Aqiqah Bayi: Pengertian, Sejarah, Dalil, Tujuan, Tata Cara, Waktu, Hukum

2102
pengertian-aqiqah-dan-hikmahnya

Aqiqah Bayi Menurut Hadist Dan Hikmah Yang Bisa Diambil.

Kehadiran sang buah hati dalam sebuah rumah tangga menjadi kebahagiaan yang tak ternilai harganya.

Tapi sebagai orang tua Anda wajib mengingat kewajiban dan hak anak dalam Islam. Yang salah satunya adalah Aqiqah.

Apa itu Aqiqah?, simak review selengkapnya dibawah ini.!

Pengertian Aqiqah Bayi

Aqiqah berasal dari bahasa Arab yang artinya “mengaqiqahkan anak atau menyembelih kambing aqiqah”.

Menurut bahasa, aqiqah artinya memotong atau memisahkan.

Sedangkan para ulama berpendapat bahwa pengertian aqiqah secara etimologis adalah rambut kepala bayi yang sudah tumbuh sejak ia lahir.

Dari segi istilah para ulama memiliki sedikit perbedaan dalam memaknai aqiqah bayi, seperti:

  1. Sayyid Sabiq berpendapat bahwa aqiqah adalah sembelihan (hewan) yang disembelih untuk anak yang baru saja lahir.
  2. Sedang Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Husaini mengartikan Aqiqah sebagai nama sesuatu (hewan) yang disembeli pada hari ketujuh sejak bayi dilahirkan.
    Dan bertepatan dengan hari mencukur rambut kepala bayi Aqiqah, dan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan nama tersebut.
  3. Dan Jumhur ulama mengartikan aqiqah sebagai kegiatan menyembelih hewan pada hari ketujuh dari hari lahirnya seorang anak baik laki-laki maupun perempuan.

Selain pendapat ulama di atas, Rasulullah Shallallahu`Alaihi Wa Sallam juga menjelaskan pengertian aqiqah dalam sabdanya :

tata-cara-aqiqah

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa aqiqah adalah rangkaian kegiatan merayakan kelahiran anak dengan menyembelih hewan.

Bersamaan dengan mencukur rambut kepala anak serta memberikan nama anak yang dilakukan pada hari ketujuh.

Sejarah Aqiqah Bayi

Sejak jaman jahiliyah orang Arab sudah terbiasa melakukan perayaan dengan menyembelih hewan, untuk menyambut kelahiran seorang anak terlebih jika yang lahir adalah bayi laki laki.

Baca Juga:  Kurban: Pengertian, Manfaat, Syarat Orang, Hewan Kurban, Hukumnya

Adat setempat dimasa itu lebih memilih kambing sbegai hewan yang disembelih untuk perayaan kelahiran.

Namun ada kebiasaan yang tak boleh ditinggalkan saat itu yaitu melumuri kepala bayi dengan darah kambing yang disembelih.

Hal ini sesuai dengan hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud berikut ini:

كُنَّا فِى اْلجَاهِلِيَّةِ اِذَا وُلِدَ ِلاَحَدِنَا غُلاَمٌ ذَبَحَ شَاةً وَ لَطَخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا، فَلَمَّا جَاءَ اللهُ بِاْلاِسْلاَمِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً وَ نَحْلِقُ رَأْسَهُ وَ نَلْطَخُهُ بزَعْفَرَانٍ. ابو داود 3: 107، رقم: 2843

Dahulu kami di masa jahiliyah apabila salah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing itu. Maka, setelah Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) kepala si bayi, dan melumurinya dengan minyak wangi.” ( HR. Abu Dawud juz 3, hal. 107, no. 2843 dari Buraidah).

Dan selanjutnya Islam datng melalui Nabi Muhammad SAW dengan membawa kesempurnaan untuk perayaan anak yang baru lahir.

Hal ini dicontohkan nabi Muhammad saat kelahiran cucunya yaitu Hasan dan Husain.

Yang selanjutnya diikuti oleh para sahabat dan umat muslim sampai sekarang dan disebut dengan Aqiqah. Dengan tata cara yang benar sesuai syariat.

Dalil Dan Hadist Tentang Aqiqah Bayi

Beberapa hadits yang menjadi dasar disyariatkannya aqiqah antara lain:

makna-dan-tujuan-aqiqah

 

syarat-hewan-aqiqah

 

syarat-dan-hukum-aqiqah

[HR Abu Dawud (2841) Ibnu Jarud dalam kitab al-Muntaqa (912) Thabrani (11/316) dengan sanadnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Daqiqiel ‘Ied]

hukum-aqiqah-dan-kurban

Tujuan Dan Tata Cara Aqiqah Bayi

Banyak sekali manfaat yang bisa kita dapat dari acara Aqiqah ini. Beberapa diantaranya adalah:

  1. Aqiqah merupakan suatu pengorbanan yang akan mendekatkan anak kepada Allah dimasa awal ia menghirup udara kehidupan
  2. Sebagai pemberitahuan tentang garis keturunan dengan cara yang baik
  3. Memupuk rasa kedermawanan dan menekan sikap pelit
  4. Penyerahan si anak di jalan Allah
  5. Dengan Aqiqah, gadai si bayi tertebus

Sebagaimana halnya walimatul ursy dan walimah khitan pada umumnya pesta aqiqah juga dilakukan dengan mengundang keluarga, saudara dan tetangga.

Tentu saja segala sesuatunya harus ditata sedemikian rupa sehingga tidak mengotori makna aqiqah yang merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu`alaihi Wa Sallam.

Baca Juga:  Kurban: Pengertian, Manfaat, Syarat Orang, Hewan Kurban, Hukumnya

Semuanya harus dilakukan dengan cara-cara yang islami, baik pengaturan tempat duduk, cara berpakaian maupun tata cara makan.

Proses Aqiqah meliputi tiga kegiatan yang dilakukan secara bersamaan yaitu:

  1. Menyembelih binatang aqiqah,
  2. Mencukur rambut kepala anak dan
  3. Memberikan nama yang baik kepada anak.

Waktu Pelaksanaan Aqiqah Bayi

Di Hari Ke-7 Setelah Kelahiran

Waktu yang paling diutamakan untuk melangsungkan acara aqiqah adah hari ke-7 setelah kelahiran sibayi.

Umumnya acara ini dsertai dengan pencukuran rambut dan pemberian nama si bayi.

Pendapat ini didasari oleh hadist:

waktu-aqiqah

Menurut Madzhab Maliki gugur tanggung jawab orang tua untuk mengaqiqahi apabila orang tua tidak mengaqiqah anaknya hingga melebihi hari ke-7

Aqiqah Di Hari Ke-7,14 Dan 21

Mengenai waktu yang diperbolehkan untuk melakukan Aqiqah, Imam Hambali memiliki perbedaan pengertian dengan Imam Maliki.

Mereka berpendapat bahwa aqiqah tidak harus dilakukan di hari ke-7.

Apabila orang tua belum bisa melakukan aqiqah di hari-7, maka boleh mengundurnya hingga hari ke-14 atau ke-21.

Pendapat ini didasari oleh dalil:

pengertian-dan-tata-cara-aqiqah

Sebelum Anak Baligh

Dan Madzhab Syafi’iyah memiliki kelonggaran yang lebih tentang waktu yang tepat untuk melakukan aqiqah.

Yaitu asal bayi belum baligh, bisa dilakukan pada hari ke-7, ke-14 dan ke-21 atau bahkan hari sesudahnya.

Dalam madzhab ini kewajiban orang tua untuk melakukan aqiqah gugur saat bayi sudah baligh.

Hewan Aqiqah

Di Indonesia, hewan aqiqah yang biasanya dipilih antara lain:

Kambing

Kambing banyak disinggung dalam beberapa hadist. Menurut sebagian pendapat di kalangan ulama Mazhab Syafi’i, beraqiqah menggunakan kambing akan lebih afdhal dibanding dengan binatang yang lain.

Domba

Domba pernah dipergunakan oleh baginda Rasulullah Shallallahu`alaihi Wa Sallam, ketika mengaqiqahkan cucunya Hasan dan Husain.

Jumlah Hewan Aqiqah Bayi

Dalam penentuan jumlah hewan aqiqah pun ulama berbeda pendapat.

Untuk anak laki-laki disembelih dua ekor dan untuk anak perempuan disembelih satu ekor kambing.

Berdasarkan hadits :

Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah Shallallahu`alaihi Wa Sallam memerintahkan agar menyembelih aqiqah untuk anak laki-laki dua ekor kambing dan untuk anak perempuan seekor kambing. (HR. Tirmidzi)

Baca Juga:  Kurban: Pengertian, Manfaat, Syarat Orang, Hewan Kurban, Hukumnya

Untuk anak laki-laki boleh disembelih satu ekor saja. Berdasarkan Hadits:

Dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah Rasulullah Shallallahu`alaihi Wa Sallam mengaqiqahkan cucunya Hasan dan Husain bin Ali masing-masing seekor domba (kambing kibas). (HR. Abu Dawud)

Syarat Hewan Aqiqah Bayi

Ada beberapa syarat hewan aqiqah yang harus dipenuhi dalam melaksanakan ibadah aqiqah, diantaranya:

  • Hewan tidak cacat.
  • Hewan tidak buta, pincang, telinga dan ekornya tidak terpotong lebih dari sepertiga bagian.
  • Cukup umur.
  • Jika kambing, kira-kira berumur satu tahun atau lebih.
  • Jika Domba, kira-kira berumur enam bulan atau lebih

Hukum Aqiqah Bayi

Para ulama berselisih pendapat tentang hukumnya. Sebagian ada yang mewajibkannya namun mayoritas mengatakan sunnah.

  1. Aqiqah Hukumnya Wajib

    Salah satu ulama yang mengatakan bahwa hukum aqiqah adalah wajib bagi orang tua si bayi adalah Syaikh Abdul Azhim Syaikh Abdul ‘Azhim Al Badawi Rahimahullah dalam kitab Al-Wajiiz.

    Dari Salman bin Amir adh-Dhabby Radhiyallahu’anhu, ia bertutur:

    “Saya pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,”Bersama seorang anak itu ada ‘aqiqahnya. Karena itu alirkanlah darah untuknya dan singkirkanlah gangguan darinya.”

    (Shahih Ibnu Majah no:2562u Fathul Bari IX: 590 no 5472,‘Aunul Ma’bud VIII:41 no:2822u Tirmidzi III: 35 no:1551 dan Nasa’i VII:164)

  2. Hukum Aqiqah Sunnah, Menurut Beberapa Ulama

    Aqiqah adalah sunnah muakkadah (sunah yang dianjurkan) hal ini diungkapkan oleh Syaikh Utsaimin Rahimullah.

    Gugur kewajiban (sunnah aqiqah) jika orang tua si bayi termasuk golongan orang tidak mampu.

    Sedangkan menurut Imam Ahmad Rahimahullah menyebutkan bhawa Aqiqah adalah sunnah Rasulullah SAW.

    Karena nabii pernah melakukan aqiqah untuk cucunya hasan dan Hushain, dan hal ini juga diiukuti oleh para sahabat.

    Dan Dari Hasan bin Samurah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

    Semua anak yang lahir tergadaikan dengan ‘aqiqahnya.
    (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa’i).

    Sehingga tidak patut, jika seorang bapak tidak melakukan ‘aqiqah untuk anaknya. (Al Muntaqa Min Fatawa Syaikh Shalih Fauzan (3/194)).