Hukum Arisan Menurut Islam, Boleh atau Tidak?

629
Hukum Arisan Menurut Islam

Sepanjang ini arisan sudah jadi budaya di warga. Nyaris segala penduduk di Indonesia memahami yang namanya arisan. Sesungguhnya, Gimana Hukumnya Arisan? Apakah Boleh ataupun Malah Dilarang? Ayo kita bahas dalam postingan ini.

Arisan yang tumbuh di warga beragam wujudnya. Terdapat yang berupa arisan motor, arisan haji, arisan gula, arisan semen serta lain- lain. Nyatanya fenomena ini tidak cuma terjalin di negara ini, di negeri Arab pula sudah diketahui semenjak abad ke 9 hijriyah yang dicoba oleh para perempuan Arab dengan sebutan jum’ iyyah al- muwazhzhafin ataupun al- qardhu at- ta’ awuni.

Sampai saat ini, fenomena ini masih tumbuh dengan pesat. Apabila demikian telah mendunia, pastinya tidak lepas dari atensi serta uraian hukum syar’ i wujud mu’ amalah semacam ini oleh para Ulama.

Terlebih kasus ini tercantum kasus kontemporer serta belum terdapat tadinya di masa para salaful ummah dulu. Paling utama para perempuan, banyak yang menjajaki arisan tersebut. Tetapi, gimana sesungguhnya hukum arisan dalam Islam?

Kata Arisan merupakan sebutan yang berlaku di Indonesia. Dalam kamus Bahasa Indonesia disebutkan kalau arisan merupakan pengumpulan duit ataupun benda yang bernilai sama oleh sebagian orang, kemudian diundi diantara mereka. Undian dilaksanakan secara berkala hingga seluruh anggota mendapatkan undiannya.

Ini bermakna sama dengan penafsiran yang di informasikan Ulama dunia dengan sebutan jum’ iyyah al- Muwazhzhafin ataupun al- qardhu al- ta’ awuni. Jum’ iyyah al- muwazhzhafin, yang dipaparkan para Ulama bagaikan bersepakatnya beberapa orang dengan syarat tiap orang membayar beberapa duit yang sama dengan yang dibayarkan yang yang lain.

Dasar Hukum diperbolehkannya arisan;

فَرْعٌ–الْجُمُعَةُالْمَشْهُوْرَةُبَيْنَالنِّسَاءِبِاَنْتَأْخُذَاِمْرَأَةٌمِنْكُلِّوَاحِدَةٍمِنْجَمَاعَةٍمِنْهُنَّقَدْرًامُعَيَّنًافىِكُلِّجُمُعَةٍاَوْشَهْرٍوَتَدْفَعُهُلِوَاحِدَةٍبَعْدَوَاحِدَةٍاِلىَآَخِرِهِنَّجَائِزَةٌكَمَاقَالَهُالْوَلِيُّالْعِرَاقِي.

( Cabang) Hari Jum’ at yang termasyhur di antara para perempuan, ialah apabila seorang perempuan mengambil dari tiap perempuan dari jama’ ah para perempuan beberapa duit tertentu pada tiap hari Jum’ at ataupun tiap bulan serta menyerahkan keseluruhannya kepada salah seseorang, setelah yang lain, hingga orang terakhir dari jamaah tersebut merupakan boleh sebagaimana komentar Al- Wali al-‘ Iraqi.( Al- Qolyuuby, Juz II, Perihal. 258)

Baca Juga:  Weton Lahir: Pengertian, Alasan Dilarang Dalam Islam, Dan Solusi

Dalam hidup bermasyarakat, kita kerap berhubungan( mu’ amalah) dengan sesama masyarakat. Antara satu dengan yang lain telah benda pasti tidak bisa bebas dari proses pergaulan keseharaian ini.

Terdapatnya Interaksi antar orang dengan yang lain meniscayakan terdapatnya kerelaan hati atas masing- masing transaksi yang dicoba. Tanpa terdapatnya kerelaan hati hendak terjalin ketidak puasan diantara mereka sehingga yang mencuat merupakan ketidak keharmonisan dalam pergaulan antar sesama.

Oleh sebab itu tidak mengherankan rasanya apabila Islam mengendalikan proses interaksi antar orang ini lebih- lebih yang terdapat kaitannya dengan pelepasan harta ataupun pengeluaran dana serta kerap diketahui dalam bahasa santri dengan fiqh mu’ amalah. Kerabat penanya yang disayangi Allah.

Memakan harta dengan metode yang batil serta tanpa terdapatnya kerelaan hati dari orang orang ataupun pihak- pihak yang ikut serta dalam proses transaksi merupakan haram hukumnya, perihal ini sebagaimana dicetuskan dalam friman Allah pesan an- Nisa’ ayat 29:

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوالَاتَأْكُلُواأَمْوَالَكُمْبَيْنَكُمْبِالْبَاطِلِ

Maksudnya:“ Wahai orang- orang yang beriman, janganlah kamu silih memakan harta diantara kamu dengan metode yang bathil.”

Tidak hanya larangan memakan harta dengan jalur yang batal, Allah pula membagikan rambu- rambu yang tegas menimpa keharaman transaksi yang didalamnya ada serta memiliki riba.

Berikutnya menjawab perkara arisan sebagaimana kerabat sampaikan, terdapat perihal yang nampaknya butuh dijadikan pertimbangan serta dicermati ialah menimpa status panitia/ bandar arisan tersebut.

Apabila dia dikira bagaikan orang yang menghutangi para anggota serta transaksi yang dilakukakannya dengan para anggota arisan tersebut merupakan akad utang piutang( qiradlh), dan pengembalian utang dengan nilai lebih untuk panitia disebutkan dalam transaksi, hingga hukumnya merupakan riba.

Tetapi bila panitia/ bandar arisan ini statusnya merupakan bagaikan petugas/ pegawai yang layak memperoleh upah/ pendapatan dalam mengurusi arisan sehingga akad/ transaksi yang dicoba merupakan ujrah/ upah, hingga perihal semacam ini hukumnya merupakan boleh.

Baca Juga:  Weton Lahir: Pengertian, Alasan Dilarang Dalam Islam, Dan Solusi

Dalam perihal ini, Kami lebih cenderung menjajaki komentar yang kedua ialah posisi bandar/ panitia arisan tersebut merupakan petugas yang layak menemukan pendapatan/ upah atas jerih payah yang mereka jalani.

Begitulah pemikiran sebagian ulama tentang Gimana Hukumnya Arisan. Terlepas dari terdapatnya perbandingan komentar, paling tidak telah jelas ditemui komentar tentang dibolehkannya melaksanakan arisan.

Ditulis Mufid di Peci Hitam