Pengertian, Macam Dan Dasar Hukum Bermadzhab

4145
hukum-bermadzab-dan-pengertiannya

Hukum Bermadzhab Dan Dalil Yang Menerangkan.

Dalam beragama (Islam) kita sering mendengar ada sebagian muslim yang menyatakan kewajiban bermadzhab dan sebagian tidak mewajibkan bahkan ada yang menolak keras masalah ini.

Sebagian umat isalam berfikir bahwa kita hanya harus berpegang teguh pada Al qur’an dan Hadist.

Tentu kita tahu bahwa pemahaman teks Al qur’an dan hadist saja merupakan masalah kompleks yang menimbulkan beberapa perbedaan.

Dan untuk mengatasinya para ulama menganjurkan untuk bermazhab.

Jadi, apa sebenarnya hukum bermadzhab?, kenapa harus bermadzhab?

Di artikel ini kita akan membahas secara detail maasalah ini.

Pengertian Madzhab

Madzhab (مذهب) secara bahasa adalah jalan yang ditempuh atau yang dilewati.

Madzhab juga diartikan dengan sesuatu yang dituju manusia, baik yang bersifat materi atau non materi.

Kata madzhab merupakan pecahan kata dari tiga huruf dza, ha, ba.

Dari tiga huruf itulah terbentuk kata “dzahaba-yadzhabu-dzahaban” yang umumnya diartikan dengan pergi atau berlalu. Dan kata madzhab adalah sebuah nama tempat atau nama waktu.

Namun selain itu dapat juga berarti berpendapat. Jika seseorang mengambil pendapat orang lain, dikatakan :

ذَهَبَ إِلَى قَوْلِ فُلَانٍ

Dia berpendapat dengan pendapat si fulan.

Dari makna inilah, kata madzhab lebih mendekati maknanya, yang secara bahasa umumnya diartikan dengan istilah aliran, doktrin, atau ajaran.

Bahkan kata Madzhab itu sendiri sudah menjadi bahasa baku dalam bahasa Indonesia.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disebutkan bahwa arti dari madzhab adalah haluan atau aliran mengenai hukum fikih yang menjadi ikutan umat Islam (dikenal empat madzhab, yaitu Madzhab Hanafi, Hambali, Maliki, dan Syafi’i).

Menurut istilah, Madzhab adalah jalan atau cara yang telah digariskan oleh seseorang atau sekelompok orang, baik dalam masalah kayakinan, prilaku, hukum, dan lainnya.

Baca Juga:  Pelarungan Dan Sedekah Bumi: Pengertian Dan Hukumnya Dalam Islam

Dijelaskan dalam al-Mu’jam al-Wasith yang dimaksud madzhab menurut para ulama adalah kumpulan pandangan dan  teori ilmiah serta filsafat yang satu sama lain berkaitan sehingga menjadi satu kesatuan yang erat.

Macam Macam Madzhab

Para Ahlussunnah Wal Jama’ah mengakui 4 Madzhab yang dirujuk dari 4 imam besar yaitu Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Safi’i dan Imam Hambali.

Dan secara rinci berikut adalah penjelasan 4 Madzhab tersebut:

  • Imam Hanafi

Imam Abu Hanifah merupakan salah satu imam dari mazhab Ahlus-sunnah wal Jama’ah yang juga dikenal sebagai Imam Hanafi.

Untuk  memperoleh berbagai hukum yang tidak terdapat dalam Al Qur’an Imam Hanafi dikenal sering menggunakan metode qiyas, istihsan, dan juga ra’yu.

Dan tetap  menggunakan Al Qur’an dan sunnah sebagai pedoman utama.

Metode dan ajaran imam hanafi ini akhirnya mulai dilestarikan oleh muridnya yaitu Zufar bin Hudail bin Qais al-Kuhfi hingga akhirnya dikenal sebagai Mazhab Hanafi.

  • Imam Maliki

Imam Malik dikenal sebagai seorang ahli fiqh dan hadits terkemuka di zamannya. Kitab Al-Muwathta’ adalah salah satu hasil pemikiran mengenai fiqh oleh Imam Malik.

Kitab yang disusun pada masa pemerintahan khalifah Harun Ar Rasyid ini disebut-sebut sebagai kitab fiqh.

Kitab ini disusun oleh para murid Imam Maliki yang merupakan prinsip dasar dari Madzhab maliki dengan tetap merujuk pada kitab Al Muwaththa’.

Beberapa murid imam Maliki yang berperan besar dalam menyebarkan mazhab Maliki ini diantaranya adalah Abu Muhammad Abdullah bin Wahab bin Muslim, Abu Abdillah Abdurrahman bin Kasim, dan beberapa murid lainnya.

  • Imam Safi’i

Imam ketiga dari 4 mazhab adalah Imam Syafi’i yang merupakan seorang ulama’ fiqh dan hadits masyhur pada zamannya.

Imam Syafi’i memiliki banyak murid yang datang  berbagai penjuru wilayah seperti Hedjzaz, Basra, Irak, dan juga Tuni.

Baca Juga:  Doa Untuk Mengubah Takdir: Pengertian Dan Hukumnya

Bahkan tak sedikit orang Spanyol dan Afrika yang juga mempelajari dan menganut mazhab Syafi’i ini.

  • Imam Hambali

Mazhab Hambali atau ajaran yang berawal dari Imam hambali atau Ahmad Bin Hanbal. Ahli teologi islam ini memiliki nama lengkap Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al Marwazi Al Baghdadi.

Sejak usia 15 tahun Imam Hambali Imam Hambali ini mulai belajar ilmu hadits hingga menjadi tokoh ahli hadist terkenal .

Kitab al-Musnad al-Kabir adalah salah satu kitab hasil karyanya dimana terdapat sekitar 25.000 hadist di dalamnya. Kitab-kitabnya banyak dijadikan rujukan bagi para ulama dalam memilih hukum.

Empat imam besar diatas inilah yang selanjutnya menjadi dasar Madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Yang jadi permasalahan selanjutnya adalah “adakah dasar yang menyebutkan bahwa kita harus bermadzhab?”.

Dasar Hukum Bermadzhab

Setiap orang Islam diwajibkan mempelajari ajaran agamanya dan memahami hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an dan hadits.

Namun kenyataannya tidak setiap orang mampu memahami dan mengamalkan isi kandungan dari dua sumber tersebut.

Hanya sebagian saja yang mampu melakukan hal tersebut, dengan beberapa persyaratan yang ketat agar hasil ijtihadnya benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Keterangan, dari kitab Al Mizan Al Sya’rani Fatawi Kubra dan Nihayatussul :

macam-macam-dan-dasar-hukum-bermadzhab

dasar-hukum-bermadzhab-terdapat-dalam-al-quran-surat

dasar-perintah-bermadzhab-dijelaskan-dalam-alquran-surat

Dari sini, dapat kita simpulkan bahwa hukum bermadzhab adalah wajib bagi orang-orang yang tidak mengerti inti dari agama.

Hal ini dikarenakan pada sebuah kekhawatiran akan tersesat dalam proses memahami agama dan ini merupakan salah satu tujuan bermadzhab.

Bermazhab itu sangat penting bagi orang beragama agar pemahaman dan praktik agamanya benar.

Karena bermadzhab merupakan metode untuk mengetahui hukum suatu peristiwa yang dihadapi dengan merujuknya pada fiqih mazhab tertentu yang dianut atau upaya penyimpulannya dilakukan berdasarkan Ushul Al-Mazhab yang diyakininya.

Baca Juga:  Murtad: Pengertian, Macam Dan Tata Cara Taubatnya