Agar tidak mendahului imam dalam ruku’ atau sujudnya, karena (seorang) imam dijadikan untuk diikuti.

  2. Memanjangkan Sedikit Rukuknya

    Seorang imam dianjurkan memanjangkan rukunya. Sehingga saat merasa ada yang masuk, maka dia dapat memperoleh satu raka’at.
    Tetapi tetap menjaga kenyamanan makmum karebna kedudukan makmum diatas orang yang masuk tersebut.

Dari penjelasan diatas kita tahu bahwa untuk menjadi imam kita memerlukan wawasan agar memenuhi syarat.

Dan hendaknya kita tak sembarangan dalam menentukan imam shalat agar pahala yang didapat sempurna.

Namun baiknya ini bukan penghalang bagi kita terutama kaum lelaki yang sedang belajar menjadi imam.

Karena dalam diri setiap lelaki adalah imam (pemimpin), walau dalam lingkup keluarganya sendiri

Baca Juga:  Shalat Qadha: Pengertian, Niat Dan Tata Cara Saat Haid